Oleh | Kresna Abista Pramana
ESAI, NOLESA.COM – Risda Nur Widia merupakan seorang penulis sastra yang lahir di Nusa Tenggara Barat pada 23 November dan kini ia menetap di Yogyakarta. Ia menamatkan gelar sarjana di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta dan gelar masternya di Universitas Negeri Yogyakarta.
Kini ia sedang melanjutkan studi Doktoral Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Risda telah menulis berbagai karya sastra mulai dari kumpulan cerpen hingga novel. Karya-karya yang ditulis olehnya banyak dimuat diberbagai media lokal maupun nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak sedikit karyanya mendapatkan penghargaan hingga di tingkat nasional. Risda pernah meraih juara 2 Sayembara Menulis Cerpen Tingkat Nasional Katergori Umum, Festival Sastra, Keluarga Besatr Universitas Gadjah Mada pada tahun 2013. Ia juga pernah masuk nominasi sepuluh besar Menulis Cerpen Profetik Antar Mahasiswa se-Indonesia oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhamadiyah Prof. Dr. HAMKA pada tahun 2013. Selain itu, ia juga pernah menerima anugrah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayan Indonesia pada tahun 2015. Di tahun yang sama pada tahun 2015, Risda juga berhasil menerbitkan buku tunggalnya yang berjudul Bunga-Bunga Kesunyian.
Novel terbaru Risda yang terbit pada tahun 2023 lalu juga masuk dalam 10 besar nominasi buku sastra kategori prosa pilihan tempo. Novel tersebut berjudul Membunuh Harimau Jawa. Majalah tempo tidak salah memilih novel ini untuk menjadi prosa terbaik tahun itu karena karya sastra ini menghadirkan banyak kejutan dalam penceritaannya.
Melalui judulnya saja kita dapat menilai bahwa novel ini akan menceritakan tentang pemburuan Harimau Jawa pada saat masa kolonial terdahulu. Novel ini memiliki sampul dominan berwarna putih dengan ilustrasi empat orang londo dan dua orang pribumi yang sedang membawa tembakan dan golok. Tampak sampulnyapun menambah yakin bahwa novel ini berlatar masa kolonial Belanda.
Selain dominasi warna putih, pada bagian bawah novel ini terdapat corak kulit harimau yang terbentang hingga bagian belakang sampul buku. Corak ini menambah keindahan dan kesesuaian sampul dengan isi yang akan diceritakan sehingga pembaca akan tertarik dengan novel ini hanya melalui sampulnya saja. Namun, apakah novel yang memiliki 156 halaman ini benar-benar bercerita tentang pemburuan Harimau Jawa pada masa kolonial Belanda? Novel ini berisi 12 bab yang memiliki kesinambungan diantaranya. Jawaban dari pertanyaan diatas tadi dapat ditemukan jika pembaca membaca novel ini secara keseluruhan. Akan ada berbagai adegan dan cerita yang menarik disetiap babnya.
Risda mengawali novel ini dengan “Pagi itu, ditemukan dua mayat dengan tubuh terkoyak ditemukan di tepi Jembatan Merah yang sedang dibangun pada wilayah Pajang. Darah segar berceceran disekitar mayat tersebut, membasahi rerumputan, bunga liar, dan tanah; mengeluarkan aroma amis yang pekat. Bagian-bagian tubuh mereka banyak yang menghilang.” (Widia, 2023:1). Dari kutipan diatas, penulis menggambarkan suasana yang tegang dan dramatis untuk mengawali novel ini. Mulai bagian awal saja, penulis berani untuk mengeluarkan adegan yang mengenaskan untuk menambah kesan dramatis saat membaca novel ini. Hal ini membuat pembaca seakan-akan bertanya “Sebenarnya siapa yang membunuh mereka?” hingga munculah spekulasi bahwa harimaulah yang membunuh kedua warga tersebut. Pada bagian pertama penulis menjelaskan bahwa latar pada novel ini mengambarkan disebuah desa yang terletak di Yogyakarta yang bernama Desa Pajang. Dalam hal ini, bisa menambah pembaca untuk berimajinasi, “Apakah Desa Pajang berada di pinggir hutan?”
