Mengulik Jejak Trauma, Kuasa, dan Ingatan Kolektif dalam Cerpen Musik Akhir Zaman Karya Kiki Sulistyo

Redaksi Nolesa

Jumat, 13 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Gilang Dwi Cahyo

ESAI, NOLESA.COM – Selama ini kita seringkali mendengar, bahkan berdiskusi panjang lebar bahwa kehidupan saat ini sudah masuk akhir zaman. Arah jarum jam sudah mau berhenti. Padahal kitak tahu pasti. Kapan itu terjadi.

Orientasi

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sudah tidak asing lagi jika kita mendengar bahwasanya kita sudah memasuki tanda-tanda akhir zaman. Sebenarnya prespektif ini masih kita bantah dengan beberapa dalih dan kepercayaan masing-masing individu.

Indonesia dengan sejumlah kasus peyimpangan kekuasaan pemerintah non-pemerintah bahkan sampai kekerasan baik verbal maupun nonverbal seperti benang jahit yang tidak pernah terputus. Berjalan mengikuti alur seakan menjadi suatau adat dan hal yang lumrah dijumpai.

Pada 2024 silam salah satu sastrawan menerbitkan antalogi cerpen yang berjudul Musik Akhir Zaman. Kebayakan orang bahkan saya sendiri sekilas membaca judul yang dicoretkan pengarag dalam antalogi cerpen ini, mengisahkan bagaimana kehidupan akhir zaman atau bahkan suasana akhir zaman.

Namun, antalogi cerpen yang diterbitkan oleh Indonesia Tera bahkan cetakan pertamanya pada 2024 berbeda rasanya. Mulai dari cerita Hulk Gang Melayu bahkan gongnya pada Musik Gambar 1. Sampul Buku Akhir Zaman. Sepintas dalam pikirin saya, mengapa Musik Musik Akhir ZamanAkhir Zaman menjadi judul utama dalam antalogi cerpen ini.

Buku yang berjumlah 183 halaman dengan 17 judul cerpen, berhasil membawa alur yang menarik bagaimana proses akhir zaman itu benar terjadi.Cerpen ini berhasil meraih nominasi penghargaan sastra Kemendikbudristek pada 2024 lalu. Penghargaan ini diselenggrakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tau badan bahasa.

Cerpen karya Kiki Sulistyo bersanding dengan lima nominasi lainya. Selain itu cerpen ini bertengger top 10 di Nomine Buku Sastra PilihanTempo tahun 2024. Penghargaan ini sudah tidak asing lagi bagi Kiki Sulistyo pemuda asal Ampena, Lombok, Nusa Tenggara Barat yang sudah bertengger meraih penghargaan semenjak tahun 2017.

Proses penyusunan antalogi cerpen ini memerlukan waktu hampir 3 tahun yaitu mulai pada Mei 2021 dan selesai pada Februari 2024. Buku ini telah ber ISBN 978-979-775-333-7, melaui proses yang panjang Kiki mendapatkan pro dan kontra terhadap karyanya sendiri.

Apakah ini yang menjadkan asalan mengapa perilisan buku ini dibilang lama daripada karyanya yang sebelumnya atau memang karyanya yang sekompleks itu? B. SinopsisCerpen ini secara keseluruhan membawa akan berbagai kontroversi di dunia nyata, akan tetapi cerpen itu juga menganut teori metafiksi.

Teori atau metode ini sangat disesuai oleh pembaca saat ini. Namun dibalik teori metafiksinya, cerpen ini mengangkat kontriversi bangsa yang sepertinya Indonesia. Dengan berbagai kasus penyelahguaan kekuasaan dan Hak Asasi Manusia (HAM) cerpen ini menghadirkan sentuhan yang berbeda.

Indonesia dengan berbagai kasus penyalahguaan kekuasanya memberikan warna baru bagai cerpen Kiki kali ini. Dengan total jumlah kasus mencapai 268 dari tahun 2019-2023 yang meningkat 63 persen.

