Oleh | Sujono
ESAI, NOLESA.COM – Sebuah persembahan untuk Prof. Dr. Achsanul Qosasi atas tingginya kepedulian terhadap pendidikan di Sumenep, Madura pada umumnya.
Tera’ ta’ a-dhamar, a-ghentong ta’ a-tale
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ibarat gerbong kereta api, ada lokomotif bertenaga tinggi untuk menarik gerbong. Demikian juga kesadaran, ada orang-orang yang dengan keikhlasannya tak henti menarik masyarakat pada ambang kesadaran baru akan perlunya sebuah institusi yang bernama pendidikan. Mereka tak lelah mencurahkan pikiran, tenaga dan biaya agar bisa menghadirkan ide itu menjadi realita; yakni terwujudnya lembaga pendidikan.
Achsanul Qosasi, dengan percaya diri serta keberanian yang tinggi mendirikan Yayasan Qudsiyah Bahaudin Mudhary, yang kemudian menjadi payung Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura, Sumenep.
Sang Profesor putra Kiai Bahaudin Mudhary ini sangat menyadari pentingnya pendidikan bagi setiap generasi.
Seperti biji yang di dalamnya terkandung informasi penting tentang masa depan sebuah pohon, seorang anak mengandung semua informasi dan modal penting untuk kelak digunakannya sebagai khalifah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, setiap anak adalah istimewa karena ia diciptakan dan terlahir sesuai rencana Allah, dan rencana Allah Maha Sempurna.
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS: At-Tin: 4).
Dalam tafsirnya dijelaskan bahwa manusia diciptakan dengan bentuk fisik dan potensi yang terbaik dibandingkan makhluk lainnya. Manusia memiliki akal, hati dan kemampuan untuk berpikir serta berkomunikasi. Inilah sebabnya kenapa manusia menjadi makhluk yang mulia dan mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah.
Mungkin atas dasar pemikiran inilah sang arsitek Universitas Bahaudin Mudhary Sumenep, Achsanul Qosasi, terpanggil untuk menyuguhkan pendidikan terbaik di bumi kelahirannya. Beliau tahu, bahwa modal di setiap anak itu berbentuk kapasitas yang luar biasa bernama fitrah. Ya, seperti sebuah bibit tanaman. Sebaik apa pun sebuah bibit kalau ditanam di tanah yang tidak baik, maka tumbuhnya tidak sempurna. Inilah barangkali yang membuat sang tokoh politik Achsanul Qosasi ingin memberikan pendidikan terbaik agar generasi muda Sumenep khususnya, bisa bangkit menantang perubahan zaman. Bukan menyongsong perubahan zaman.
Mari Kita Tengok Sejarah
Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi adalah sebuah contoh klimaks kebangkitan pendidikan yang menghasilkan sebuah generasi baru yang kokoh secara ruhiyah, secara keilmuan, fisik, ekonomi, politik dan teknologi. Shalahuddin adalah ujung tombak sebuah generasi yang ditanam dan dijaga kesuburan benihnya. Ketika dinasti Abbasiyah babak belur diserang pasukan salib, sampai kota suci Al-Quds dan Masjidil Aqsha jatuh ke tangan orang kafir (1099).
Di antara ulama perintis itu adalah Abu Hamid Al-Ghazali (Imam Ghazali) dan Abdul Qadir Jilani. Jadi, pendidikan itu bisa bangkit dan diperbaiki. Seperti tanaman (tumbuhan), adalah tergantung kita bagaimana menyiram, memupuk dan merawatnya. Bukan hanya mengajarkannya sebagai pengetahuan.
Nilai itu Ada Pada Proses
Tahukah kita dari bahan apakah cangkir itu terbuat? Ia hanya terbuat dari tanah liat yang kotor. Akan tetapi melalui proses yang panjang, ia di sulap menjadi karya yang menakjubkan; bermutu tinggi, cantik, indah dan berharga mahal.
Memang tak sederhana memproses tanah liat yang tak berguna menjadi cangkir yang bermutu tinggi. Kalau bisa berkisah, cangkir itu akan mengatakan; “Ternyata aku bernilai karena sebuah proses yang sulit dan panjang.”
Raw material atau bahan baku itu penting. Tapi sungguh, melalui kisah cangkir di atas menyadarkan kita bahwa proses itu jauh lebih penting. Sebatang baja akan tetap teronggok menjadi barang tak berguna tanpa sentuhan tangan-tangan terampil yang mampu mengubahnya.