Pada bagian awal dalam novel ini, penulis menceritakan dan menggambarkan sang tokoh utama dalam novel ini yaitu Meneer Dedrick. Penulis menggambarkan secara detail dari Dedrick kecil hingga dewasa dan bagaimana bisa Dedricik menjadi bagian penting dari Desa Pajang. Dengan epik dan rapi, penulis menjelaskan kronologi perjalanan Dedrick berkelana. Penulis juga padai mengemas masa kecil tokoh utama yang menjadi anak nakal dan karena kenakalannya tersebut Dedrick kecil harus dikeluarkan dari sekolahnya. Pengambaran tokoh orang tua Dedrick yang kewalahan menghadapi anaknya. Hingga pada akhirnya, Dedrick diserahkan kepada pendeta di gereja untuk mengabdikan dirinya di gereja dengan harapan watak dan sifat buruknya itu dapat sembuh. Namun, bukannya berubah menjadi anak yang baik Dedrick bahkan bersikap sebaliknya. Ia berulah digereja dan menarik uang iuran gereja secara ilegal tanpa sepengetahuan pendeta. Karena perbuatan itu, pendeta yang dipercayai oleh orang tua Dedrick merasa tidak sanggup dengan Dedrick dan menyerahkan kembali kepada orang tuanya. Bukannya kembali ke orang tuanya, Dedrick yang nakal itu malah kabur meninggalkan orang tuanya. Dalam ke pergian Dedrick yang tidak jelas arahnya, suatu hari ia bertemu seseorang tokoh yang mengubah kisah hidupnya hingga menjadi orang yang menguasai Desa Pajang.
Pada bagian berikutnya menceritakan bagaimana Meneer Dedrick yang kewalahan dalam merawat sawah dan perkebunan yang sangat melimpah. Meneer Dedrick yang dibantu oleh jongosnya yang bernama Darmo. Darmo sangat setia kepada Meneer Dedrick. Ia sudah lama menjadi tangan kanannya Meneer Dedrick. Kekayaan Meneer Dedrick memang hasil usahanya. Namun, ada sebuah rahasia besar dibalik melimpahnya perkebunan dan persawahan milik Meneer Dedrick. Risda sangat pandai dalam menyusun alur cerita. Dalam bagian ini, saya sempat terkecoh dengan cerita yang disajikan. Menariknya, setiap bagian diberikan sentuhan kejutan yang diberikan oleh penulis.
Pada bagian berikutnya, penulis menggambarkan tokoh pendamping Meneer Dedrick yaitu Darmo. Pada bagian ini, penulis mengisahkan perjalanan Darmo sejak kecil hingga menjadi tangan kanan Meneer Dedrick. Kisah Darmo tidak jauh beda dengan tuannya. Darmo sejak kecil digambarkan tokoh yang menyusahkan orang tua. Bahkan saat ia menginjak kedewasaannya, ia berani membunuh orang. Orang pertama yang ia bunuh adalah seorang laki-laki yang dijodohkan dengan pacarnya. Sejak saat itu ia meninggalkan desanya karena menjadi buronan oleh Bapak dari pria yang ia bunuh. Hingga pada suatu hari, Bapak dari pria yang dibunuh Darmo mengetahui keberadaannya di Desa sebelah. Darmo dan rombongan dari Bapak pria itu bertarung hingga babak belur dan memakan korban. Pertarungan tersebut dimenangkan oleh Darmo. Setelah pertarungan itu Darmo mengalami luka parah dan berdiam diri di dalam hutan. Pada akhirnya Meneer Dedrick menemukan Darmo dihutan dengan keadaan setengah sadar karena luka-lukanya. Dari situ Darmo mulai mengabdikan dirinya kepada Meneer Dedrick.
Pada akhir cerita novel ini, terjadi kematian empat orang yang menjaga desa malam itu. Kejadian itu menggegerkan seluruh penduduk desa karena ditemukan seorang mayat yang mati tercabik-cabik dan ada satu tangan yang terputus tanpa badan. Kepala Schouten yaitu Van Barend datang untuk menyelidiki kasus tersebut. Naasnya saat memasuki hutan, anak buah Van Barend pingsan tertabrak kijang liar yang lari terbirit-birit. Selanjutnya disusul Van Barend yang tewas diterkam harimau. Tinggal Darmo dan Menner Dedrick yang tersisa. Pada saat itu Darmo menghabisi tuannya itu dan membeberkan rencana liciknya. Namun sayang, rencana liciknya tidak berjalan dengan lancar dan hampir saja saya menuduh bahwa Darmo sebagai pelaku yang merupakan tokoh licik yang bertahan lama dalam bingkai pengisahan Risda. Namun ternyata tidak, Risda pandai sekali mengecoh pembaca. Pada akhir babak penceritaannya Darmo tewas diterkam oleh harimau jawa.
