Melek Agama dan Politik Melalui Antologi Puisi Negeri Daging Karya Ahmad Mustofa Bisri

Shinta Faradina Shelmi

Sabtu, 25 November 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Puisi-puisi yang ditulis oleh Ahmad Mustofa Bisri di dalam antologi puisi berjudul Negeri Daging memiliki tema yang didominasi oleh kritik dan agama. Tema yang diangkat oleh penyair sesuai dengan dunia yang digelutinya.

Di dalam puisi-puisinya, Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih akrab dipanggil Gus Mus menggunakan diksi atau pilihan kata yang mudah untuk dipahami. Salah satu contohnya adalah frasa “kemunafikan dibudayakan” (puisi “Di Negerimu”), frasa tersebut dapat dengan mudah dipahami bahwa kemunafikan seakan-akan sudah menjadi budaya yang dilakukan oleh banyak orang.

Di dalam puisi ini, penyair mengutarakan sindiran kepada pemimpin negara yang melakukan tindak pidana korupsi demi kepentingan pribadi. Pemimpin negara yang seperti itu memiliki ambisi besar atas kekuasaan dan kesejahteraan hidup mereka tanpa memikirkan orang lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan pemilihan diksi yang tidak begitu sulit dipahami, terlihat sederhana namun memiliki makna mendalam menjadi salah satu ciri khas dari tulisan Gus Mus. Memang di zaman sekarang ini banyak orang yang rela menjadi munafik demi tercapainya tujuan individu.

Kritik tentang pemerintah yang diutarakan oleh Gus Mus pada 1987 rasanya terbukti semua sampai saat ini. Banyak pemerintah yang tidak amanah dengan tugas yang diembankan kepadanya. Hal tersebut diperkuat dengan frasa “membungkam kebenaran dan menyembunyikan fakta” (puisi “Negeri Teka-Teki”), dalam frasa itu tergambar bahwa banyak politikus yang rela melakukan apa saja termasuk membungkam kebenaran dan menyembunyikan fakta demi mencapai tujuan yang diinginkan.

Baca Juga :  Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Teka-teki di sini dapat diartikan sebagai aktivitas tebak-menebak dari banyaknya kasus politik yang terjadi di negara ini dan dalang yang sesungguhnya. Dalang yang ditampilkan di layar televisi belum tentu pelaku sesungguhnya bukan? Bisa jadi mereka-mereka yang tertangkap adalah boneka dari orang yang berada di balik layar.

Coba lihat, banyak kasus korupsi yang merugikan negara dengan jumlah tidak sedikit tapi hukuman yang diterima oleh pelaku tidak sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan. Pada dasarnya landasan hukum di Negeri ini sudah disusun dengan baik, namun pengimplementasian hukumnya yang kurang tegas dan memandang bulu.

Beberapa judul puisi Gus Mus dalam antologi puisi ini memiliki keterkaitan dengan hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Tuhan. Hal ini tercermin dalam kalimat “tak ada yang boleh memperhambaku kecuali Allah, tapi nafsu terus memperhambaku” (puisi “Syahadat”), dari situ terlihat aduan seorang hamba kepada Tuhannya.

Dalam puisi ini dijelaskan tentang kesulitan seorang hamba dalam menjaga keimanannya. Terbukti pada zaman sekarang, banyak orang yang mengaku memeluk suatu agama tertentu tetapi berperilaku seperti orang tidak beragama. Larangan agama dilanggar dan dinormalisasikan. Urusan duniawi mengalahkan kewajiban kepada Tuhan yang wajib ditunaikan.

Emosi yang ingin disampaikan oleh penulis tersalurkan lewat kata yang tidak sekadar mementingkan diksi saja tetapi melihat pemaknaan kata juga. Setiap puisi yang ditulis oleh Gus Mus memiliki pesan atau amanat yang dalam seperti ketika memberikan kritik kepada pemerintah dan ketika membahas tentang agama. Lewat tulisannya Gus Mus ingin menyampaikan keresahan-keresahan yang dia dan orang lain rasakan.

