Oleh | Sujono (Om Jo)
MIMBAR, NOLESA.COM – Saat musim dingin tiba, semut tahu bahwa masa sulit itu bersifat sementara dan musim panas akan kembali lagi.
Filosofi semut adalah metafora kehidupan yang populer mengajarkan empat prinsip utama kesuksesan; tidak pernah menyerah menghadapi rintangan, selalu bersiap untuk masa depan, berpikir positif saat masa sulit, dan bekerja keras serta bergotong royong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Semut tidak akan berhenti saat jalannya dihalangi. Jika satu jalan tertutup, mereka akan mencari jalan lain; memanjat, menerobos ke bawah, atau memutarinya.
Semut selalu mengumpulkan makanan di musim panas untuk bekal di musim dingin. Ini mengajarkan kita untuk tidak terlena dengan kondisi saat ini dan selalu mempersiapkan masa depan.
Saat musim dingin tiba, semut tahu bahwa masa sulit itu bersifat sementara dan musim panas akan kembali lagi.
Semut punya naluri kuat untuk saling membantu satu sama lain dalam koloni. Beban yang berat seperti sisa makanan yang besar, bisa dipindahkan berkat kerja sama yang solid.
Allah Subhanahu wa Ta’ala, menganugerahi Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagai mu’jizat bisa berbicara dengan binatang, termasuk semut.
Alkisah…
Suatu hari, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, bertemu dengan seekor semut, lalu bertanya; “Hai semut, berapakah rezeki yang engkau perlukan untuk hidupmu setahun?”
Semut berkata; “Sebutir gandum, wahai Nabi Allah,” sang semut menegaskan.
“Hanya sebutir gandum?” tanya Nabi Sulaiman, hampir tidak percaya.
“Ya, hanya sebutir gandum, wahai Nabiyullah,” sang semut meyakinkan.
Pendek Cerita…
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, menempatkan semut tersebut dalam toples tertutup dan memberinya sebutir gandum untuk keperluan hidupnya selama setahun.
Setahun Kemudian…
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, membuka toples tersebut. Dan betapa terkejutnya Nabi Sulaiman melihat gandum itu masih tersisa separuhnya, dan semut tersebut dalam keadaan sehat bugar.
Nabi Sulaiman berkata kepada sang semut; “Hai semut, engkau bilang jatahmu satu butir gandum setahun, mengapa masih tersisa separuhnya setelah setahun ini?”
Sang semut berkata penuh hormat; “Wahai Nabi Allah, kalau aku di luar sana (bebas), Allah yang menjamin rezeki-ku, dan aku bertawakal kepada-Nya.
Allah tidak akan pernah lupa dan lalai dengan rezeki yang menjadi bagianku. Karena engkau menempatkan aku di tempat tertutup dan engkau memaksa aku untuk ‘tawakal’ kepada engkau, maka aku hanya memakan separuh jatahku.
Aku tidak yakin apakah engkau akan ingat kepadaku setelah setahun ini? Karena itu, aku mencadangkan separuhnya, kalau-kalau engkau lupa dengan jatahku. Sebab, engkau dan aku sama-sama makhluk-Nya.”
Mendengar maklumat sang semut, seketika Nabi Sulaiman bersujud kepada Allah, seraya lisannya menyebut kalimat-kalimat pujian akan Kebesaran dan Keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Allahu Akbar…
Kutipan Bijak;
“Orang yang kamu pikir bodoh dan tidak penting adalah seseorang yang datang dari Tuhan, yang mungkin mempelajari kebahagiaan dari kesedihan dan pengetahuan dari kegelapan.”
(Kahlil Gibran)
Salam Jum’at,
*) Penulis lepas tinggal di Perum Satelit Kota Sumenep