Meningkatnya bagan angka tindak penyalahgunaan kekuasan di Indonesia hingga 63% pada tahun 2023 (Universitas Airlangga, 2024). Menjadi sajam utama Kiki dalam menghadirkan topik yang menarik atau bahkan topik yang basi? Secara sosiologis, semakin banyak realitas atau histori kehidupuan yang diangkat semakin banyak pembaca yang menikmatinya.

Dengan berbagai teori yang diaplikasikan di dalamnya menjadikan Musik Akhir Zaman ini bertengger diberbagai penghargaan ternama. Musik Akhir Zamanyang menceritakan segelintir pemimpin atau penguasa yang beririsan dengan sejumlah peristiwa dan sosok dalam sejarah faktual, maupun produk-produk fiksional yang sudah menjadi bagian dari ingatan kolektif bangsa.

Nama yang digunakan misalnya (Soe) Harto, (Ramos) Horta, (Jendral) Van Ham, Kurt Cobain, Anton Chekhov, Kusni Kasdut, Amzrozi, (Munir) Thaliv, dan sebagainya adalah representasi dari dunia traumatis akibat kekrasan sebagai modus kekuasaan (Kiki Sulistyo:2024).

Realitas Kekuasaan, Memori Kolektif, dan Trauma yang dituangkan dalam cerpen

Sastra merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat, di mana karakteristik dan nilai-nilai sosial termanifestasi dalam narasi (Hieu, 2024). Selain itu, Musik Akhir Zaman memberikan gambaran yang luas dan menyeluruh bagaimana efek kekuasaan yang lalim.

Bisa kita ibaratkan bahwa “Kamu berkuasa kamu aman, dan selain donatur dilarang ngatur” Hal ini nampaknya terdapat dalam beberapa cerpen yang termuat dalam antaloginya. Musik Akhir Zaman juga menawarkan komedi serta cerita yang sulit sekali untuk ditebak, dengan alur yang terus berputar layaknya trauma yang diterima akibat kerusakan mental seseorang.

Caruth mendefinisikan trauma dalam memori personal yang berkaitan dengan luka pada jiwa, pikiran, dan mental karena pengalaman pribadi atau suatau peridtiwa yang telah melibatkan masa lampau, diri, dan suasana. (Fajariyah, 2024). “Lubang” dan ”Lubang Cacing” merupakan cerpen yang menurut saya masih menjadi satu kesatuan yang utuh, namun Kiki menjadikanya satu hal yang terpisah.

Cerpen yang berjudul “Lubang” menceritakan tentang bagaimana kekuasaaan suatu partai yang mengakibatkan perpecahan dalams uatu negara. Ayah dan pamanya terlibat dengan dua ideologi partai yahg berbeda. Sedangkan ibunya tidak ingin tahu apa yang terjadi. Cerpen ini bercerita bagaimana trauma yang terjadi setelah melihat sesuatu yang di luar kepala.

Tokoh aku sebagai anak di dalam cerpen memiliki rasa trauma yang amat dalam sehingga tidak ingin tahu bagaimana dunia itu berjalan, bahkan ke ibunya sedniri. Ibu yang bersikap acuh juga mengambarkan trauma dan ekkesalan yang mendalam akibat pereraian tau tingkah laku dari ayah. Kekuasaan yang terjadi meang hanya terlibat ke orang besar saja, orang suruhan seperti ayah dan paman akan mati sia-sia.

Baca Juga :  Hari Puisi Nasional: Merayakan Suara Jiwa Bangsa

Realitas kekuasaan dan peristiwa yang sepertinya terjadi di Insdonesi kembali hadir. Pada cerpen “Lubang Cacing” yang sama sekali tidak bercerita tentang lubang atau malah gali lubang tutup lubang? Tidak ada yang tahu soal itu. Cerpen ini mengisahkan keluarga yang berisikan Ayah, Ibu dan ketujuh anaknya salah satunya tokoh aku. Satu keluarga yang hidup dengan kesederhanaan.

