Ikan Buntal, Mem-Bendung Racun

Redaksi Nolesa

Minggu, 12 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Oleh: Shinta Faradina Shelmi

(Universitas Negeri Yogyakarta)

Peran orang tua, terutama seorang ibu memiliki pengaruh besar bagi pertumbuhan anak. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan seorang ibu akan mampu menjadikan anak tumbuh dengan semestinya, tumbuh dengan baik. Santoso (via Anggraini, 2020:43) mengungkapkan bahwa orang tua merupakan orang pertama di lingkungan keluarga bagi seorang anak, tempat seorang anak menggantungkan kehisupannya, tempat anak mengharapkan bantuan dalam pertumbuhan dan perkembangannya menuju dewasa. Secara psikologis pertumbuhan psikis anak juga dipengaruhi oleh lingkungannya bertumbuh. Seperti yang terjadi dalam novel Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini, tokoh Bendung yang tumbuh menjadi anak pendiam setelah mengalami pengucilan dari lingkungannya. Ketika masih kecil, ibu Bendung meninggal dunia dan setelah itu ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Sejak saat itu Bendung kecil mulai ditinggalkan dan dikucilkan oleh orang-orang sekitar. beberapa saat setelah kau dikubur, mereka semua pergi. padahal mereka baru saja bilang hidup baik-baik saja, sementara seorang anak baru memulai perjalanan lukanya (Di Hari Kematianmu Waktu Itu, Bu…, hal. 106).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Irwanto dan Kumala (via Anggadewi, 2020) berpendapat bahwa pada anak-anak, perilaku yang terbentuk karena pengalaman traumatis dapat mengakar dan tertanam dalam perkembangan kepribadian anak. Berkaca dari tokoh Bendung yang menjadi sosok pendiam dan cenderung menolak untuk bersosialisasi akibat trauma masa kecil, di kehidupan nyata banyak kejadian yang serupa. Sekarang ini banyak kasus perundungan yang terjadi, baik perundungan yang dilakukan oleh teman sebaya maupun oleh orang yang lebih tua. Akibatnya, korban perundungan menjadi sosok yang pendiam, menjadi tidak percaya diri, mengalami gangguan psikis, bahkan sampai ada yang memilih mengakhiri hidupnya. Pelaku perundungan cenderung merundung orang-orang yang berada di bawahnya, baik dari segi ekonomi, status sosial, dan lain sebagainya.

Kasus perundungan di Indonesia sendiri memiliki persentase yang cukup tinggi. Bahkan terdapat beberapa oknum pendidik yang melakukan perundungan terhadap peserta didik. Pendidik yang seharusnya memberikan pengajaran yang baik kepada peserta didik malah menjadi salah satu contoh yang tidak baik. Salah satu contohnya adalah kasus perundungan yang dilakukan oleh peserta didik dan oknum guru kepada peserta didik lain di Bengkulu pada bulan Juli 2023. Seharusnya pelaku perundungan diberikan sanksi yang serius agar dapat dijadikan pelajaran bagi orang di luar sana. Tidak adil rasanya bila korban perundungan mengalami trauma akibat kejadian tersebut sedangkan pelaku perundungan masih bisa berkeliaran dengan rasa tidak bersalah. Pelaksaan hukum di Indonesia yang masih pandang bulu menjadikan orang-orang dengan ekonomi dan status sosial tinggi tidak takut untuk merundung orang yang berada di bawahnya. Contohnya kasus perundungan yang dilakukan oleh oknum salah satu anak petinggi ditjen pajak yang terjadi pada awal tahun 2023. Oleh karena itu, penyuluhan mengenai perundingan di Indonesia harus gencar disemarakkan agar tidak banyak lagi orang-orang diluar sana yang menjadi korban. Masyarakat tidak boleh menyepelekan kasus perundungan sekecil apapun yang terjadi di sekitar mereka.

Baca Juga :  Manusia Makhluk Egois dan Bengis

Pada novel ini, Bendung kecil harus bekerja agar tetap bisa mengisi perut setelah ibunya meninggal dunia dan ayahnya menikah lagi. Keadaan menuntut Bendung untuk menjadi anak yang mandiri. di hidup yang sedih, bu, aku sudah berusaha menolong diriku. aku sudah belajar memasak nasi sendiri, aku sudah mampu mencari uang sendiri, aku juga lihai menyembunyikan sedihku. bahkan, di saat-saat terburuk dalam hidup, aku berusaha terlihat baik-baik saja (Aku Sudah Menolong Diriku, hal. 38). Sepak terjang kehidupan harus Bendung lalui demi sesuap nasi, padahal dia masih punya sosok ayah yang seharusnya bisa memberikan nafkah. Meskipun sudah memiliki keluarga baru, seharusnya ayah Bendung tetap merawatnya dan tidak membiarkan anak dibawah umur untuk bekerja. Sangat disayangkan ketika orang-orang di sekitar Bendung kecil yang seharusnya memiliki kepedulian terhadapnya malah meninggalkannya dengan segala usaha yang dia lakukan. Goleman (via Adelia, 2023) mengemukakan bahwa sedih merupakan emosi yang muncul pada diri seseorang yang dipicu oleh suasana hati yang muram, pedih, mencintai diri sendiri, kesepian , putus asa, dan depresi. bu, orang-orang marah di manamana. orang-orang memaki di mana-mana. aku sendirin merasa kecil dan ketakutan. aku mencari sudut yang aman dalam diriku sendiri. tiap hari menghindar hanya untuk merasa aman. orang-orang makin beringas saja (Badainya Sedang Kencang dan Aku Ingin Berada dalam Rahimmu Lagi, hal. 44). Bendung kecil yang harus menangung semua rasa sedih itu, Bendung kecil yang malang.