Karya sastra seperti novel yang ditulis oleh penulis biasanya memiliki fungsi atau tujuan tertentu dalam penyampaiannya. Berbagai pendekatan dapat digunakan untuk memahami dan mengungkap makna yang ingin disampaikan. Pendekatan yang biasanya digunakan untuk membahas hal tersebut adalah pendekatan yang berhubungan langsung dengan lingkungan. Ekokritik merupakan studi yang menyelidiki bagaimana manusia menyajikan serta mendeskripsikan keterkaitan antara manusia dan lingkungannya dalam ekspresi hasil budaya (Khomisah, 2020). Konsep ini berkembang sebagai respons terhadap krisis ekologi global dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keterlibatan budaya dalam isu lingkungan. Melalui hal ini ekokritik berperan sebagai jembatan antara dunia sastra dengan dunia nyata yang sedang mengalami sebuah masalah.
Pada masa kolonial penjajahan Belanda di Indonesia, rasisme dan diskriminasi adalah suatu hal yang tidak dapat terpisahkan dalam struktur sosial dan ekonomi yang dibangun oleh pemerintah Belanda. Sejak diberlakukannya Regalings Reglement (RR) pada tahun 1854, masyarakat Hindia Belanda secara resmi dibagi menjadi tiga golongan ras utama: orang Eropa (terutama Belanda), pendatang asing dari Timur seperti Tionghoa dan Arab, serta golongan pribumi (Asrul, dkk. 2024). Ketiga golongan ini dikelompokkan bukan hanya dari perbedaan ras saja. Namun bisa melalui kombinasi struktur sosial, ekonomi dan politik yang saling terkait. Bahkan perumahan, perkebunan dan perkerjaan diatur melalui ras yang ada. Misalnya pada bangsa Belanda yang menjajah saat itu, mereka akan tinggal menikmati kekayaan yang ada saja. Sedangkan, pribumi hanya diizinkan untuk mengerjakan pekerjaan kasar seperti buruh kebun, asisten rumah tangga dan lain sebagainya.
Sama halnya dengan kisah yang ditulis oleh Risda pada novel ini. Rakyat asli desa itu harus mematuhi seorang Londo yang datang di desa mereka. Londo tersebut yang bernama Menner Dedrick. Pada mulanya ia hanya berniat untuk menyalurkan hobinya sebagai pemburu. Ia berburu di hutan Desa Pajang yang terkenal sebagai hutan yang memiliki hewan liar yang beragam. Suatu ketika ia memilih untuk bermukim di desa itu dan melakukan perdagangan bersama masyarakat desa. Sifatnya yang angkuh dan sombong membuat masyarakat Desa Pajang tidak menyukainya. Ketidak sukaan warga terhadap Londo itu semakin menjadi ketika salah satu anak dari warga desa menjadi sasaran empuk anjing milik Menner Dedrick. Sikap Londo itu hanya acuh pada kejadian yang sedang terjadi. Hal ini membuat warga desa geram atas sikapnya.
“Kita sudah lama tinggal di sini. Dia tidak bisa semena-mena begini.” (Widia, 2023: 77)
Pada kutipan ini masyarakat Desa Pajang merasa sikap Londo itu sudah kelewatan. Mereka merasa Londo itu adalah orang baru di desa mereka tapi sikapnya sama sekali tidak menghargai keberadaan mereka. Hal ini membuat warga desa berniat untuk membunuh Menner Dedrick.
“Mereka hanya akan menjadi pembantu dirumah ini,” ungkap Menner Dedrick mengerluarkan air mata liciknya lagi. (Widia, 2023: 82)
Kutipan ini menunjukkan bahwa sebagai pribumi hanya bisa menjadi pembantu dirumah seorang Londo. Jika mendapat jabatan yang lebih tinggi, mungkin akan bernasib seperti Darmo yang menjadi orang kepercayaan Menner Dedrick. Namun sebenarnya jika ditarik garis, pribumi masa itu sama dalam artian menjadi budak di negara sendiri.