Tetapi mengapa orang yang dikatakan “sederhana” malah memiliki banyak anak? Hal ini karena adanya faktor praktis, sosial dan budaya yang erat. Di banyak masyarakat, memiliki banyak anak dianggap sebagai simbol keberuntungan, kejayaan, dan prestise (Muhammad, 2023). Hal ini sering terjadi, apalagi cerita didukung dengan perubahan sifat Bibi yang sepertinya sudah mulai terpengaruh oleh suatu oknum yang membuatnya berubah.

Bibi yang berkuasa atas hak tanah yang ditempatinya menjadikan Ayah pasrah dan mengikuti nasib saja. Kiki Sulistyo mengkritik penyalahgunaan kekuasaan melalaui narasi yang kompleks, memaksa pembaca untuk merefleksikan realitas sosial yang akan memberikan efek domino. Cerita yang disajikan dengan berbagai lapisan alur dan tokoh yang menjadikan pembaca terus ingin menggali lebih dalam.

Bahkan saya sendiri, sering berkata “hah?” dengan hadirnya pemikiran Kiki Sulistyo yang epik. Selain terdapat beberapa cerita yang seakan menjadi benang merah dari antara cerita tersebut. Ingatan kolektif dalam antalogi cerita pendek ini menjadikan cerpen yang membutuhkan waktu lama untuk dipublis. Pikiran serta imajinasi individu bukan merupakan hal yang bersifat pribadi semata melainkan selalu memiliki akar yang bersifat kolektif atau tertanam di dalam konteks sosial tertentu.

Dengan demikian, terdapat suatu keterkaitan erat antara ingatan kolektif suatu masyarakat dengan identitas personal dari anggota masyarakatnya itu. Ingatan kolektif ini pada dasarnya memainkan peran yang penting dalam membentuk identitas. Identitas tersebut berasal dari sebuah kelompok masyarakat. (Ismail, 2022). Memori kolektif adalah bagaimana suatu kelompok mengingat masa lalunya, lewat ingatan, nilai-nilai, narasi, serta kepercayaan bersama. Memori kolektif dengan uniknya terbentuk dari cerita yang dibuat oleh budaya, sosial, serta peristiwa sejarah.

Jadi, memori kolektif erat kaitannya dengan identitas juga budaya dari kelompok tertentu, serta memori tersebut dapat berkaitan dengan lingkup yang luas, seperti ranah nasional sampai lingkup kecil yaitu keluarga (Mutiara, 2024). Musik Akhir Zaman banyak menggunakaningatan atau memori kolektif dalam ceritanya yang mengandung unsur sosial, dan keluarga yang kental.

Yap, sejalan dengan isi dari Musik Akhir Zaman yang banyak mengandung masalah di dalam sosial masyarakat. Karya-karya ini sering kali merupakan cerminan dari realitas sosial yang ada, menunjukkan masalah-masalah sosial yang tengah dihadapi dan perlu diatasi oleh masyarakat (Hieu, 2024).

Kritik sosial dalam presprektif sosiologi sastra melalaui antalogi cerpen Musik Akhir Zaman memfokuskan pada permasalahan yang sudah diungkapkan secara gamblang terkait kondisi suatau negara. Karakter dalam karya sastra tidak hanya menggambarkan suatu tindakan, tetapi menggambarkan emosi dan pikiran, dengan ini pembaca dapat merasakan dalamnya psikologis dari cerita (Putri, dkk, 2024) Cepen ini dilengkapi seperti sinopsis cerita dibagian awal paragraf yang dicetak dengan cukup besar.

Menjadikan pembaca menerka-nerka arah cerita yang akan disampaikan. Namun terkadang pembaca menjadi dirinya lebih paham jika membaca sinopsisnya. Kiki Sulistyo menghadirkan sinopsis ini untuk mengecoh pembaca akan isidari cerita. Tak jarang sinopsis yang dihariskan berbeda dengan isi cerita yang disampaikan. “Tepat di mulut jalan amtenar terdapat gudang.