Melalui proses panjang dan rumit serta penuh perhitungan, ia bisa menjadi apa saja sesuai kehendak; motor, mobil, pesawat terbang dan sebagainya. Tergantung pada prosesnya. Semakin rumit dan sulit prosesnya, semakin tinggi nilai jadinya.
Itulah sunnatullah yang tetap di alam ini. Allah sendiri mencontohkan kepada kita bahwa proses kejadian alam itu tidak “simsalabim” (tidak sekali jadi). Meskipun Dia menggenggam firman “kun fayakun.” Nyatanya jagad raya ini diciptakan-Nya dalam enam masa.
Begitu juga ketika Allah menciptakan manusia. Meskipun bahan bakunya hanya berupa “se-noktah” air mani yang menjijikan, tapi melalui rekayasa ilahiyah, lahirlah anak manusia yang luar biasa.
Melalui bukti-bukti empiris yang tak terbantahkan lagi, bahwa setiap anak manusia terlahir dengan membawa fitrah dan potensi yang luar biasa. Jika dengan bahan baku sederhana seorang pengrajin dapat menghasilkan karya hebat berupa cangkir cantik yang terbuat dari tanah liat, lalu bagaimana dengan kita (guru atau dosen), yang memproses anak manusia yang bahan bakunya sangat potensial?.
Kisah Imam Ahmad
Coba kita ingat kisah Imam Ahmad. Ketika Beliau mengajarkan satu Hadits di sebuah majelis dengan didengar ribuan orang, Beliau tak menggunakan sound-system sebagaimana jaman sekarang. Beliau juga bukan murid Zawawi Imron yang secara khusus belajar olah vokal. Tapi mengapa orang yang duduk di bagian belakang bisa mendengar?.
Itu karena animo para murid sangat luar biasa. Saking besarnya animo itu, mereka yang mendengarkan akan merasa rugi jika bersuara sedikit saja. Saat itulah konsentrasi dan tingkat pendengaran mereka menjadi meningkat.
(Kisah Imam Ahmad ini mengingatkan kepada cerita yang saya tangkap dari Dialog Ketuhanan Yesus antara Kiai Bahaudin Mudhary dengan seorang misionaris Antonius Widuri (1970). Sejak dialog itu dimulai, jangankan suara hadirin yang ikut menyaksikan (mendengarkan), suara jangkrik pun tak terdengar. Nah, setelah usai dialog, karena konsentrasi hadirin meningkat, mereka langsung paham terhadap ilmu yang dibahas. Mereka tambah beriman terhadap keyakinannya).
Banyak pemuda yang setelah mendengarkan lagunya Iwan Fals langsung hafal. Apakah karena mereka jenius? Jelas tidak. Karena dari awal ia memiliki kekaguman dan antusiasme menyambut sang idola.
Nah, kualifikasi mental seperti inilah yang seharusnya kita bangun pada murid (mahasiswa). Keberhasilan seorang guru (dosen) bukan ditentukan dari angka ulangannya. Tetapi bila ia bisa menjadikan seorang murid (mahasiswa) mencintai ilmu yang bersangkutan. Sangat disayangkan kalau ada mahasiswa datang mengikuti kuliah hanya demi mendapatkan selembar ijazah.
Ilmu Adalah Cahaya
Pada tahun 1961, Uni Soviet (sekarang Rusia) berhasil mengirim kosmonot-nya, Yuri Gagarin, ke luar angkasa. Peristiwa ini dianggap prestasi hebat oleh dunia. Namun sayangnya, prestasi ini malah digunakan Nikita Khrushchev, pemimpin negara Komunis itu, sebagai senjata propaganda untuk menyerang agama. Ia menyatakan; “Gagarin telah terbang ke luar angkasa, tapi ia tidak melihat Tuhan manapun di sana.”
Inilah ilmu pengetahuan yang menggerogoti ilmu yang Haq. Kelebihan ilmu malah menjadikan hidayah semakin jauh dari mereka. Jika demikian cara mereka memandang dan menggunakan ilmu, lalu bagaimana Islam memaknai dan memposisikan ilmu?.
Imam Haramain dan Imam Ghazali bersepakat; “Bahwa ilmu adalah pengetahuan terhadap hal yang diketahui, sesuai dengan hakikatnya yang sebenarnya.” (QS: Al-Ihya’: 1/49).
