Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Redaksi Nolesa

Selasa, 17 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh Sujono

MIMBAR, NOLESA.COM – Klimaks, perjalanan spiritual Muhammad bin Abdullah, mondar-mandir ke gua sepi untuk mengasingkan diri yang sebetulnya merupakan skenario Allah Swt.

“Bacalah,” kata orang asing yang belum pernah dilihatnya itu. “Aku tidak bisa membaca,” jawabnya berdebar-debar. Orang asing itu tiba-tiba mendekapnya erat sehingga ia susah bernafas, tubuhnya lemas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemudian dekapan itu dilepaskan, lalu orang asing itu berkata lagi; “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Menciptakan. (Dia) menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Paling Pemurah, Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan al-Qalam. (Dia) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Laki-laki yang tidak bisa membaca dan menulis itu (ummiy), kemudian mengulang bacaan tersebut dengan hati bergetar, tubuhnya berguncang hebat, sekujur tubuhnya basah oleh peluh. Itulah Muhammad bin Abdullah. Lalu ia bergegas pulang menemui belahan jiwanya (Khadijah), sambil berkata; “Selimuti aku, Selimuti aku!”.

Baca Juga :  Deinstitusionalisasi Agama: Kritik Gus Dur dan Cak Nur atas Gagasan Negara Islam

Setelah badannya tidak lagi menggigil, ia bertanya kepada belahan jiwanya (istrinya) dan menceritakan apa yang dialaminya, “Aku khawatir terhadap keadaan diriku,” katanya lembut.

Setelah menghibur sandaran jiwanya (sang suami), lalu sang istri (belahan jiwa) membawanya kepada seseorang bernama Waraqah.

Setelah menceritakan apa yang dialaminya, Waraqah berkata, “Yang datang dan mendekap erat badanmu hingga menggigil itu, adalah Jibril, malaikat yang pernah datang kepada Musa.” Kemudian ia melanjutkan, “Demi yang diriku berada di tangan-Nya, engkau adalah benar-benar Nabi umat ini.”

Itulah peristiwa dahsyat yang menjadi klimaks perjalanan spiritual Muhammad bin Abdullah. Tiga tahun mondar-mandir ke gua sepi untuk mengasingkan diri sebetulnya merupakan skenario Allah. Dengan cara itu, ia tengah dipersiapkan untuk menerima sebuah beban risalah yang amat berat.

Tidak ada yang istimewa pada gua itu. Letaknya di Jabal Nur, sebuah bukit sepi yang tidak jauh dari apa Kota Mekkah. Di gua tersebut, laki-laki suci itu kerap menyendiri. Dengan bekal roti gandum dan air secukupnya, ia menghabiskan waktunya untuk beribadah dan bertafakkur di situ.

Baca Juga :  [Meng]apa Filsafat itu Penting?

Namanya…Gua Hira. Apa yang membawanya berkhalwat di tempat itu? Karena kegelisahannya menyaksikan kejahiliyahan kaumnya yang makin merajalela. Dadanya sesak dan bergolak ingin melakukan perbaikan.

Tekad laki-laki lembut ini tidak main-main. Hatinya berbisik, “Masyarakat ini harus mengubur ideologi dan tradisi kemusyrikannya.”Tapi ia merasa belum memiliki kekuatan jiwa yang kokoh serta belum ada panduan dan langkah-langkah kongkrit. Harapannya, dengan memisahkan diri (uzlah) dari kesibukan duniawi, ia bisa memiliki kejernihan hati dan kekuatan jiwa yang tangguh guna merealisasikan cita-citanya.

Di tahun ke-3 pengasingannya, selama enam bulan, suami seorang janda kaya raya itu selalu mengalami mimpi yang menyerupai fajar yang tengah menyingsing di pagi hari. Akhirnya, di bulan Ramadhan, Allah berkehendak melimpahkan rahmat-Nya kepada penghuni bumi dengan menurunkan Wahyu kepada laki-laki itu melalui malaikat-Nya.

Baca Juga :  Puan, AHY dan Oase Politik Rekonsiliasi

Dini hari, saat Wahyu pertama Al-Qur’an diterimanya, menjadi saat yang paling monumental bagi kehidupan Muhammad bin Abdullah. Di usianya yang genap 40 tahun, lebih 6 bulan 12 hari, menurut kalender Hijriyah, atau 39 tahun, lebih 3 bulan 22 hari, menurut kalender Masehi. Hari itu, dengan disaksikan Gua Hira dan alam semesta, Allah MELANTIKNYA menjadi utusan-Nya. Hari itu, Muhammad bin Abdullah, resmi menjadi Nabi dan Rasul-Nya, yang bertugas membawa risalah yang amat berat, yaitu; “Menyelamatkan Umat Manusia.”

Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad!

Dr Muhammad ‘Aly Ash-Shabuny, dalam tafsirnya menunjukkan, bahwa tiga surat dalam Al-Qur’an yang diturunkan secara berdekatan waktunya, yaitu; “Surat Al-‘Alaq, Al-Muzammil, dan Al-Mudzatsir.” Dari tiga surat itu tersirat tiga komitmen dalam awal risalah kenabian Muhammad Saw, yang menjadi semacam kerangka (paradigma) misi perjuangannya, yakni; “Komitmen Ideologi, Spiritual, dan Operasional.”

*) penulis lepas tinggal di Perum Sumekar Kota Sumenep

Berita Terkait

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya
Mabrur Tanpa Berhaji
Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra
Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern
Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha
Uji Nyali Hakim Kasus ODGJ Sapudi: Catatan Jurnalis
Tentang Waktu
Hanya Demi Memburu Sebuah Hadits

Berita Terkait

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:13 WIB

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:21 WIB

Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:38 WIB

Mabrur Tanpa Berhaji

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:37 WIB

Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:45 WIB

Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern

Berita Terbaru

Ramadan 1447 H, JMSI Sumenep Santuni Anak Yatim dan Janda (Foto: Ist)

Daerah

Ramadan 1447 H, JMSI Sumenep Santuni Anak Yatim dan Janda

Senin, 9 Mar 2026 - 19:42 WIB

Cara Menko PM Kampanyekan Hidup Sehat di Bulan Ramadan (Foto: Ist)

Nasional

Cara Menko PM Kampanyekan Hidup Sehat di Bulan Ramadan

Minggu, 8 Mar 2026 - 20:00 WIB

Rp878 Miliar untuk Korban Bencana Sumatera (Foto: Ist)

Nasional

Rp878 Miliar untuk Korban Bencana Sumatera

Minggu, 8 Mar 2026 - 15:04 WIB