Pintunya terbuat dari kayu yang dicat biru muda. Gudang itu sendiri sudah tua sehingga catnya kelihatan kusam dan swang memenui sudut-sudutnya” (Musik Akhir Zaman: 12). Pada judul cerpen “Pelor di Tembok Gudang”, jika kita hanya membaca judul dan sinopsis secara singkat pastinya akan memikirkan pelor yang tedapat di pintu gudang, entah dari mana dan ditembakkan atau tidak, pastinya pembaca akan berpikirkan bahwa itu sengaja ditembakkan.

Foucalut memadang kekuasaan bukan sebagai sesuatu yang dimiliki oleh individu atau kelompk tertentu, tetapi strategi yang tersebat dalam jaringan mekanis di seluruh relasi sosial. Foulcault juga mengatakan bahwa jaringan mekanis membat sebuah keputusan yang di terima dan dijalankan begitu saja tanpa adanya persetujuan dan penolagan dari berbagai pihak (Basara, 2023). Penjelasan ini selinear dengan judul cerpen “Dukun Telinga” yang mengahruskan jaringan mekanis harus tetap berjalan sesuai dengan planing awal tanpa adanya penolakan dari tokoh aku.

Selain itu konsep tari teori kekuasaan Foucalut terbagi atas tiga yakni jaringan kekuasaan yang tercermin di berbagai judul berpen dan tokoh seperti (Soe) Harto, Kuasa/Ilmu yang tercermin didalam cerpen “Duku Telinga”, dan Teknologi disiplin yang tercemin dari konflik perebutan “Tombak Leluhur” yang dominan dengan kasus adat serta mengandalkan intuisi leuhur.

“Suatu kali salah satu mata Nenek tak ada pada tempatnya. Kali ini aku lihat mulut Bapak tinggal separuh, di kali lain lagi hidung ibu terlihat jauh lebih mancung. Namun semua itu tak terlalu mengangguku” (Musik Akhir Zaman: 132). Melihat dari latar belakang yang diangkat pengarang dalam menulis cerpin ini, “Dukun Telingga”merupakan contoh bagaimana kekuasaan dan trauma yang didapat tokoh terjadi.

Baca Juga :  Di Balik Sorotan Layar: Generasi Z, FoMO, dan Kecemasan yang Tak Terdengar

Benar sekali, dengan kutipan di atas pasti tidak jauh dari yang namanya guna-guna. Apalagi Dukun yang hidup melekat dengan hal mistis. Keadaan psikologis tokoh bahkan pembaca akan terganggu dalam merenungkan cerita ini. Bagaimana kekuasaan dapat mendapatkan semuanya. Manusia hanya akan menjadi budak yang bisa diatur kanan-kiri layaknya robot dipasar malam. Realitas nyata dihadirkan oleh Kiki dalam menuliskan bab cerpen ini. Nyata adanya jika balas budi dan janji akan selalau ditagih. Namun, akankah manusia realitas sekarang bisa memenuhinya? Pembaca lain akan berkomentar sama akan psikologis pembaca cerpen ini. Saya menggaris bawahi bahwa Ingatan kolektif pengarang yang selalu menjadi tumpu Kiki “Sangat tipis. Saking tipisnya, sampai tampak seperti bayangan” (Musik Akhir Zaman: 135).

Kutipan ini juga muncul dalam cerpen halaman 128. Bahkan tidak hanya satu dua cerpen, hampir semuanya memori kolektif terus dihadirkan. Pada bab cerpen “Surau Kecil di Kaki Gunung”, pastinya dapat membuat pembaca bingung. Dengan bahasa yang memutar alur pun ikut beputar. Jika tidak fokus dalam membaca akan hilamg satu ingatan apa yang kita baca. Banyak sekali kejadian plotwist yang dapat ditemukan. “Di pintu surau orang itu mengucap salam, lalu menoleh, “Oh ya, nama saya Adam. Siapa tahu kita bertemu lagi.” (Musik Akhir Zaman: 64) prolog yang dipatkan seperti ini. Sedangkan pada epilog “Pagi yang baru, mungkin dapat pula memberi hidup baru. Adam menghirup udara segar dalam-dalam” (Musik Akhir Zaman: 56). Ini merupakan satu dari beberapa ingatan kolektif yang dihadirkan. Pro kontra yang didapatkan Kiki akankah beriikan seperti ini. Dengan ingatan kolektif terus-menerus, akankah pembaca menjadi enjoy dalam membaca atau enggan membaca. Kemudian pada judul “Mens Sana in Corpore Sano”, menghadirkan berbagai keadaan sosial masyarakat yang di mana kehilangan pekerjaan, kesehatan sosial, bahkan ligkungan menjadi satu dalam cerpen ini. Kiki sangatlah kompleks membawa keadaan sosial masyrakat kedalam ceritanya. Bahkan dalam cerpenya menghaidirkan sedikit permasalahan agama dan cerita terdahulu.

