Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Redaksi Nolesa

Jumat, 27 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh Sujono

MIMBAR, NOLESA.COM – Cincin Sulaiman, saat berpuasa, manusia mendapatkan kembali kekuasaan atas dirinya sendiri.

Kata Rumi; “Puasa adalah api penyucian yang membakar hawa nafsu dari keterikatan duniawi, sekaligus ‘Cincin Sulaiman’ yang memberikan kekuatan spiritual.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan ruang batin untuk menyantap hidangan langit, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan mengaktifkan cahaya hikmah.

Puasa adalah api yang menghancurkan sifat-sifat rendah dan keduniawian, bertindak sebagai obat penawar bagi jiwa yang patah hati atau kecewa dengan dunia.

Baca Juga :  Kebut pengesahan RUU IKN untuk siapa?

Cincin Sulaiman (Kekuasaan) dimaksudkan, bahwa saat berpuasa, manusia mendapatkan kembali kekuasaan atas dirinya sendiri. Sedangkan melepaskannya berarti kehilangan kemampuan diri.

Puasa juga menciptakan ruang di dalam diri (seperti seruling yang kosong) untuk menerima “jamuan rohani” atau hidangan langit yang jauh lebih baik daripada sekadar makanan fisik.

Puasa mendidik jiwa untuk tidak sekadar menahan haus dan lapar, tetapi juga membebaskan diri dari keterikatan, sehingga rohani dapat terbang menembus cakrawala nan luas tak bertepi.

Puasa adalah obat terkuat untuk menaklukkan nafsu yang liar. Dalam pandangan Sufi, puasa adalah bentuk pengorbanan tertinggi demi kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekaligus alat untuk menyucikan hati agar menjadi lebih murni berkilau.

Baca Juga :  Terjebak Banjir dan Terjerembab ke Jurang: Catatan Liputan dari Patean

Puasa adalah jalan untuk menjadi orang yang istimewa atau bertakwa (Al-Baqarah: 183).

Kata Rumi, “Berpuasalah dengan segenap jiwa, karena puasa adalah raja dari segala obat.”

Puasa adalah hadiah dari Allah Ta’ala, untuk manusia yang beriman atau mereka yang sangat membutuhkannya. Puasa sebagai wasilah untuk melahap makanan rohani yang suci.

Puasa adalah perjalanan spiritual untuk membangkitkan keagungan jiwa. Percayalah, puasa adalah makanan “ruh” yang tidak hanya menyegarkan kualitas jiwa, tetapi juga akan menyempurnakan kondisi tubuh kita. Bagi seseorang yang patah hati dengan dunia (kekecewaan dan rasa cemas), puasa adalah obat penawar terbaik. Wallahu a’lam…

Kutipan Bijak; Jika manusia dapat mengendalikan diri terhadap segala kesenangan duniawi, barulah dapat mencapai kebahagiaan dan ketenangan batin. Rasa lapar dan rasa sakit berguna untuk melatih moral manusia. (Filsuf Diogones).

Baca Juga :  Seleksi Calon Hakim Konstitusi dan “Tafsir Sesat” DPR

*) Penulis lepas tinggal di Perum Sumekar Kota Sumenep

Berita Terkait

Hari Tasyrik
Masjid Kampus Harus Berfungsi Lebih
Jangan Mematikan Hati
Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa
DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026
Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci
Mabrur Tanpa Berhaji
Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 11:42 WIB

Hari Tasyrik

Jumat, 15 Mei 2026 - 12:32 WIB

Masjid Kampus Harus Berfungsi Lebih

Jumat, 15 Mei 2026 - 09:11 WIB

Jangan Mematikan Hati

Jumat, 24 April 2026 - 07:03 WIB

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa

Jumat, 10 April 2026 - 18:53 WIB

DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Puisi

Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum

Jumat, 12 Jun 2026 - 11:15 WIB

(for NOLESA.COM)

Resensi Buku

Ketika Jelata Angkat Suara

Kamis, 11 Jun 2026 - 01:38 WIB