Awan Terakhir Musim Semi
Tak mengapa
Kutelan kecewa dan lukaku ini
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak mengapa
Demikian pula
Suaramu yang berceceran di halamanku
Ku sapu setulus hati
Dan jejakmu
Ku tutupi dengan sisa rasaku padamu
Setelah hujan mengering
Aku sudah selesai berkemas
Untuk pergi menemui cuaca baru
Lagian musimmu sudah berakhir di tempatku
Dan akan ada musim baru yang memelukmu di kala musim dingin menerpa
Sedari awal akulah gerimis kecil
Yang mengganggu harimu
Yang kadang berserakan di waktu santaimu
Yang mau tak mau menjadikanmu kenal denganku
Sekarang ceritamu dan ceritaku telah usai
Ku harap kita menjadi sepasang bunga baru
Yang tak saling tahu menahu
2023
Dalam Hatiku Namamu tak Semegah Dulu Lagi
Dalam hatiku namamu tak semegah dulu lagi
Kabar bahagiamu tak semeriah dulu lagi
Bahkan kedatanganmu adalah kedatangan air ketika dahaga menggema
Dan hilang
Aku tidak menemukan hal – hal yang menjadikanmu lebih Baru dari luka
Serupa orang – orang yang tak heran
Kepada hari dan malam yang bergantian
Meskipun kamu tidak kembali
Aku akan tetap dalam jalanku yang sama
Setelah hari – hari terjeda
Mengapa kamu kembali
Bukankah sudah kau dapati
Seseorang yang telah kau sukai ?
Sejak awal kita hanyalah petualang
Yang hanya ingin mengenal
Bukan rembulan dan matahari yang saling melengkapi
Aku sudah tidak mendoakan namamu lagi
Bukan seperti waktu itu
Ketika hariku dipenuhi bau yang wangi
September 2023
Namamu Resmi sebagai Kenangan
Diam – diam aku memandang mu dari jauh
Dan sialnya
matamu selalu menemukanku
Bukankah semak belukar yang jadi penghalang begitu gelap dan senyap
Mengapa begitu ?
Kadang juga
Aku sering mengintip fotomu
Yang terpajang di sepanjang genggamku
Tapi mengapa begitu ?
Bukankah hatiku mengakui
Bahwa aku tak akan lagi merindukanmu ?
Hati begitu misteri
Ia rela melahap janji
Yang sudah terpahat abadi
Demi cinta yang tak pernah pasti
Gadis jendela
Seperti lalu – lalang orang di stasiun kereta
Pergi dan kembali
Di jendela kamarmu
Aku sering mengintip mu dari jalan sekitar rumahmu
Berharap akan ada rambut tergerai indah
Tangan halus melambai
Dan baju santai yang menutup
Hari bergantian
Waktu berjalan
Jendela mu tak lagi mengeluarkan gairah penasaran
Daun – daun yang mengetuk jendela
Berubah menjadi kelabu tua
Seperti usia senja
Seperti orang – orang di terminal
Lalu – lalang dan hilang
Di jendela kamarmu
Aku bayangan yang diterangi cahaya
Malang 2023
Gadis Kunang – kunang
Samar – samar
Langit menurunkan gerimis
Seperti kaki burung di reranting pohon
Menetes melewati atap berombak
Jari – jarimu mengibaskan Tetes kecil
Dengan gerak kecil pula
Perciknya mengenai wajahku
Kau tertawa kecil dan usil
Sementara aku berdecak kesal dan sebal
Sebab pakaian yang kupakai basah
“Apaan sih”, suaraku mengusik dirimu
Dan kamu tetap dalam kebiasaan yang baru kau temui itu
Tertawa kecil dan usil
“Sebentar lagi hari akan mengering, dan ia akan datang menjemputku dengan tenang”
Ucapmu dengan mendung
Aku tidak mengetahui bahwa tanganmu telah menggenggam telapak yang dekat denganmu sementara asing denganku
Samar – samar badai bergemuruh di dadaku
Menelan segala harap yang hinggap di namamu
Begitupun matahari
Tiba – tiba menjadi senja dan tiada
Malang 2023
Yang tak Pernah Hilang di Matamu
Semula adalah bunga wangi
Menebar ke segala arah
Menjadi sungai indah
Melebar ke ruas – ruas bumi
Kemudian kabar angin
Dari rimba kecil
Di laci mejamu
Yang tersimpan rapi di masalalu
Yang terpahat nyaris abadi
Ia berbisik
“Ini aku, adakah rasamu berubah ?”
Dan kau tersenyum manis
Mendengar ia kembali meski tidak untuk menyatu lagi
Seperti lampu
Cahayaku menjadi redup
Tenggelam pada dasar yang gelap
Hitam dan pekat
Dan segalanya tampak kelabu
Segalanya tampak kelabu
2023
Kalimat Maaf untuk Peri Tionghoa
Dik, sebelum malammu menggelap
Dan cahaya lampu di kamarmu mati
Aku ingin berkata “maaf”
Maaf telah menjadikanmu serupa botol plastik
Maaf telah menjadikanmu jendela darurat
Maaf telah menjadikanmu hangat kopi yang sesaat
Ada yang mesti kau tau
Bahwa yang tersisa dari suaramu
Adalah kasih ibu melihat anak – anak tak dapat menyamakan diri dengan yang lain
Bahwa rasa kesal dan bebal
Mengelus pelan di hati ini
Dan ketika suaramu hinggap di tangan yang lain
Ku dengar sesosok gadis berwajah peri
Menggelinding dalam gerimis di pipi
Dik, ku katakan kepadamu “maaf” untuk berkali – kali
Malang, 2023
Safari Maulidi: Alumni Pondok Pesantren Annuqayah. Berasal dari desa Guluk – Guluk barat, Sumenep Madura. Lahir di Pamekasan, dan tumbuh di Sumenep. Penyuka sastra yang sedang belajar berkarya. Sedang kuliah di universitas