Baca Juga :  Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Di sini, penyair juga mengutarakan keluhannya kepada Tuhan tentang orang-orang yang menghalalkan segala cara agar terlihat dekat dengan Tuhan. Hal ini dapat terlihat pada kalimat “Untuk merebut tempat terdekat di sisiMu mereka bahkan tega menyodok dan menikam hamba-hambaMu sendiri” (puisi “Kaum Beragama Negeri Ini). Mereka memperlihatkan kedekatannya dengan Tuhan melalui hal yang mereka punya, seperti harta, kekuasaan, dan ilmu.

Terdapat juga orang yang merasa memiliki ilmu yang cukup sehingga berani mengatakan siapa yang berhak ke surga dan ke neraka. Mereka bertingkah laku seakan-akan mereka orang yang paling berilmu dan berhak untuk melakukan apapun dengan ilmu yang dimilikinya.

Di dalam buku antologi puisi ini, imaji yang diciptakan oleh penyair berhasil dibangun. Pemilihan diksi yang sederhana dan bermakna dalam berpengaruh kepada mudah tidaknya imaji dibangun. Dalam kalimat “gemuruhnya meningkahi gelisah dalam kalbu” (puisi “Stasiun”) penulis menggambarkan atau berusaha membangun imaji dengan tujuan agar pembaca mampu merasakan apa yang penulis sampaikan.

Contoh lain dari imaji adalah dalam kalimat “kami lihat beberapa orang gagah berdasi mahal, bicara berputar-putar dengan aksen intelektual” (puisi “Lihat TV”), di sini penulis berusaha untuk menggambarkan agar pembaca seolah-olah dapat melihat objek yang sedang dibahas. Rima yang digunakan pada antologi puisi ini didominasi oleh rima akhir. Hal itu dapat menjadi salah satu faktor keindahan dari puisi yang ditulis oleh Gus Mus.

Baca Juga :  Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Dalam bait “sudah kubersih-bersihkan diriku, sudah kupatut-patutkan penampilanku, tetap saja dada digalau rindu, sabarlah rindu, tak lama lagi bertemu” (puisi “Stasiun”) menggunakan rima yang berakhiran huruf “u”. Pada bait “lalu atas izinku, kita pun menyatu” (puisi “Ittihad) juga menggunakan rima akhir “u”. Dengan penggunaan rima yang tepat seperti halnya puisi-puisi yang ditulis oleh Gus Mus dapat menambah unsur estetika dalam puisi.

Tipografi yang digunakan Gus Mus dalam puisi-puisinya berbeda-beda jenisnya, ada yang menggunakan tipografi huruf kecil semua tanpa tanda baca (puisi “Negeri Daging”), menggunakan huruf besar pada awal kalimat tanpa tanda baca (puisi “ Baju I”), menggunakan huruf besar-kecil dan tanda baca lengkap (puisi “Di Negerimu”), dan tipografi yang sebagian baitnya menjorok ke dalam (puisi “Negeri Haha Hihi”).

Ketika menulis puisi, Gus Mus menggunakan beberapa jenis majas salah satunya seperti pada baris “kau bisa menjulurkan lidah api” (puisi “Mulut”) dan “negeri yang sangat sukses menernakkan kambing hitam dan tikus-tikus” yang merupakan majas metafora. Dalam antologi puisi berjudul Negeri Daging, Gus Mus ingin menyampaikan berbagai keresahan yang penyair rasakan mulai dari keresahan baik di bidang politik, kehidupan sosial, maupun keresahan kepada Tuhan.

Berita Terkait

Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Berita Terkait

Selasa, 6 Februari 2024 - 13:34 WIB

Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Sabtu, 25 November 2023 - 06:29 WIB

Melek Agama dan Politik Melalui Antologi Puisi Negeri Daging Karya Ahmad Mustofa Bisri

Berita Terbaru

Opini

Selebrasi Merdeka Berkarya

Rabu, 28 Feb 2024 - 21:23 WIB

Daerah

Bupati Sumenep Berupaya Keras Tekan Harga Beras

Kamis, 22 Feb 2024 - 15:22 WIB