Mendengar Jeritan Suara Rakyat dalam Bait-Bait Baru 81

Redaksi Nolesa

Minggu, 26 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Atik Sofiyaturrokhmah (Foto: dokumen pribadi)

Atik Sofiyaturrokhmah (Foto: dokumen pribadi)

Oleh: Atik Sofiyaturrokhmah

(Mahasiswa PBSI Universitas Negeri Yogyakarta)

Setiap pemerintahan tentu memiliki kekurangan, seperti halnya pada masa orde baru. Maraknya praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) dan ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah membuat banyak kritik dilontarkan dari berbagai pihak. Salah satunya dari penyair Toto Muryanto dalam karyanya kumpulan puisi berjudul Baru 81. Antologi puisi ini diterbitkan pada tahun 2021 dengan menghasilkan 190 judul puisi. Toto Muryanto adalah sastrawan kelahiran Gombong, 23 Agustus 1939.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam pengantar penulis dijabarkan bahwa Terbitnya buku antologi puisi ini dilatar belakangi oleh dorongan dari teman-teman aktivis yang sejak lama menentang rezim orde baru dan inkarnasinya yang masih berpengaruh sampai saat ini. Isi dari antologi puisi ini banyak mengarah pada kritik politik orde baru, seperti pada salah satu puisinya yang berjudul “Lama Sudah” menggambarkan keadaan kacau dan ketidakpuasan rakyat saat pemerintahan orde baru. Saat pemerintah yang berkuasa justru membuat kegaduhan dan tidak dapat mempersatukan rakyat dari berbagai pihak sehingga muncul anggapan bahwa rakyat terasa hanya sebagai lelucon belaka.

LAMA SUDAH

Rapopo

Ini lelucon

Tapi lama sudah

Orde baru bikin bubrah

Ini lelucon

Di tangannya bisa bikin

Rakyat tambah bloon

Dengan ketidak puasan ini banyak terjadi demonstrasi dari berbagai pihak guna menentang pemerintahan orde baru. Rakyat bersatu menyuarakan kekecewaannya, berbondong-bondong menyuarakan pendapatnya. Kekacauan tergambar dalam puisi “Menuju Mogok Nasional”.

Baca Juga :  Negeri Paling Aneh

MENUJU MOGOK NASIONAL

Demonstrasi meledak di daerah-daerah!

Bagaimanapun kemarahan rakyat tertindas meletus di mana-mana

Inilah api krisis yang menyulut, menyambar, dan membakarnya:

bencana alam, wabah penyakit, dan korupsi yang gila-gilaan.

Kehidupan ekonomi dalam kebuntuan, di ambang kehancuran!

Ketika demonstrasi meledak di banyak daerah, korupsi gila-gilaan terjadi, PHK buruh sewenang-wenang, kekacauan ekonomi, dan situasi politik yang semakin memanas. Membuat rakyat dari berbagai pihak melakukan demonstrasi besar-besaran mulai dari kalangan mahasiswa dan pelajar, buruh, pemuda, budayawan, dan pihak lain-lain. Menyuarakan suara-suara rakyat, mereka bersatu melakukan mogok nasional melawan kapitalis global.

Masa orde baru hampir di seluruh bidang menimbulkan kekecewaan rakyat, bahkan di bidang pendidikan pun tak luput dari kritikan rakyat. Penulis menggambarkan perbandingan yang sangat tidak elok. Pendidikan nasional sejak orde baru hingga saat ini memiliki hasil yang mengecewakan dibandingkan dengan pendidikan zaman kolonial Belanda. Terbentuknya pejuang, organisasi, proklamator ada saat masa pendidikan kolonial Belanda sedangkan hasil mengecewakan pada pendidikan nasional zaman orde baru hingga saat ini justru hanya menghasilkan pilar-pilar rapuh penghancur negeri.

Baca Juga :  Damar Kambang: Sebuah Perspektif Semiotik dan Kultural

Duka Cita Pendidikan Nasional

Pendidikan zaman kolonial Belanda telah menghasilkan banyak

sekali organisator, organisator, pejuang dan proklamator.