Dalam Al-Qur’an dikisahkan bahwa Nabi Nuh As. menyampaikan bahwa akan ada air bah yang akan memusnahkan seluruh kehidupan di bumi, dan Nabi Nuh As. mengajak kaumnya untuk mengikutinya agar selamat dari bencana tersebut. Akan tetapi karena kaum Nabi Nuh As. seakan tidak percaya, akhirnya mereka tidak mengikuti Nabi Nuh As. dan pada akhirnya kaum yang berimana selamat dari bencana tersebut, sedangkan kaum yang tidak beriman tidak selamat dari bencana air bah tersebut (Ahkam, 2024). Kisah ini tentunya sama dengan “Namun rencana itu batal karena banjir bandang keburu datang” serta “Oiii, Nuuuh.”Tidak salah lagi ini merupakan adopsi dari segelintir cerita Nabi Nuh yang menghadapi kuasa Allah dengan perahunya yang sempat diremahkan oleh orang sekitar yang tidak percaya akan dirinya dan Allah SWT. Cerpen yang berjudul “Ananta” halaman 89 yang ditulis oleh kiki pada April 2021 silam berhasil membuat pembaca heran dah berpikir “hah?”. Ananta merupakan lambang tak tertingga yang biasanya tersebut dalam bilangan matematika.

Tetapi dalam cerpen ini ananta terlihat di tato pada tubuh perempuan yang menjadi kasir di suatau kedai makanan. Cerpen ini berhasil menceritakan dua sudut pandang yang berbeda tokoh pertama sebagai orang yang memesan, dan tokoh kedua sebagai kasih bertato ananta. Peralihan tokoh tersebut hampir tidak terlihat dan tidak meyangka bisa seperti itu. Sosok kelinci yang menjadi penengah pada cerpen ini berhasil membuat pov pembaca terganggu.

Tipologi psikis pembaca terbagi menjadi tiga bagian, yaitu tipologi psikis pembaca anak, tipologi psikis pembaca remaja, dan tipologi psikis pembaca dewasa(Lestari, dkk, 2022). Bagaimana jika pembaca novel ini anak-anak bahkan remaja saya yang masih memerlukan tuntujan dan mencerna makna dari sebuah tulisan atau karya sastra. Meskipun sifat manusia dalam karya sastra bersifat imajiner, pengarang menjadikan manusia yang hidup di alam nyata sebagai model, sedangkan psikologi membicarakan manusia yang diciptakan Tuhan yang secara nyata ada (Nur Khasanah, dkk, 2025)Terlebih pada cerpen “Tombak Leluhur” yang menceritakan bagaimana kekuasaan dan pengalaman si tokoh dalam merebutkan tombah yang dianggap milik beberapa oknum seperti Nayari, Hippies, Gauri, dan Lelaki berambut kelabu.

Barang seperti tombak saja diperebutkan karena latar belakang yang tak pasti. Beberapa okum mengakui tombak tersebut dengan dalih milik leleuhurnya. Disini kita dapat membuktikkan bahwa, barang siapa yang masih milik leluruh harus kembali pada lelurhurnya, namun kenyataan yang dituangkan dapam cerpen ini berbeda. Keadaan psikologis tokoh yang semakin tunyam diharikan dengan adanya tokoh keempat yaitu lelaki berambut kelabu. Ia hadie dengan konflik dan menimbulkan masalah baru, Masalah yang menjadikan tombak tersebut tidak jatuh ketangan siapa-siapa.