Elizabeth Bergner Hurlock berpendapat bahwa sedih, duka cita, dan kesukaran adalah emosi yang tidak menyenangkan dan dapat dialami oleh siapa saja serta dapat menjadikan efek yang tidak baik bagi kesehatan jiwa, raga, dan psikis seseorang. Tokoh Bendung dalam novel ini hanya bisa membagikan kesedihan yang dialaminya pada buku harian yang dimilikinya. Seperti halnya di kehidupan nyata, banyak sosok ayah yang tidak bertanggung jawab. Seorang ayah yang seharusnya dapat memberikan nafkah, rasa aman, dan kebahagiaan bagi keluarganya justru menjadi sosok “monster” yang bisa menyerang kapan saja. Menurut Narasi pada Mei 2023, Indonesia menduduki peringkat ketiga Fatherless Country di dunia. Padahal keterlibatan figur ayah dalam perkembangan anak sangat penting, baik secara fisik, akademik, maupun psikologis. Peran ibu tanpa disertai peran ayah dalam perkembangan anak bagaikan berjalan menggunakan satu kaki, tidak berjalan seimbang.

Baca Juga :  Melek Agama dan Politik Melalui Antologi Puisi Negeri Daging Karya Ahmad Mustofa Bisri

Salah satu penyebab dari fenomena fatherless adalah budaya patriarki yang masih melekat pada sebagian masyarakat Indonesia. Orang-orang yang masih menganut budaya patriarki beranggapan bahwa tanggung jawab untuk merawat dan membesarkan seorang anak sepenuhnya berada pada seorang ibu, ayah hanya berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan dari segi materi saja. Terdapat beberapa figur ayah yang sadar akan perannya dalam pertumbuhan anak, namun terkadang orang tua mereka yang masih menganun budaya patriarki menghambat pengimplementasian peran tersebut. Memang tidak mudah menghilangkan budaya yang sudah turun temurun dilakukan, hal itu bisa dimulai dari diri kita sendiri. Dengan perkembangan teknologi seharusnya anak muda lebih melek terhadap fenomena ini dan berusaha untuk menerapkan parenting yang baik untuk anaknya di masa depan. Kesiapan untuk membesarkan seorang anak harus dipersiapkan secara matang sebelum memutuskan untuk mempunyai anak atau bahkan sebelum menikah. Kesadaran masyarakat akan pemenuhan kebutuhan psikologis bagi anak perlu ditingkatkan agar kecerdasan emosional anak juga dapat berkembang dengan baik.

Kurangnya pemenuhan salah satu aspek kebutuhan anak dapat mempengaruhi perkembangan anak baik saat masih berusia dini maupun setelah berusia lanjut. Salah satu aspek kebutuhan yang tidak terpenuhi dapat menyebabkan seorang anak merasa sedih. Eakes, Burke, & Hainsworth (via Wijaya dkk., 2022) mengungkapkan bahwa kesedihan kronis merupakan kembalinya kesedihan yang mendalam, meresap atau sensasi terkait kesedihan lainnya setelah mengalami kehilangan besar secara berturut-turut. Tokoh Bendung pada novel ini tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhannya sedari kecil. Kesedihan yang dialami datang silih berganti yang dimulai dari kehilangan ibu kandungnya, ayah kandungnya yang meninggal, kerabat yang tidak lagi mempedulikannya, dijauhi oleh teman sebaya, dan harus bekerja demi bertahan hidup.

Kurangnya pemenuhan tersebut berimbas kepada kepribadian yang terbentuk pada diri Bendung sampai usia remaja, yaitu menjadi sosok yang kurang percaya diri, mengalami kecemasan berlebihan terhadap masa depan, sifat tertutup yang berlebihan, dan lain sebagainya.