Dalam setiap karya sastra tentunya memiliki unsur-unsur penting yang membentuk keutuhan sebuah karya sastra. Unsur-unsur penting tersebut biasanya dibagi dua unsur utama, yaitu unsur intrinsik dan unsur ektrinsik. Unsur intrinsik sendiri merupakan unsur yang berasal dari dalam karya sastra itu sendiri dan berperan dalam membangun karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik khususnya novel, yaitu tema, tokoh, penokohan, alur, latar, gaya bahasa, sudut pandang, dan amanat (Pratiwi. dkk, 2022). Salah satu unsur intrinsik yang berperan penting dalam menentukan arah dan makna sebuah karya sastra adalah tema. Tema atau bisanya disebut dasar cerita merupakan pokok permasalahan yang mendominasi dalam sebuah karya sastra (Suprapti, 2021). Pada hakikatnya tema sebagai dasar pengembangan cerita sekaligus menjadi benang merah dari keseluruhan permasalahan yang disampaikan oleh penulis.
Secara garis besar tema yang diangkat adalah kekuatan kekuasaan seorang meneer Belanda yang saat itu hidup di sebuah desa. Meneer tersebut merupakan warga pendatang di Desa itu namun ia semena-mena dengan warga sekitar. Pada saat masa Hindia Belanda dulu, banyak orang Belanda yang tinggal bersamaan dengan warga pribumi. Dari hal tersebutlah dapat dicocokan dengan situasi yang diceritakan oleh Risda. Untuk menemukan tema ini tidak cukup membaca hanya satu atau dua bab saja. Karena dalam setiap bagian dalam novel ini berkaitan dan juga berkesinambungan. Maka dari itu, pembaca dituntut untuk membaca novel ini secara berurutan dari bagian satu ke bagian lainnya agar menemukan tema yang diceritakan dalam novel tersebut dan tidak ada yang terlewat.
Abrams (dalam Nurgiyantoro. 2024) menjelaskan bahwa latar atau setting disebuh juga sebagai landas tumpu yang menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu sejarah, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan. Pada Novel Membunuh Harimau Jawa ini memiliki berbagai latar di dalamnya. Penulis menyajiakan latar tempat dan sosial yang berbeda dan memadukan kedua hal tersebut sehingga berkesinambungan. Perpaduan antara latar saat Indonesia memasuki masa kolonial penjajahan dan latar asli penduduk lokal terlihat pada novel. Penulis menggambarkan latar tempat saat Indonesia memasuki masa kolonial dapat terlihat di dalam beberapa bagian yang menggunakan bahasa campuran khas logat orang belanda saat itu. Dan penggunaan nama-nama kota di Indonesia masih menggunakan nama saat masa kolonial belanda. Misalnya pada kutipan berikut.
“Aku berencana turun di Soerabaja,” ungkap Meneer Dedrick. (Widia, 2023: 24)
Pada kutipan di atas sangat terlihat penggunaan ejaan nama kota yang digunakan oleh penulis menggunakan ejaan nama kota saat masa kolonial. Pada saat masa pendudukan Belanda di Nusantara, Kota Surabaya di sebut Sorebaja. Nama Indonesia sendiri waktu kependudukan Belanda bernama Hindia Belanda. Dalam hal ini, penulis pandai memilih kata-kata yang khas zaman kolonial Belanda. Menurut saya, ini adalah sebuah ide yang cukup menarik. Karena tidak semua orang zaman sekarang mengetahui nama-nama kota di Indonesia saat zaman kolonial Belanda. Hal ini dapat menambah pengetahuan baru bagi pembaca.
“Londo Asu!” pekik salah satu penyerang dengan mengayun-ayunkan parangnya. (Widia, 2023: 78)
Selanjutnya, penulis menghadirkan dialog asli masyarakat lokal saat itu. Penggunaan dialog masyarakat lokal yang mana pada novel ini menggunakan dialog khas masyarakat jawa. Penulis menunjukan latar Indonesia melalui dialog tersebut. Penulis juga menggambarkan aktivitas masyarakat jawa saat itu dan penggunaan dialog saat berkomunikasi. Penggambaran latar asli masyarakat lokal terdapat pada bagian kelima. Pada bagian ini menggambarkan warga Desa Pajang yang tidak terima dengan perlakuan semena-mena Meneer Dedrick di Desa mereka.