Baca Juga :  Melek Agama dan Politik Melalui Antologi Puisi Negeri Daging Karya Ahmad Mustofa Bisri

Tetaplah kekuasan yang di pegang oleh Kiki dalam mebangaun isi cerita. Dari sudut pandang kritik psikoanalisis, memori dan konflik yang di hadapi oleh cerpen ini dilihat sebgai manifestasi suatu kecamasan akan hak milik. Semua tokoh berusaha untuk memilii tombak itu namun dengan ketidakpatian leluhur siapa yang membuatnya. Teori Sigmund Freud tentang unconscious desire (keinginan bawah sadar) dapat menjelaskan mengapabenda mati seperti tombak dianggap begitu berharga: ia mewakili hasrat tersembunyi akan pengakuan, kekuatan, atau bahkan pelarian dari rasa inferioritas(Ardiansyah, 2022).

Puncaknya pada judul paling terakhir yang dituliskan oleh Kiki tentang bagaimana kondisi tokoh aku yang berimajinasi mempunyai teman. Namun teman itu bisa dikendalikan layaknya tokoh aku mempunyai kekuasaan atasnya, seperti pemerintah Indonesia bukan? Akankah cerita terakhir yang dibawakan ini menjadikan entitas asli dari pesan yang akan dibawakan oleh Kiki tentang kekuasaan yang lalim. Patut digaris bawahi bahwa buku ini tidak memiliki batas usia pembaca, atau Kiki hanya menargetkan bagaimana pesan ia bisa tersampaikan tanpa melihat efek domino pembaca yang menganggapnya terlalu serius atau bahkan menyadari bahwa ini dapat merubah pola pikir pembaca dalam menangapi situasi seperti dalam cerita.

Evaluasi

Tanpa disadari dengan kita membaca karya Kiki ini menjadi lebih tahu bagaimana sejarah dan akibat yang terjadi dengan adanya kekuasana yang lalim. Antalogi cerpen ini dumulai dari karanganya yang berujul “Hulk Gang Melayu” yang diterbitkan di Kompas pada agustus 2020 silam, uniknya antalogi cerpen ini berisikan karyanya yang sudah dimuat pada berbagai platfrom seperti, “anjing Mustaqin” terbit di Kompas.id pada Juli 2021. Selanjutnya “Pemeran Utama Langsung Mati pada Menit Pertama” yang terbit di koran tempo pada Februari 2021. Cerpen “Surau Kecil di Kaki Gunung” terbit di kurungbuka.com pada September 2020. Cerpen “Lubang” terbit di bacappetra.com paada Juni 2020 dan mungkin cerpen lanjutan yang dikrang oleh kiki adalah “Lubang Cacing” yang terbit di Tribun Jabar pada November 2020 selang berapa bulan setelah cerpen “Lubang”. Serta beberapa cerpen lainya yang terkumpul pada antalogi ini.

Terakhir cerpen “Musik Akhir Zaman” yang terbit di asyikaasyik.com pada Agustus 2021 turut serta menjadi puncak dari bebrapa kumpulan cerpen yang diangkat menjadi judul utama.Cerpen ini mengahdirkan berbagai cerita yang sepertinya relevan dan terjadi di Indonesia. Musik Akhir Zaman membaca pembaca untuk lebih tahu dan faham bagaimana kekuasaan bisa merubah segalanya.

Alur cerita yang menarik dan tidak membosankan, mebuat antalogi cerpen ini menerima berbgaai penghargaan. Metafora dan nama tokoh yang dihadirkan juga memjadi daya tarik untuk diulas lebih dalam dan memberikan suatu makna. Selain itu, kapan lagi kita membaca cerpen yang menghadirkan tokoh zaman dahulu yang memuaat akan sejarah. Walaupun cerpen yang dituliskan Kiki dalam karya ini menghasilkan sutau cerita dan perjalanan yang kompleks serta menimbulkan memori kolekif, pembaca harus benar-benar fokus dalam mencermatinya.