Novel Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini bila dikulik lebih jauh mengangkat permasalahan yang serius, akan tetapi tema yang diangkat terlalu pasaran dan ending ceritanya mudah ditebak. Di luaran sana sudah banyak novel atau karya sastra lain yang mengangkat cerita kesedihan seorang anak yang harus berjuang untuk hidup karena orang tuanya meninggal dunia. Dalam dunia estetika dikenal empat prinsip keindahan, yaitu keutuhan (unity), keseimbangan (balance), penonjolan (style), dan kebaruan (novelty). Prinsip keseimbangan pada karya sastra dibagi menjadi dua, yaitu simetris dan asimetris. Djelantik (2008: 55) berpendapat bahwa pengalaman rasa seimbang biasanya memberikan ketenangan, keseimbangan yang simetris memberikan kesan diam, statis, dan tidak akan berubah. Bila dilihat dari segi tema yang mengangkat tentang kesedihan, novel ini memiliki prinsip keseimbangan yang simetris karena dari awal sampai akhir cerita berisi tentang kesedihan-kesedihan yang dialami oleh tokoh dan membuktikan bahwa novel ini bersifat statis. Sifat statis pada novel ini dapat memicu kebosanan dari pembaca. Alur cerita yang dibuat datar dalam kesedihan, tidak ada permainan emosi (perubahan dari cerita bahagia ke cerita sedih) dalam novel ini. Pada lain sisi, sifat statis dapat memberikan dampak positif berupa penggambaran kesedihan yang dapat tersampaikan dengan baik.

Baca Juga :  Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Penggambaran tokoh kehidupan dan kesedihan yang dialami tokoh utama (Bendung) diceritakan melalui buku harian yang ditulisnya dengan cara kepenulisan yang menyerupai sajak. Jauh Rasanya (judul). bu, setelah kau pergi,/semuanya ikut pergi dari dunia ini./sudah kucobam mengumpulkan/serpihan yang tersisa,/tetapi aku sering kali terluka.//bu, setelah kau pergi,/semuanya terasa asing di dunia ini./hari-hari aku menepi sendirian./jauh dirimu rasanya./jauh sekali diriku rasanya (Jauh Rasanya, hal. 79). Hal itu menjadi salah satu keunikan dari novel ini, namun dengan penceritaan yang demikian dan tidak disertai dengan penceritaan berbentuk narasi yang cukup menyebabkan penceritaan tokoh utama kurang detail. Penggambaran suasana yang kurang detail juga dapat menghambat penghayatan oleh pembaca. Pada awalnya penulis juga mengalami kesulitan untuk menentukan tokoh utama. Di awal novel ini menceritakan tentang kehidupan tokoh Pak Tua, namun cerita di dalam novel ini didominasi oleh kisah Bendung. Kesulitan tersebut juga dapat dialami oleh pembaca yang lain.

Pada novel ini, tokoh Bendung mengibaratkan dirinya sebagai ikan buntal. ibu melemparku ke laut dan/membiarkan aku menjadi/seekor ikan buntal kecil/terombang ambing/dalam bahaya/dalam cahaya (Aku adalah Anak Ikan Buntal Kecil yang dibuang Ibuku ke Laut, hal. 34). Ikan buntal merupakan salah satu ikan yang mengandung racun paling mematikan di dunia, lebih mematikan daripada sianida. Ketika ikan buntal merasa terancam akan mengembungkan diri dan mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya. Perlu teknik khusus untuk membersihkan dan mengolah ikan buntal agar dapat dikonsumsi dengan aman. Pengibaratan tokoh Bendung dengan ikan buntal mungkin karena ikan buntal yang identik dengan racun di dalam dirinya memiliki kemiripan dengan Bendung yang menyimpan segala luka dan kesedihan di dalam dirinya. Kesedihan yang dialami Bendung kian lama semakin menggerogoti kewarasannya, sama halnya dengan racun.


Tentang Penulis: Shinta Faradina Shelmi merupakan salah satu mahasiswa aktif tahun 2022 Universitas Negeri Yogyakarta, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang lahir tanggal 28 Januari 2004. Di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa, Shinta memanfaatkan waktu luangnya untuk melakukan aktifitas yang disukainya, yaitu menulis dan membaca cerita.

Berita Terkait

Damar Kambang: Sebuah Perspektif Semiotik dan Kultural
Manusia Makhluk Egois dan Bengis
Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat
Melek Agama dan Politik Melalui Antologi Puisi Negeri Daging Karya Ahmad Mustofa Bisri

Berita Terkait

Rabu, 15 Mei 2024 - 07:30 WIB

Damar Kambang: Sebuah Perspektif Semiotik dan Kultural

Minggu, 12 Mei 2024 - 08:00 WIB

Ikan Buntal, Mem-Bendung Racun

Sabtu, 11 Mei 2024 - 11:00 WIB

Manusia Makhluk Egois dan Bengis

Selasa, 6 Februari 2024 - 13:34 WIB

Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Sabtu, 25 November 2023 - 06:29 WIB

Melek Agama dan Politik Melalui Antologi Puisi Negeri Daging Karya Ahmad Mustofa Bisri

Berita Terbaru

Inspirasi

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional dan Relevansinya di Masa Kini

Senin, 20 Mei 2024 - 06:00 WIB

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Mengutamakan Implementasi

Minggu, 19 Mei 2024 - 12:00 WIB

Khoirus Safi' (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Kebodohan dan Ingin Diakui Tanpa Mengetahui

Minggu, 19 Mei 2024 - 09:00 WIB