Oleh | Sujono
MIMBAR, NOLESA.COM – Balasan bagi orang yang sabar tidak lagi ditimbang dan diukur, namun langsung diambilkan, tak ada batas (Imam al-Auz’ay).
Tidaklah, kedua telinga kita mendengar kalimat musibah, melainkan pada telinga satunya harus ada kalimat sabar. Kalau seandainya hal itu tidak kita munculkan, maka masalah (musibah) tersebut akan semakin membesar dan berujung fatal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam agama, sabar mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, bahkan ia merupakan bagian dari agama itu sendiri. Di mana, sabar adalah tempat berteduhnya jiwa bagi para penyabar, dan merupakan harta simpanan di surga.
Allah Swt. berfirman; “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS: Az-Zumar: 10).
Berkata Imam al-Auz’ay; “Balasan bagi orang yang sabar tidak lagi ditimbang dan diukur, namun langsung diambilkan tanpa ada batasannya.”
Dan kedudukan yang paling tinggi di antara orang-orang yang sabar adalah yang paling ridho dengan Qadha’ dan Qadar; tunduk dengan takdir Allah.
Imam Ibnu Rajab menjelaskan tentang perbedaan ridho dengan sabar. Kata Ibnu Rajab;
Sabar…
Adalah menutupi jiwa dari rasa marah dengan menahan rasa sakit sambil berharap agar segera hilang rasa sakit tersebut, dan mencegah anggota badan jangan sampai melakukan perbuatan keji tak terpuji oleh sebab marah.
Ridho…
Adalah menerima dengan lapang dada atas ketentuan Allah Swt. Dengan sikap ridho, akan menjadikan lebih ringan sesaknya dada dan memberi kabar gembira bagi hati dengan keyakinan dan pemahaman yang sempurna. Maka, jika sikap ridho ini kuat, pintu hati kita akan terbuka untuk melihat karunia-Nya.
Kata Ibnul Jauzi; Kalau sekiranya dunia itu bukan tempatnya ujian, maka tidak ada yang namanya penyakit, cemas, bimbang, dan perasaan suram.
Nabi Adam AS, tidak akan diuji sampai keluar dari surga, Nabi Nuh AS, menangis dalam waktu yang sangat panjang (300 tahun), Nabi Ibrahim AS, di lempar ke dalam api dan diuji untuk menyembelih putranya yang ia cintai, Nabi Ya’qub AS, menangis karena kehilangan putranya yang bernama Yusuf, dan masih banyak lagi nabi-nabi yang menghadapi ujian dahsyat. Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, putra Maryam, dst…
Dan Nabi kita Muhammad Saw, juga tidak sedikit harus menghadapi berbagai ujian hidup. Terbunuhnya Hamzah bin Abdul Muthalib, adalah pamannya yang paling Beliau cintai dari kalangan keluarganya, dan juga ditinggal lari oleh kaumnya (pada pertamakali mendakwahkan agama ini).
Kalau benar sekiranya dunia ini diciptakan untuk bersenang-senang dan mereguk kelezatannya, tentu para Nabi itu akan hidup bersenang-senang.
Kata sang penyair; “Dunia tempatnya kesedihan, kenapa engkau menginginkannya?”
Dan sabar yang dimaksud disini, bukan hanya sekedar mampu menahan musibah yang menimpanya dan meneguk rasa sakit yang menyesakkan dada.
Namun sabar di sini adalah sabar yang mampu mencari solusi dan sanggup menata kembali perkaranya. Wallahu a’lam…
Salam Jum’at!
*Penulis lepas tinggal di Perum Satelit Kota Sumenep.










