Oleh | Sujono (Om Jo)
MIMBAR, NOLESA.COM – “Janganlah kamu mematikan hati dengan makan dan minum berlebihan, meskipun makanan dan minuman itu halal; Sebab, hati itu ibarat tumbuhan, jika terlalu banyak disiram, ia akan mati.” (Nabi Saw).
Imam Al-Ghazali menulis sebuah kisah. Nabi Yahya ‘alaihissalam, bertemu dengan iblis yang sedang membawa sesuatu barang. Kepada iblis Nabi Yahya bertanya, “Untuk apa barang itu?” Iblis menjawab, “Barang ini adalah syahwat untuk memancing anak cucu Adam.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Adakah dalam diriku sesuatu yang dapat engkau pancing?” tanya Nabi Yahya ‘alaihissalam.
“Tidak ada. Hanya pernah terjadi pada suatu malam, engkau makan agak kenyang, dan aku dapat menarikmu sehingga engkau merasa berat mengerjakan shalat,” jawab iblis terus terang.
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah di atas? Bahwa, untuk menjaga isi perut agar tidak terlalu kenyang, bukan hal yang sederhana. Dituntut kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu.
Syetan (iblis) gemar sekali mendorong manusia menikmati makanan enak sebanyak mungkin. Kalau sudah terbiasa dengan makanan dan minuman enak, iblis kemudian menariknya untuk mendekati barang-barang syubhat dan kemudian yang haram.
Makanan halal yang kita konsumsi pada hakekatnya adalah bekal untuk beribadah. Bila porsi itu sudah terpenuhi, lalu melewati batas, berarti pemborosan.
Maklumat Nabi Saw;
“Sesungguhnya yang halal itu tidak datang kepadamu melainkan sebagai bekal…”
Sekali pun makanan itu halal, tidak menjadi alasan untuk menikmati dengan tak terkendali. Beliau Saw, bersabda;
“Janganlah kamu mematikan hati dengan makan dan minum berlebihan, meskipun makanan dan minuman itu halal. Sebab hati itu ibarat tumbuh-tumbuhan, jika terlalu banyak disiram, ia akan mati.”
Abu Ja’far berkata; “Perut jika lapar, membuat seluruh anggota badan tidak banyak menuntut dan merasa tenteram. Tetapi jika kenyang, maka anggota tubuh lainnya menjadi lapar, banyak tuntutannya.”
Semoga kita mampu menjaga perut dari hal-hal yang merugikan masa depan kita; dunia dan akhirat.
Pemahaman;
“Hati ibarat tumbuh-tumbuhan, kalau kebanyakan disiram ia akan mati,” perumpamaan Nabi Saw, maknanya sangat dalam. Kita sering berpikir “kan halal”, jadi bebas makan sepuasnya. Padahal, yang bahaya bukan haramnya, tapi kenyangnya.
Kisah Nabi Yahya ‘alaihissalam bertemu dengan iblis merupakan tamparan halus. Beliau hanya sekali makan agak kenyang, iblis sudah bisa bikin berat untuk melakukan shalat. Nah, kalau kita yang sering makan tiga piring + STMJ, lalu gimana kata iblis?
Pelajaran Utamanya;
Makanan halal itu bekal ibadah, bukan tujuan ibadah. Kalau dipahami terbalik, ibadah jadi berat.
Kenyang itu pintu syubhat dan syahwat. Perut kenyang, mata jadi lapar, hati jadi keras.
Lapar bikin tenteram. Anggota badan tidak banyak menuntut. Makanya puasa itu obat hati.
Nasehat Abu Ja’far itu sangat relevan dengan zaman sekarang. Kita sering lapar mata, padahal perut sudah kenyang.
Wallahu a’lam…
*) Penulis lepas tinggal di Sumenep









