Oleh | Sujono
MIMBAR, NOLESA.COM – Suatu ketika, Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra, sedang melakukan thawaf di Baitullah. Tanpa sengaja Beliau melihat seorang laki-laki bergantung pada kain penutup Ka’bah (Kiswah), seraya berdo’a;
“Ya Rabb… yang tidak direpotkan oleh sebutan-sebutan yang elok dan tidak disilapkan oleh permintaan-permintaan yang banyak serta tidak disibukkan oleh pengaduan-pengaduan yang bertubi-tubi, BOLEHKAH AKU MENCICIPI DINGINNYA AMPUNAN (MU) dan MANISNYA RAHMAT (MU)?”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sayyidina Ali yang mendengar seruan jiwa laki-laki yang menghanyutkan itu, bertutur;
“Wahai hamba Allah, ulangilah perkataanmu itu.”
Laki-laki itu berkata;
“Apakah engkau mendengarkanku?”
“Ya,” jawab Sayyidina Ali, spontan.
Lalu orang itu berkata lagi dengan maklumat yang indah;
“Demi Khidir yang jiwanya berada dalam genggaman-Nya. Barangsiapa orang yang mengucapkan do’a itu pada setiap selesai shalat fardhu, maka ia akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dari Allah; sekali pun dosa-dosanya itu laksana bilangan pasir dan seperti butir-butir air hujan atau bagaikan banyaknya daun-daun pepohonan.”
(Riwayat Al-Khathib dalam sejarah Baghdad, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Abdullah bin Mahraz, dari Yazid bin Asham, dari Ali bin Abi Thalib Ra)
Sya’ban,
Bulan Muhammad Saw
*) penulis lepas tinggal di Perum Bumi Sumekar Kota Sumenep