Sedangkan pendidikan nasional sejak orde baru hingga hari ini

tidak sedikit hasilkan profitor, pecundang, dan koruptor!

Dalam beberapa puisi juga digambarkan tentang petani-petani dan buruh. Di setiap baitnya adalah suara lantang yang menentang penindasan, keluh-ratap kaum tani, nelayan, mahasiswa, buruh, miskin desa, dan miskin kota. Keterpihakan penulis pada yang lemah, lemah karena pilihan ideologi, lemah karena ditindas kekuasaan, lemah karena miskin secara ekonomi, dan terhadap mereka yang lemah karena kemanusiaannya ditelantarkan negara. Keautentikan puisi ini memang dari bagaimana penulis menggambarkan kemiskinan dan pemiskinan politik dalam satu napas.

Dalam puisi berjudul “Jenderal Tanah” berisi tentang penggusuran lahan-lahan petani. Ini termasuk kritikan tentang bagaimana yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya. Berikut puisinya “Pun ada kisah lain/tanah tani digusur buat hotel/mewah/santapan lezat minuman nikmat/sauna pun/kolam mandi tuan dan nyonya/nona senyum menggemaskan/pamer montok susunya/padat pantatnya/mulus pahanya”.

Penggusuran sudah sampai ke desa membuat kaum petani banyak kehilangan lahan yang ternyata untuk membangun hotel-hotel mewah. Kemalangan bagi rakyat miskin dan pengkayaan diri bagi pihak yang sudah kaya. Terlihat kontras keadaan dua rakyat yang berbeda dalam satu negara yang sama. Sudah lolos dari penjajahan kolonial ternyata kembali menghadapi penjajahan dari sesama rakyat di negeri sendiri. Rasanya makna perjuangan bersimbah darah demi kemerdekaan tak berarti apapun.

Baca Juga :  Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen "Tinggal Matanya Berkedip-kedip" Karya Ahmad Tohari

Selain kritik ada beberapa puisi yang menggambarkan daerah sekitar tempat penulis tinggal. Kehidupan di pedesaan, penggambaran ciri khas daerah dan bahasa seperti pada puisi yang berjudul “Prembun”. “PREMBUN/Sepanjang tepi jalanan pedagang jajakan/Cabe dan bengkoang /Pedasnya segarkan kau/Prembun kukenang”. Di sepanjang jalan daerah Prembun dikenal dengan pedagangnya yang berjejer dengan dagangan cabai dan bengkoang. Suasana pedesaan ketika para petani dan pedagang kecil harus tangguh di tengah kepungan para pencuri dan penjudi. Penulis bernostalgia tentang suasana di Prembun, di Mirit yang memiliki kenangan yang dirindukan dan pengalaman pahitnya.

Ada pula puisi dengan judul “Gombong-Kroya”, menggambarkan suasana perkampungan dengan sawah di sepanjang jalan. Toko-toko di pasar yang sepi, gerbang dan pintu sekolah yang digembok saat pandemi corona. Penulis mengingat kenangan 65 tahun yang lalunya dimana suasana berbeda ditemukan ketika kembali pada tempat yang sama. Ada ciri dari daerah yang ternyata mulai hilang, pada baris terakhir ada sajak “ Tak seperti dulu lagi kroya susah , Temukan rames dan pecel peyek udang dan mendoan”.

Berita Terkait

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati
Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari
Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia
Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma
Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya
Melodi Cinta Tak Terucap
Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan
Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terkait

Selasa, 9 Juli 2024 - 14:00 WIB

Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati

Jumat, 5 Juli 2024 - 10:05 WIB

Fenomena Penyiksaan Hewan dalam Cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” Karya Ahmad Tohari

Sabtu, 29 Juni 2024 - 19:17 WIB

Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia

Minggu, 23 Juni 2024 - 08:15 WIB

Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:44 WIB

Rahasia Cinta Sesunyi Cahaya

Sabtu, 22 Juni 2024 - 10:29 WIB

Melodi Cinta Tak Terucap

Kamis, 20 Juni 2024 - 17:41 WIB

Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

Rabu, 19 Juni 2024 - 22:44 WIB

Mengungkap Kekuatan Perempuan dalam Novel Racun Puan

Berita Terbaru