Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon

Fathurrozi Nuril Furqon

Kamis, 9 November 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ongghe

I

Mengapa memilih lambaikan tangan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lalu menutup pintu kemungkinan

Sawah ranggas di tepi sungai

Dihatamkan nemor

Seumpama gelandangan mengemis perhatian

“Tahun-tahun memeras air

Dan musim yang jadwalnya berantakan

Mempermainkan sungai di retina petani”

II

Sawah-sawah sekarat

Menunggu kafan dan yasinan

Pemiliknya ongghe

Ke seberang lengan Suramadu

Melotre nasib

Di antara menara-menara kota

Dan Madura yang sunyi hutan bambu

Telah begitu akrab dengan kehilangan

Seakrab kehilangan daun

Dengan embun di rusuknya

Baca Juga :  Setelah Jejakmu Hilang

Sumenep, 2023

Bertahun Setelah Kebakaran

Hutan warna merah neraka

Bakar usia bumi renta

Di atas kasur ku bersiap bermimpi

Masa depan yang perlahan dilalap api

Jangkrik, capibara, sapi, terpanggang

Tersaji di meja jamuan Azaril

Dan daging hilang dari daftar menu restoran

Sebab ia tinggal kata di laci ingatan

Maka manusia ditikam

Oleh abu hutan

Dengan kehilangan

Yang pilu

Sumenep, 2023

Ciliwung

Ciliwung adalah waktu

Berhulu di Mandalawangi,

Direkamnya setiap tahun yang mengalir

Dalam sunyi alirnya.

Wajah-wajah datang pergi

Baca Juga :  Kemana Rasa ini Harus Ditautkan

Masa-masa tumbuh runtuh

Dan ia adalah keheningan yang bersaksi,

Catatan yang terus mengabadikan kata

Yang tertinggal dari jasad almanak tua.

Ia bom yang tabah.

Tanggal-tanggal pecah

Ia tak pernah berkeluh kesah

Dibiarkannya yang di hulu dan hilir

Memerkosanya dalam berbagai cara.

Sebab jika tiba saatnya

Arwah Prabu Haliwungan akan tiba

Sebagai sangkakala.

Tanah menutup pintu

Sementara guntur memecah awan

Hingga berlesatanlah peluru-peluru hujan

Menuju bumi yang telanjang

Menuju bumi yang tak berperisai.

Maka jika telah bercumbu apa yang di langit dan di bumi,

Baca Juga :  Puisi-puisi Dhimas Bima Shofyanto

Ciliwung akan menggulung mengamuk

Menerjang rumah dan taman

Juga toko dan jalan

Setelahnya biarkanlah segenap media

Menggaungkan luka seantero kota

Sumenep, 2023

Demo Tiba

Kota-kota terbakar

Jalan-jalan bergetar

Merebak warna ahmar

Pada wajah berkobar

Cinta palsu

Diberanguskan kata-kata

Kebenaran yang biru

Datang bagai ombak segara

Gedung meringkuk

Antara padat jalan

Massa kecamuk

Menggaungkan fajar pembaruan

Segala yang tersembunyi

Ditelanjangi huru-hara

Lalu meledaklah api

Merayapi jengkal singgasana

Sumenep, 2023

Berita Terkait

Puisi-puisi Wail Arrifqi
Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum
Puisi-puisi Renata Xalisa Putri
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:01 WIB

Puisi-puisi Wail Arrifqi

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:15 WIB

Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:57 WIB

Puisi-puisi Renata Xalisa Putri

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:38 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:36 WIB

Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum

Berita Terbaru

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin (Foto: Istimewa)

Nasional

HUT Ke-81 RI Diawali Doa dan Zikir Kebangsaan

Selasa, 28 Jul 2026 - 17:25 WIB

(Ilustrasi: Istimewa)

Puisi

Puisi-puisi Wail Arrifqi

Selasa, 28 Jul 2026 - 17:01 WIB