Dari definisi ini, Wahyu merupakan sumber ilmu tertinggi, karena apa yang disampaikan selalu benar, sesuai dengan hakikatnya. Tidak ada kedustaan di dalamnya. Ilmu yang bersumber dari Wahyu, berfungsi sebagai tolak ukur utama dalam menilai sesuatu.
Imam Waqi’ mengistilahkan ilmu dengan cahaya. Sebagaimana cahaya pada layaknya, ia menyibak kegelapan, dan memperjelas yang samar. Cahaya juga bisa menunjukkan mana jalan yang licin, berlobang atau datar, sehingga pembawa lentera tidak tergelincir.
Kata Nabi Muhammad Saw; “Barangsiapa ilmunya bertambah, namun tidak bertambah petunjuk, maka ia akan semakin jauh dari Allah.” (Riwayat Abu Nu’aim).
Ilmu Lebih Utama dari Ibadah
Islam dan ilmu adalah dua hal yang tidak mungkin dipisahkan. Islam memberikan motivasi yang begitu besar kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan mengangkat derajatnya orang-orang berilmu; (Al-Mujadalah: 11).
Mu’adz bin Jabal pernah menunjukkan; “Pelajarilah ilmu, sesungguhnya mempelajarinya merupakan bentuk rasa takut kepada Allah, mencarinya adalah ibadah, mengulanginya tasbih, mencarinya jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum tahu adalah sedekah, mencari dari ahlinya adalah mendekatkan diri (kepada Allah).” (Riwayat Ibnu Nu’aim)
Robert L. Gullick Jr, dalam bukunya Muhammad, The Educator dengan tegas mengatakan bahwa, Rasulullah seorang pendidik yang sukses membimbing manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan.
Robert menilai, Nabi Muhammad berhasil mendidik bangsa Arab yang secara akademis tertinggal jauh dari bangsa Mesir, Romawi, dan Persia yang sudah akrab dengan dunia tulis menulis, perdebatan, riset dan buku. Sementara bangsa Arab hanya mengenal bersyair, ilmu berkuda dan riwayat suku-suku.
Namun berkat pendidikan yang diajarkan Muhammad Rasulullah Saw, bangsa Arab melejit potensinya. Dalam waktu singkat, mereka bisa mengambil alih dan mewarnai peradaban ketiga bangsa tersebut.
Integrasi antara iman, ilmu dan akhlak adalah ciri khas pendidikan yang diajarkan Rasulullah Saw. Hasilnya, tidak hanya mengeluarkan bangsa Arab dari alam jahiliyah, namun mampu melahirkan sebuah peradaban baru yang amat diperhitungkan.
Pola pendidikan yang diterapkan oleh Rasulullah itu, pernah diterapkan juga di saat ummat Islam berada di masa kelam, yang dipelopori oleh Imam Al-Ghazali. Dari pendidikan itu, para pemimpin dan ulama tangguh terlahirkan. Mereka inilah yang membebaskan Al-Quds dari cengkeraman pasukan Salib.
Izinkan Saya Bermimpi untuk Alumni UNIBA
Mungkin kita sudah mati dan jasad kita dikubur entah dimana; atau kita sedang menunggu kematian datang dengan kebaikan yang besar dan bukan keburukan. Allahumma amin…
Para alumni Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura, Sumenep, mungkin sudah tersebar di seluruh dunia. Saat itu, mungkin ada yang sedang menggugah inspirasi ummat Islam seluruh dunia, berbicara dari Mesir hingga Amerika, dari Makkah hingga Barcelona.
Ia menggerakkan hati dan melakukan proyek-proyek kebaikan sehingga kota-kota yang pernah terang benderang di zaman keemasan Islam, dari Gibraltar hingga Madrid, dari Istambul hingga Shenzhen, kembali dipenuhi gemuruh takbir saat penghujung malam datang.
Sementara siangnya, mereka seperti singa kelaparan yang bekerja keras menggenggam dunia. Mereka membasahi tubuhnya dengan keringat karena kerasnya bekerja meski segala fasilitas dunia telah ada. Sementara di malam hari, mereka membasahi wajah dan hatinya dengan airmata karena besarnya rasa takut kepada Allah Ta’ala. Rasa takut yang bersumber dari cinta dan taat kepada-Nya.