Pada sebuah novel tentunya memiliki tokoh yang berperan penting dalam jalannya cerita. Istilah tokoh merujuk pada orangnya, pelaku dalam cerita, misalnya sebagai jawaban terhadap pertanyaan: “Siapakah tokoh utama novel itu?” atau “Ada berapa jumlah tokoh dalam novel itu?”. Watak, perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh (Nurgiyantoro, 2024). Penggunaan tokoh yang kuat membuat cerita lebih menarik dan membantu pembaca memahami alur cerita. Kehadiran tokoh dibutuhkan untuk menyampaikan pesan atau tema cerita. Penokohan juga merupakan salah satu unsur penting untuk membangun sebuah struktur yang kehadirannya sangat diperlukan dalam cerita (Amidong, 2018).
Tokoh-tokoh dalam cerita fiksi sering dibagi menjadi beberapa jenis, misalnya tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2024). Biasanya tokoh utama paling sering muncul dan sering diceritakan. Sedangkan tokoh tambahan tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita dalam porsi penceritaan yang relatif pendek (Nurhidayati, 2018). Dibandingkan tokoh utama, tokoh tambahan relatif jarang muncul atau muncul dalam beberapa konflik atau latar saja. Tokoh tambahan juga penting dalam sebuah cerita. Tokoh tambahan berperan membantu peran tokoh utama dalam sebuah alur cerita.
Sesuai dengan penjelasan di atas, pada novel Membunuh Harimau Jawa memiliki beberapa tokoh yaitu Menner Dedrick, Darmo, Van Barend, dan berbagai tokoh pembantu lainnya. Tokoh-tokoh ini membantu membangun cerita menjadi semakin kompleks. Penyampaian tokoh dalam novel ini sangat detail. Pembedaan antara tokoh utama dan tokoh tambahan sangat terlihat dalam novel ini. Menner Dedrick dan Darmo menjadi highlight utama pada novel ini. Peran sebagai tokoh utama terlihat jelas karena dari awal hingga akhir kedua tokoh ini sering muncul hingga keduanya memiliki bab tersendiri untuk menceritakan lebih detail dari kecil hingga dewasa.
”Seorang tuan tanah yang dikenal sebagai Menner Dedrick.” (Widia, 2023: 2)
Kutipan di atas ini menunjukkan awal dikenalkannya Menner Dedrick sebagai tuan tanah di Desa Pajang. Menner Dedrick dihadirkan sebagai tokoh utama dalam novel ini. Penggambaran tokoh Menner Dedrick ini sebagai tokoh utama juga ditunjukkan pada bagian kedua dalam novel ini, karena pada bagian tersebut adalah bagian yang menceritakan kehidupan awal Menner Dedrick hingga ia menjadi tuan tanah di Desa Pajang.
“Darmo, yang pagi itu melintas dengan sepedanya di sekitar tempat kejadian, adalah orang pertama yang menemukan kedua mayat itu.” (Widia, 2023: 2)
Seperti halnya Menner Dedrick, ia dikenalkan sebagai tokoh utama karena ia menjadi jongos Menner Dedrick. Ia adalah orang kepercayaan Menner Dedrick yang selalu mendampinginya di manapun Menner Dedrick pergi. Sama dengan Menner Dedrick, pada bagian keempat juga menceritakan kisah hidup Darmo dari ia lahir hingga ia menjadi orang kepercayaan Menner Dedrick. Namun pada akhir penceritaannya, tokoh Darmo tidak sesuai apa yang kita bayangkan saat membaca pada bagian awal. Ia ternyata memiliki maksud tersembunyi dibalik kesetiaannya pada tuannya.
Penciptaan sebuah karya sastra, pengarang juga harus tahu, bagaimana dia akan membawakan cerita tersebut kepada pembaca. Di sinilah peran sudut pandang penting dalam sebuah penceritaan. (Heryningtyas. dkk, 2021) mengungkapkan bahwa sudut pandang dalam karya fiksi mempersoalkan tentang siapa yang menceritakan atau dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Dalam novel Membunuh Harimau Jawa ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. Pengisahan cerita yang menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan gaya “dia”, narator adalah orang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita yang menyebut nama atau kata gantinya seperti ia, dia dan mereka. Risda sebagai penulis novel ini berperan menjadi narator yang menceritakan tokoh-tokoh dalam novel ini.
