Sudah Waktunya Madura Naik Level

Redaksi Nolesa

Rabu, 15 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Adi Purnomo, M. Pd (foto: dokumen pribadi)

Adi Purnomo, M. Pd (foto: dokumen pribadi)

Oleh: Adi Purnomo

(Peternak, pekerja pemberdayaan, pengamat sosial-budaya yang tinggal di Desa Kolpo Batang-Batang)

Baru-baru ini viral keberadaan toko kelontong atau yang dikenal dengan warung Madura di Bali dan daerah lainnya yang menjadi objek warga Madura mengais rezeki. Hal tersebut dipicu lantaran adanya kemungkinan akan diberlakukannya peraturan pembatasan jam buka toko kelontong. Sehingga hal itu banyak memantik reaksi dari berbagai pihak dan berbagai kalangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baik berasal dari warga Madura yang memang sudah merantau di Jakarta ataupun dari warga Madura yang berada di madura sendiri. Tidak berhenti disitu saja, reaksi juga muncul dari masyarakat diluar madura. Ada banyak respon & tanggapan yang positif, termasuk dari warga Jakarta sendiri.

Mereka merespon terhadapa akan, atau kemungkinan adanya peraturan tersebut. Warga Madura serta warga jakarta menegaskan ketidak setuajuannya. Menurut mereka, warga Jakarta bahwa keberadaan toko kelontong Madura di jakarta buka 24 jam sangatlah banyak membantu mereka, warga jakarta.

Di samping harganya lebih murah, pelayananaya bagus, orang-orangnya ramah, lebih dari itu bahwa keberadaan warung kelontong yang buka 24 jam sangat membantu mereka warga Jakarta saat tengah malam, disaat semua toko-toko besar sudah tutup sementara waraga mempunyai kebutuhan yang mendesak semisal obat-obatan ringan, makan-makanan ringan ataupun disaat mereka dalam perjalan kendaraannya macet karena kehabisan bensin. Maka toko kelontong Madura lah sebagai solusinya.

Baca Juga :  Rapor Merah Legislasi 2022

Sehingga tidakla berlebihan jika warga Jakarta sendiri bereaksi keras atas komungkina akan diberlakukanya aturan buka toko kelontong Madura di Jakarta. Nah lebih dari narasi di atas, sebenarnya yang ingin di tekankan pada narasi ini oleh penulis adalah pertama, bahwa warga Madura yang ada di jakarta harus terus menguatkan solidaritasnya, saling membantu, saling kerjasama, saling ssilaturrahmi

Di mana sesama pekerja toko kelontong yang ada di jakarta saling silaturrahim dengan maksud dan tujuan untuk menguatkan tali persaudaraan, menguatkan pertaretanan sesama warga madura. Kedua, bahwa warga Madura yang ada di jakarta haruslah berdampak bagi kemaslahatan sosial-masyarakat serta agama.

Hal ini tentunya bisa dilakukan manakala warga Madura yang ada di jakarta merantau bukan hanya bertujuan semata-mata untuk ekonomi semata. Tapi lebih dari itu, tujuannya haruslah naik level. Yaitu harus ada jalan dakwah yang jadi tujuannya sebagimana hal ini pernah ada dan terjadi dalam sejarah perjalana para wali.

Baca Juga :  Jihadnya Wanita

Wali Songo di samping masuk ke Indonesia sebagai pedagang, sebagai saudagar merek juga menerapkan perjuanga keagamaan dengan ngemong masyrakat pada masanya, ngopeni masyarkat dalam hal keagamaan, pertanian, peternakan, pengobatan dan bahkan masuk ke pusat-pusat pemerintahan dengan mengawinkan agama, budaya dan kekuasaan. Sehingga pada hari ini bisa kita rasakan manfaatnya betapa peran para wali tempo dulu luar biasa dan amat sangat strategis.