Ya, mereka gigih merebut dunia bukan karena gila harta dan takut mati. Bukan tuan. Tetapi karena ingin menjadikan setiap detik kehidupannya untuk menolong agama Allah ‘Azza wa Jalla, dengan mengambil fardhu kifayah yang belum banyak tertangani. Mereka gigih bekerja karena mengharap setiap tetes keringatnya dapat menjadi pembuka jalan ke surga.
Kelak, para alumni UNIBA Madura, Sumenep, bertebaran di muka bumi. Mereka meninggikan kalimat Allah, menyeru kepada kebenaran dengan cara yang baik, saling mengingatkan untuk menjauhi kemunkaran, dan mengimani Allah dengan benar. Tangannya mengendalikan kehidupan, tetapi hatinya merindukan kematian. Bukan karena jenuh dan berputus asa terhadap dunia, tetapi karena kuatnya keinginan untuk pulang ke kampung akhirat dan mengharap pertemuan dengan Allah dan Rasul-Nya.
Mereka inilah para alumni UNIBA Madura, Sumenep, yang hidup jiwanya. Bukan sekadar cerdas otaknya. Kuat imannya, kuat ibadahnya, kuat ilmunya, kuat ikhtiarnya, kuat pula sujudnya. Dan itu semua tak akan pernah terwujud jika kita tidak mempersiapkannya; hari ini juga!
Kelak, para alumni itu mungkin sedang mengendalikan dunia dan memenuhi hatinya dengan dzikir kepada Allah. Mereka mungkin sedang mengendalikan jaringan bisnis besar, Supermarket-Hypermarket hingga perusahaan-perusahaan manufaktur berteknologi tinggi di seluruh dunia.
Sebagian lainnya mungkin sedang memimpin Lembaga Pendidikan Putri yang setiap alumninya menjadi penentu sejarah dunia. Bukankah ibu adalah madrasah (sekolah) pertama yang membentuk karakter dan cara berpikir satu generasi di belakangnya?
Maka mempersiapkan visi dan kecakapan seorang ibu sama pentingnya dengan mempersiapkan peradaban ummat ini ke depan. Mereka harus dibekali agar kelak mampu menjadi perempuan untuk agama ini; yang setiap tutur katanya akan meninggikan kalimat Allah. Sementara rahimnya, tidaklah akan tumbuh benih di dalamnya kecuali generasi yang sejak awal pertemuan sudah bertabur kalimat suci. Bukankah kepribadian itu terbentuk sejak benih bapak-ibunya bertemu? Bagaimana kedua orangtua mereka mempertemukan benih, sangat mempengaruhi bagaimana benih itu kelak akan tumbuh dan berkembang.
Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari
Betapa banyak pelajaran yang bertabur di sekeliling kita; dari orang-orang yang masih hidup atau mereka yang sudah tiada. Tetapi betapa sedikit yang kita renungkan.
Kisah tentang KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) yang mengulang-ulang pembahasan tentang Al-Maa’uun hingga menimbulkan pertanyaan dari murid-muridnya, masih kerap kita dengar. Jejak-jejak kebaikan berupa rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah-sekolah masih bertebaran. Tetapi. Ada tetapinya, jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya yang membuatnya bergerak menata aqidah ummat ini, rasanya semakin sulit kita lacak.
Tulisan pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari, sahabat dekat KH Ahmad Dahlan, masih bisa kita lacak, meski semakin langka. Tetapi. Ada tetapinya juga, jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya semakin sulit ditemukan.
Lalu, seberapa gelisahkah kita hari ini? Semoga warisan terbaik kita untuk mereka adalah pendidikan yang kita berikan dengan berbekal ilmu dan kesungguhan. Kita antarkan pesan-pesan itu dengan cara yang terbaik. Sementara do’a-do’a yang kita panjatkan dengan tangis dan airmata, semoga menggenapkan yang kurang, meluruskan yang keliru, menyempurnakan yang sudah baik.
Ya Allah Yang Menggenggam langit dan bumi… Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikanlah ia sebagai penutup keburukan dan pembuka kebaikan. Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikanlah ia sebagai jalan perjumpaan dengan-Mu, dan bukan permulaan musibah yang tak ada ujungnya. Jadikan ia sebagai penggenap kebaikan agar anak-anak kami mampu berbuat yang lebih baik untuk agama-Mu. Aamiin…! (*)
*penulis lepas tinggal di Perum Satelit Sumenep










