Oleh AHMAD FARISI*
Setelah sekian minggu kita menikmati masa kampanye, nyaris tak ada yang bisa kita banggakan dari aktivitas kampanye yang dilakukan para kandidat capres-cawapres. Dangkal dan tidak menyentuh akar permasalahan bangsa.
Ironisnya, aktivitas kampanye yang dilakukan para kandidat capres-cawapres justru juga malah lebih fokus pada gimik yang tidak perlu. Bahkan, salah satu di antaranya secara terang-terangan menjadikan gimik sebagai tema besar kampanye. Seolah-olah, persoalan besar yang dihadapi bangsa, seperti kemiskinan, pengangguran, dan perubahan iklim bisa diselesaikan dengan berjoget ria semata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penggunaan gimik dalam aktivitas kampanye sebenarnya bukanlah hal yang terlarang. Akan tetapi, mengeksploitasi gimik secara tidak proporsional, alias berlebihan, juga bukanlah hal yang baik bagi proses demokrasi. Sebab, aktivitas kampanye yang hanya berfokus pada gimik, pada akhirnya akan menenggelamkan gagasan sebagai nilai utama dari proses politik (Jawa Pos, 15/12/2023).
Karena itu, wajarlah bila aktivitas kampanye yang mengutamakan gimik daripada gagasan sebagai tema besar kampanye dikatakan sebagai pembodohan publik. Sebab, aktivitas kampanye yang hanya berfokus pada gimik, tidak mengajak pemilih untuk memilih kandidat berdasarkan kualitas dan kapabilitas yang dimilikinya tetapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan receh yang tidak berkaitan dengan persoalan yang dihadapi oleh bangsa saat ini dan ke depan.
Suatu waktu, iseng-iseng saya bertanya kepada kawan mahasiswi: ”Siapa capres-cawapres pilihanmu di Pilpres 2024? ”Ya, pasti pasangan A lah,” jawab kawan saya. “Mengapa kamu memilih pasangan tersebut?” ”Karena pasangan ini lucu,” jawabnya. Jadi, kawan saya itu memilih capres-cawapres karena identifikasi kelucuannya, bukan karena gagasan dan program politik yang ditawarkannya.
Kampanye sebagai Ruang Adu Gagasan
Kampanye adalah aktivitas menjajakan gagasan. Bukan kontestasi adu kocak, adu lucu. Juga, bukan kompetisi joget-jogetan belaka. Sebab, sejatinya, dalam pelaksanaan pemilihan umum, publik hendak memilih pemimpin bangsa yang bisa dijadikan teladan dalam kehidupan bernegara, bukan memilih komika.
Karena itu, aktivitas kampanye harus dimaknai sebagai arena kontestasi gagasan untuk mendapatkan penilaian publik tentang siapa yang layak untuk dipilih sebagai kepala pemerintahan dan sekaligus kepala negara berdasarkan gagasan dan program-program politiknya. Bukan berdasarkan kelucuan dan yang lainnya.
Dalam debat terbuka yang diselenggarakan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), para kandidat capres dan cawapres terlihat cukup serius menjajakan gagasan, menawarkan pemikiran bernas. Namun, di luar debat terbuka itu, para kandidat capres-cawapres justru tampak tidak serius menjajakan gagasan dan malah berfokus pada gimik-gimik yang tidak perlu.
Seharusnya, para kandidat capres-cawapres menjadikan debat terbuka yang diadakan KPU itu sebagai rule model dalam melakukan kampanye. Yakni, konsisten menawarkan gagasan, bukan sebatas menjajakan gimik yang sama sekali tidak substansial dan tidak pula menjawab persoalan yang dihadapi bangsa.
Setiap konstituen memang memiliki karakteristik berbeda-beda. Ada yang menyukai aktivitas kampanye dalam bentuk diskusi-diskusi serius, tetapi juga ada yang menyukai aktivitas kampanye yang cair-mengalir. Karena itu, berdasarkan identifikasi ini, model dan bentuk kampanye bisa jadi berbeda-beda dan semuanya dapat kita terima sepanjang tidak melampaui etika dan batas kewajaran.
Namun demikian, bagaimanapun bentuk dan kemasan kampanye, satu hal yang harus pasti ada di dalamnya adalah gagasan bernas. Artinya, dalam melakukan aktivitas kampanye, para kandidat jangan hanya memanjakan selera audien, tetapi juga harus menawarkan apa yang terbaik untuk bangsa ini ke depan.
Saat ini, angka pemilih mengambang atau swing voters dan pemilih yang belum menentukam pilihan atau undecided voters masih tinggi. Ini artinya, banyak dari para pemilih masih gamang atau ragu menentukan pilihannya. Apa sebab? Salah satunya, bisa dipastikan karena para pemilih belum menemukan tawaran gagasan yang konkret dari para kandidat yang saat ini terlalu berfokus pada gimik. Bukan pada gagasan yang bisa dijadikan rujukan untuk menentukan pilihan.
Merujuk hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas (29 November-4 Desember), pemilih yang masih bimbang dengan pilihannya didominasi oleh pemilih tua di atas 60 tahun, yakni sebanyak 42,1%. Berikutnya disusul oleh kelompok usia 41-60 tahun yang mencapai 30,4%. Diikuti oleh kelompok usi 24-40 tahun yang mencapai 25,1%. Sementara kelompok pemilih pemula yang berusia 17-23 tahun, hanya mencapai 24,9% yang masuk kategori undecided voters. Artinya, semakin muda kelompok usia pemilih, semakin rendah angka swing dan undicedes voters-nya.
Besarnya angka swing voters dan undecided voters pada kelompok pemilih tua secara psiko-politik ini bisa dipahami. Sebab, secara historis, mereka adalah kelompok pemilih yang sudah punya banyak pengalaman dalam memilih kandidat, sehingga menjadi wajar bila mereka lebih hati-hati dalam menentukan pilihannya. Yakni, dengan cara mencermati betul gagasan para kandidat capres-cawapres.
Oleh karena itu, hal ini harus menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi para kandidat capres-cawapres untuk lebih serius lagi menawarkan gagasan di satu sisi, dan meminimalisir gimik tak perlu di sisi lain. Di samping untuk meyakinkan para pemilih yang masih ragu atau bimbang, hal itu juga penting dilakukan guna memeriahkan Pilpres 2024 dengan gagasan-gagasan yang bernas, bukan hanya sesak dengan gimik yang tidak merangsang dan mencerdaskan akal publik.
*) Pengamat politik










