Oleh | Sujono
MIMBAR, NOLESA.COM – Kesunyian dalah bahasa jiwa paling murni; dalam sunyi, suara Tuhan seakan terdengar lebih jernih.
Dalam hiruk pikuknya manusia berkompetisi dalam permainan dunia, muncul dalam diri untuk merenung; mendengar apa yang tak terdengar dan merasakan apa yang luput dari sorotan terang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesunyian datang penuh makna; kadang menenangkan, kadang menyesakkan. Ia bisa menjadi pelipur lara, tapi juga bisa menjadi pengingat akan kehampaan. Sunyi, memiliki kedalaman emosional yang tidak mudah dijangkau oleh kata-kata yang biasa.
Dalam kesunyian, ada gelombang emosi yang lebih pekat dibandingkan teriakan. Ketika dunia berisik oleh suara-suara artifisial, ia hadir untuk menawarkan ruang perenungan; menjelajahi dimensi terdalam dari eksistensi manusia; kesepian, kehilangan, kerinduan dan pencerahan.
Dalam keheningan, manusia bisa berhadapan langsung dengan dirinya sendiri tanpa gangguan dari dunia luar. Sunyi sering terasa sangat pribadi, walaupun tidak selalu merujuk pada pengalaman individu.
Sunyi sebagai teman perenungan. Ia tidak ditakuti, tetapi justru dicari. Dalam sunyi ada ruang untuk bertanya; “Siapa diri ini, kemana arah hidup, dan apa makna keberadaan.”
Dalam sunyi pula, banyak hal yang bisa kita jawab yang tak kita temukan dalam keramaian. Dalam sunyi (diam), gema suara hati lebih keras dari bising kota. Dalam sunyi, sesuatu yang kabur ketika dikelilingi oleh kebisingan dunia bisa nampak jelas.
Sunyi bukanlah kesepian. Ya, bukan. Sunyi tidak selalu menandakan kesepian. *Sunyi bisa menjadi pilihan, sedangkan kesepian bisa bersifat keterpaksaan. Dalam sunyi, memungkinkan hadirnya makna. Dalam sunyi, bisa menjadi pengingat akan datangnya kesendirian.
Sekaligus menjadi bukti bahwa kehidupan terus berjalan meski tanpa suara-suara eksternal. Ia hadir sebagai penanda bahwa sesuatu yang pernah ada akan tiada.
Seperti kata penyair…
“Setelah kau pergi, hanya sunyi yang menetap di kursi ruang tamu.”
Simbolisme sunyi memberi ruang bagi kita untuk merasakan kedalaman emosi yang mungkin tak terucap secara langsung dan terbuka.
Bukankah itu yang dilakukan oleh Muhammad Rasulullah Saw. Dalam keresahan jiwanya menyaksikan kaumnya yang hidup jahiliyah sehingga Beliau menyepi dalam kesunyian di Gua Hira’? Dalam kesendiriannya yang sunyi, Allah berkenan mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan maklumat-Nya; Iqra’ bismirabbikal ladzii khalaq…
Ruang Spiritualitas…
Sunyi, sangat sering menjadi gerbang menuju spiritualitas. Keheningan memungkinkan hadirnya relasi yang lebih dalam dengan sesuatu yang transenden. Dalam sunyi, suara Tuhan dan alam semesta seakan terdengar lebih jernih.
Sunyi adalah bahasa jiwa yang paling murni, tempat roh manusia bertemu dengan Sang Ilahi. Inilah metafora yang sangat halus, menyiratkan perenungan spiritual. Sunyi sebagai kekuatan yang mendalam, bukan sebagai kehampaan belaka.
Mungkin kesunyian itulah yang menyebabkan sang penyair Clurit Emas D ZAWAWI IMRON betah hidup dalam kesunyian di desa terpencil sehingga puisinya selalu bertemakan religius?”
Manusia modern yang kehilangan kedekatan dan keintiman, sunyi hadir sebagai refleksi keterputusan antar manusia. Bagi penyair, sunyi adalah bagian dari proses kreatif. Dalam keheningan, muncul inspirasi, perenungan, dan kata-kata yang jujur.
Tidak sedikit penyair yang justru menemukan identitasnya dalam kesendirian. Ya, dunia batin adalah tempat sejati untuk menggali makna hidup.
Namun…
Sunyi juga bisa menjadi ujian. Ia menggoda untuk berlama-lama dalam renungan hingga terjebak dalam ruang hampa yang menjadikannya ia tak damai dan tak lembut lagi.
Keindahan tidak terletak pada ornamen bahasa, melainkan pada jeda, kehampaan, dan kekosongan yang disengaja. Inilah yang membuat sunyi menjadi sangat personal bagi setiap individu manusia, karena maknanya bisa berbeda; tergantung pengalaman batin masing-masing.
Sunyi adalah cermin. Ia tidak membentuk makna secara eksplisit, tetapi memungkinkan seseorang melihat dirinya sendiri lebih jernih. Sunyi bukanlah ruang kosong, tetapi ruang yang diisi oleh gema-gema batin yang terlalu halus untuk didengar di tengah kebisingan dunia.
Sunyi, menawarkan pengalaman batin yang mendalam; menyentuh bagian terdalam dari eksistensi manusia. Sunyi menjadi medium untuk membicarakan “CINTA” yang tak terucap, kesedihan yang terlalu dalam, dan harapan yang diam-diam tumbuh meski tak terlihat.
Kadang, justru dalam diam itulah segala sesuatu menjadi lebih jelas. Dalam sunyi, kita bisa menemukan kekuatan yang yang paling sejati. Wallahu a’lam…
Teringatlah saya dengan penggalan puisi Zawawi Imron yang digali dalam kesunyian…
Hompimpah hidupku
Hompimpah matiku
Hompimpah Nasibku
Hompimpah
Hompimpah
Hompimpah
Kugali hatiku dengan linggis Alif-MU
Hingga lahir mata air, jadi sumur, jadi sungai, jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang
Mengerang menyebut Alif-MU
Alif, Alif, Alif !
Alif-MU Yang Satu
Tegak dimana-mana
DZI 1980
Inilah penggalan puisi Zawawi Imron yang menggambarkan perasaan, kerinduan dan cinta sang penyair kepada Sang Pencipta.
Inilah kedalaman emosi dari seorang Clurit Emas yang merefleksikan perasaan rindunya kepada Sang Penggenggam segala perasaan.
Rasa pilu dan do’a yang tajam dalam kesendiriannya, terungkap dalam bait-bait puisi yang kuat; memberikan kesan yang sangat menusuk jiwa atas kerinduan akan pertemuannya sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya. Aamiin…
*penulis lepas tinggal di Perum Satelit Kota Sumenep