Nah, berangkat cerita dari para wali tersebut maka warga Madura yang ada di Jakarta perlu naik level, ya naik level. Mengapa naik level ini saya tegaskan sampai beberapa kali karen level inilah yang bisa menaikkan derajat warga Madura di jakarta dan warga madura di indonesia . Dari penjaga atau memiliki toko kelontong menjadi pemegang-pemegang kunci di sistem penting negara, pemegang kunci dalam kekuasaan, pemegang kunci dalam ekonomi Nasional, dari ekonomi berbasis kelontong naik level pada ranah ekonomi tingkat elit semisal di ritel tingkat elit, migas, tambang dllnya.

Warga Madura dengan toko kelontongnya sudah bisa menggemparkan indonesia, kedepannya Indonesia haruslah gempar dengan warga Madura masuk di pusat-pusat strategis kekuasaan dalam negara, warga Madura haruslah punyak pengacara hebat seperti bang hotman yang dari Sumatera. punyak tentara, pengusaha dan politisi hebat seperti Luhut yang juga dari Sumatera, pengusaha hebat seperti erick tohir dan Sandiaga Uno, teknokrat dan politisi hebat seperti Airlangga dan pemimpin hebat seprti Jokowi, Gusdur, Gus Muahimin dan lainnya. Hal itu bisa terwujud manakala warga Madura yang ada di Madura dan warga Madura yang ada di jakarta mempunyai kesadaran naik level, kesadaran pendidikan berkualitas dan kesadaran kebersamaan bukan kesadaran konflik, menghindari konflik tentunya harus sudah diantisipasi sejak hari ini baik konflik dengan sesama warga Madura ataupun konflik sesama anak bangsa.

Baca Juga :  Konstitusionalitas Jabatan Guntur Hamzah Pasca Putusan MK

Warga Madura juga harus terus memupuk kesadaran bermanfaat bahwa warga Madura dimanapun berada haruslah terus memberikan contoh terbaik dengan akhlak-sopan santunnya, warga madura dimanapun berada haruslah terus menebar manfaat bagi lingkungannya. Yang bisa berbagi harta maka silahkan berbagi hartanya, yang bisa berbagi ilmu agama dllnya silahkan berbagi ilmu, yang bisa berbagi kebersamaan maka silahkan berbagi kebersamaan.

Salam settong ate!

Berita Terkait

Inilah Fase Keindahan Hidup Umat Manusia
Berebut Tiket Cawabup Fauzi
Sedekah Sebagai Bukti Iman
Indonesia Negara Bersama
Mahluk Tuhan Paling Dahsyat
Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 
Mengapa Suara Ganjar Anjlok?
Selamat Datang di Era Otoritarianisme Kompetitif

Berita Terkait

Jumat, 17 Mei 2024 - 10:07 WIB

Inilah Fase Keindahan Hidup Umat Manusia

Rabu, 15 Mei 2024 - 14:19 WIB

Sudah Waktunya Madura Naik Level

Selasa, 14 Mei 2024 - 18:41 WIB

Berebut Tiket Cawabup Fauzi

Jumat, 10 Mei 2024 - 08:17 WIB

Sedekah Sebagai Bukti Iman

Senin, 25 Maret 2024 - 04:23 WIB

Indonesia Negara Bersama

Rabu, 20 Maret 2024 - 07:02 WIB

Mahluk Tuhan Paling Dahsyat

Kamis, 22 Februari 2024 - 13:01 WIB

Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 

Kamis, 15 Februari 2024 - 16:26 WIB

Mengapa Suara Ganjar Anjlok?

Berita Terbaru

Inspirasi

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional dan Relevansinya di Masa Kini

Senin, 20 Mei 2024 - 06:00 WIB

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Mengutamakan Implementasi

Minggu, 19 Mei 2024 - 12:00 WIB

Khoirus Safi' (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Kebodohan dan Ingin Diakui Tanpa Mengetahui

Minggu, 19 Mei 2024 - 09:00 WIB