“Setelah Menner Dedrick pindah ke wilayah Pajang, ia tidak lagi terobsesi untuk berburu,” (Widia, 2023: 122)
Pada kutipan ini merupakan bukti bahwa sudut pandang yang digunakan penulis adalah sudut pandang orang ketiga. Penggalan dialog tersebut menunjukkan bahwa penyebutan nama “Menner Dedrick” dan kata “ia” adalah bukti dari penggunaan sudut pandang orang ketiga. Peran penulis pada novel ini adalah narator.
Selain beberapa unsur yang sudah dibahas di atas, dalam sebuah karya sastra juga memiliki nilai moral dalam unsur utama dari pembentuk karya sastra. Melalui peran tokoh, konflik dan peristiwa yang terjadi, seorang penulis juga menyisipkan pesan moral yang dapat dijadikan pembelajaran bagi pembaca. Nilai-nilai moral ini adalah aspek positif dan negatif dari suatu kegiatan, apa yang harus dilakukan atau dihindari untuk menghasilkan tatanan sosial dan manusia yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat bagi individu, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar (Nurlinda. dkk, 2024). Dalam novel Membunuh Harimau Jawa ini mengingatkan kita dalam kejadian diskriminasi pribumi saat masa kolonial dulu. Terutama kita harus pandai dalam menghadapi masalah yang itu berdampak merugikan bagi kita. Novel ini mengandung banyak nilai sejarah yang dapat kita ambil. Sebuah sejarah penting kita pelajari agar kita tidak mengulang kesalahan di masa lalu.
Saat pertama kali saya memilih novel ini, saya benar-benar tidak membayangkan bagaimana isi dan alur ceritanya. Hingga saya menemukan buku ini disalah satu toko buku, sampul buku inilah yang mengalihkan perhatian saya. Sampul yang terlihat simple namum memiliki arti yang bisa mewakili isinya. Sayapun mulai menduga-duga sebenarnya novel ini bercerita tentang apa. Pada saat proses membaca dan mulai menyentuh bagian akhir, saya mulai sadar bahwa bagian cerita yang saya baca ini benar-benar mirip dengan sampul depan novel ini. Risda pandai dalam menyampaikan sepenggal ceritanya pada sampul depan. Menurut saya ini adalah salah satu hal yang membuat saya suka dengan novel ini.
Novel Membunuh Harimau Jawa ini berlatarbelakang saat masa kolonial yang mana tentunya banyak sekali istilah-istilah belanda yang digunakan. Tidak hanya istilah belanda, tetapi istilah jawapun sering digunakan dalam novel ini. Istilah-istilah yang kurang familiar tersebut membuat pembaca susah untuk memahami maksud dari cerita tersebut. Namun berbeda dengan novel ini, novel ini dilengkapi dengan penjelasan dari istilah asing tersebut yang terdapat di bagian bawah paragradi disetiap lembar. Jadi, dengan bantuan penjelasan di bagian bawah tersebut mempermudah pembaca saat memahami novel ini.
“Bangkai tiga harimau ini biar kami serahkan kepada Natuurkundige Commisse yang ada di Buitenzorg,” (Widia, 2023: 9)
Pada potongan dialog di atas, istilah Natuurkundige Commisse yang merupakan bahasa belanda dari komisi ilmu pengetahuan alam. Penjabaran arti tersebut terdapat dibagian bawah disetiap lembarnya.
”Di sisi sebrang, para bajingan dengan gerobak dan sapinya sudah menunggu untuk melanjutkan pengiriman tebu,” (Widia, 2023: 12)
Sama dengan istilah belanda yang dijelaskan sebelumnya. Pada potongan ini penulis menggunakan istilah ‘bajingan’ dalam kalimatnya. Bagi orang yang tidak mengetahui arti sebenarnya istilah ini mungkin akan menimbulkan pertanyaan seperti “Novel ini menggunakan istilah kotor di dalamnya,” tetapi saya yakin hal ini tidak akan terjadi, karena pada bagian bawah paragraf ini terdapat penjelasan mengenai istilah tersebut membuat pembaca lebih bisa memahami apa yang dimaksud. Istilah ini memiliki arti orang yang mengendarai gerobak sapi.