Musik Akhir Zaman bukanlah sekadar antalogi cerpen biasa, melainkan arsip dari beberapa pewistiwa kritik sosial yang dirangkai dengan narasi yang absrud, metafora histrois, dan ironi keuasaan yang lalim. Kiki Sulistyo berhasil membedah dua lapisan realitas yang terjadi, seperti realotas faktual yang menagungkap penyalahgunaan kekuasaan, trauma akan HAM, dan ingatan kolektif bangsa.

Kedua adalah realitas fiksional seperti paradi atau pemeranan ulang tokoh sejarah, distorsi waktu, serta absruditas psikologis. Perlu penelitian lanjutan tentang bagaimana suatu karya sastra eksperimental seperti kayak ini dapat emmengahuri kesadaran politik bagi generasi muda. Kekuatan dari cerpen ini adalah dengan mengangkat kembali dan mengingatkan akan sejarah serta peristiwa yang sudah terjadi. Seperti ucap Milan Kundera “langkah pertama untuk menghancurkan bangsa adalah dengan menghapus ingatanya” hal ini mungkin yang menjadi landasan kiki untuk terus memunculkan ingatan koletif dan meyadarkan kembali peristiwa yang lalu.

Alur yang digagas oleh kiki memang secra runtut tidak kronoligis namun, berhasil membuat pembaca merasa emosi saat membacanya. Kekurangan dari karya ini adalah dengan plotw twist yang sangat sering setiap cerpenya yang akan beresiko terhadap pembaca awam. Hal ini bisa terjadi karena balik kepda tipologi psikis pembaca yang terbagi atas tiga. Penggunaan bahasa dan metfora yang terkadang terlalau abstrak, sehinggat pesan sosial yang seharusnya tersampaikan, bisa hilang dn tenggelam dengan gaya bercerita yang eksperimental.

Musik Akhir Zaman adalah cerminan dari suatau masyarakat negara yang mana di satu sisi menghadirkan kegelapan sejarah, disisi lain justru mengajak pembaca untuk mentap kembali rekam jejak retakan yang lebih kompleks melalui rangkaian fiksi.

Membaca keseluruhan cerpen ini berarti mengulik akankah Kiki menawarkan solusi? Tidak seperti itu, ia membuat cerita ini sebagai ruang introgasi bagaimana kekuasaan dapat mengubah segalanya apalagi manusia yang menjadi pelaku, korban, bahkan pemain ketiga dari peristiwa, lebih parah pemain figuran yang hanya bisu sebgai tambahan peristiwa. Akhir dari cerita ini adalah “Jika peristiwa sudah dikisahkan, maka pada hakikatnya peristiwa itu sudah terjadi” (Musik Akhir Zaman: 175).(*)

*Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra IndonesiaUniversitas Negeri Yogyakarta

Berita Terkait

Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol
Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme
PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756
Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep
Alternatif Pengganti Kendaraan Pribadi
Sumpah Pemuda yang Sudah “Menua”
Refleksi Hari Santri Nasional 2025
Program MBG Presiden Prabowo dan Ancaman Inkompetensi

Berita Terkait

Jumat, 28 November 2025 - 18:24 WIB

Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol

Selasa, 11 November 2025 - 16:22 WIB

Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme

Sabtu, 1 November 2025 - 14:32 WIB

PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756

Jumat, 31 Oktober 2025 - 01:14 WIB

Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep

Kamis, 30 Oktober 2025 - 14:07 WIB

Alternatif Pengganti Kendaraan Pribadi

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Mimbar

Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern

Selasa, 20 Jan 2026 - 00:45 WIB

Bupati Fauzi menyerahkan bantuan rumah kepada Rukmini di Desa Gelugur, Kecamatan Batuan, Senin, 19/1/2026 (Foto: Ist)

Daerah

Bupati Fauzi Serahkan Rumah kepada Rukmini

Senin, 19 Jan 2026 - 21:00 WIB