Pada saat saya membaca novel ini, saya merasakan banyak dialog-dialog campuran Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Jika kita tarik kebelakang saat masa kolonial dulu, banyak orang-orang belanda yang tinggal lama di Indonesia yang mengunakan bahasa campuran seperti itu. Hal tersebut digunakan karena orang-orang belanda saat itu sudah lama tinggal di Indonesia dan juga sebagai bentuk untuk memudahkan komunikasi mereka dengan para pembantu pribumi. Mungkin untuk beberapa pembaca akan merasakan keanehan dalam membaca dan memahami dialog campuran seperti ini. Namun, saya mengatakan ‘tidak’ untuk novel ini. Menurut saya, adanya dialog tersebut menambah sensasi yang berbeda saat membacanya. Pada saat membaca dialog campuran tersebut, seakan-akan merasakan si tokoh belanda tersebut berbicara dengan khas dan membawa sensasi ‘Hindia Belanda’ saat membaca novel ini.
“Koe punya nyawa adalah aku punya nyawa,” tegas Menner Dedrick begis. (Widia, 2023: )
Potongan dialog ini menunjukkan bahwa Menner Dedrick yang sedang berbicara kepada salah satu warga desa. Penggunaan kata ‘koe’ yang merupakan bahasa jawa dari kata ‘kamu’ digunakan oleh Menner Dedrick untuk berkomunikasi dengan warga sekitar. Hal ini dilakukan untuk mempermudah komunikasi dengan pribumi saat itu.
Novel Membunuh Harimau Jawa ini menurut saya adalah novel yang cukup menarik dan rekomen untuk dibaca. Kisah ini tidak semata-mata menyuguhkan cerita yang memikat, tetapi juga mengandung pesan-pesan moral yang mendalam bagi pembaca yang mencermatinya secara mendalam. Jika dibandingkan dengan novel-novel yang terbit sebelumnya, secara konsep dan tema mirip dengan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Memang tidak adil rasanya jika dibandingkan dengan novel mahakarya terbaik di Indonesia ini. Namun, jika dilihat dari tema dan isinya yang sama-sama menunjukkan sikap kolonial Belanda yang semena-mena terhadap pribumi. Pada novel Bumi Manusia tokoh Minke menjadi sorotan utama dalam isu-isu rasial dan diskriminasi. Meskipun ia memiliki banyak privilege sebagai pribumi dan anak bangsawan cerdas, interaksinya dengan masyarakat kolonial membuka matanya terhadap ketidaksetaraan dan isu-isu rasial. Jika dalam novel ini masyarakat Desa Pajang juga mendapatkan diskriminasi dari Menner Dedrick. Seorang Menner yang awalnya hanya berdagang dan berburu, namun berubah menjadi penguasa dari desa tersebut. Keduanya memiliki persamaan dalam lingkup kondisi sosial dalam latar cerita masing-masing.
Novel Membunuh Harimau Jawa ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Kisah yang diceritakan pada novel ini berdasarkan kisah yang mungkin dialami pada zaman dahulu oleh masyarakat Indonesia khususnya jawa yang kala itu mendapatkan momentum penjajahan oleh bangsa Eropa. Dalam novel ini digambarkan bagaimana semena-menanya orang Belanda yang hidup berdampingan dengan masyarakat lokal. Alur yang digunakan maju dan mundur. Alur ini menjadikan cerita pada novel ini menjadi menarik. Meski setiap bagian alurnya maju dan mundur, cerita yang disuguhkan penulis sangat berurutan dan berkesinambungan antar bagian. Dalam penceritaan di novel ini, penulis mengemas dengan tepat dan manis pengambaran watak dari masing-masing tokoh. Penulis menggambarkan watak tokoh melalui kisah yang diceritakan pada beberapa bagian. Beberapa bagian tersebut fokus pada pengisahan tokoh tersebut.
Novel Membunuh Harimau Jawa yang berisi berbagai pesan yang terkadung dalam penceritaanya. Selain itu, novel ini memiliki banyak istilah tempo dulu yang digunakan dalam novel ini. Hal ini dapat menambah pengetahuan pembaca akan istilah yang digunakan di masa lalu. Novel ini mengandung nilai sejarah yang tersirat dalam penyampaiannya. Memang fokus utama dari novel ini adalah watak dari salah satu tokoh yang licik dan mementingkan dirinya sendiri. Tetapi secara tidak langsung novel ini menyuguhkan suatu situasi yang terjadi saat masa kolonial dulu. Masa di mana penjajah yang menguasai tanah Indonesia sedangkan kami pribumi menjadi budak di negara sendiri. Hal ini dapat dijadikan pembelajaran bagi kita agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali di masa sekarang dan di masa depan.
*Mahasiswa PBSI Universitas Negeri Yogyakarta









