Jilbabisasi: Pendidikan yang Tidak Mendidik

Ahmad Farisi

Kamis, 4 Agustus 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena jilbabisasi kembali terjadi di dunia pendidikan kita. Pertama, hal itu terjadi di Yogyakarta. Tepatnya di SMAN 1 Banguntapan, Bantul.

Korbannya adalah seorang siswi kelas X. Kabarnya, sang siswi itu sampai depresi karena dipaksa menggunakan jilbab (Harian Jogja, 29/7/2022).

Kedua, hal yang sama juga terjadi di Jakarta. Yakni di sebuah sekolah SD negeri di Tambora dan di SMP negeri kawasan Kebun Jeruk yang juga diduga melakukan pemaksaan terhadap salah satu siswinya untuk mengenakan jilbab (Kompas.com, 30/7/2922).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


Fenomena jilbabisasi yang mara di sekolah ini adalah kabar buruk.


Sebelum dua kasus di atas, fenomena jilbalisasi di sekolah juga sudah sering terjadi. Mulai dari kasus intoleransi yang terjadi SMPN 1 Singaraja dan SMAN 2 Denpasar (2014); di SD Negeri Karang Tengah, Gunung Kidul, Yogyakarta (2019); di SMA 1 Gemolong (2020); dan di SMKN 2 Padang (2021).

Baca Juga :  Soekarno dan Ide-Ide Kemerdekaan Indonesia

Fenomena jilbabisasi yang marak terjadi di sekolah ini adalah kabar buruk. Sekolah, yang seharusnya menjadi rumah bersama yang saling menghargai perbedaan justru terjebak dalam kubangan intoleransi. Sangat tidak mendidik dan tidak merepresentasikan wajah pendidikan Pancasila.

Karena itu, fenomena jilbabisasi itu tidak boleh dianggap remeh. Harus ada langkah-langkah konkret untuk menyelesaikannya. Selain harus diselesaikan melalui jalur institusional-kelembagaan, jalur paradigmatik juga tak kalah pentingnya untuk dilakukan.

Di jalur institusional-kelembagaan, kiranya Kemendikbudristek dan Kementerian Agama perlu untuk mengambil tindakan lebih lanjut.

Baca Juga :  25 Tahun Reformasi

Meskipun sampai kini telah ada aturan bersama antara Kemendikbudristek dan Kementerian Agama yang mengatur soal seragam sekolah, namun perlu ada langkah lebih lanjut agar hal serupa tidak kembali terulang.


Pengarusutamaan paradigma pendidikan inklusif ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Misalkan, dengan mengadakan sekolah moderasi beragama bagi para guru.


Sementara di jalur padigmatik, penguatan paradigma pendidikan yang inklusif, moderat, dan toleran kiranya juga penting untuk terus dilakukan.

Pengarusutamaan paradigma pendidikan inklusif ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Misalkan, dengan mengadakan sekolah moderasi beragama bagi para guru.

Sehingga, dengan begitu, guru (sebagai pendidik) bisa mendapat wawasan baru bagaimana mengelola lembaga di tengah keberagaman. Dan yang terpenting, tidak lagi memaksakan atribut-atribut keagamaan bagi siswi-siswinya.

Baca Juga :  Tentang Kesombongan

Sehingga nantinya, kasus-kasus tak elok seperti pada tiga kasus di atas tidak terjadi lagi.

Dunia pendidikan adalah harapan satu-satunya kita dalam menanamkan cara berpikir yang moderat bagi anak dan generasi muda.

Karena itu, jangan sampai lembaga pendidikan kita menjadi contoh yang tidak baik bagi keberagaman kehidupan kita.

Sebaliknya, kehadirannya harus mampu menjadi pencetak atas lahirnya generasi muda yang moderat, yang inklusif, yang bisa menghormati perbedaan keyakinan.
Darurat toleransi yang terjadi di lembaga pendidikan adalah masalah serius.

Karena itu, kemunculannya mesti disikapi secara tegas. Jangan sampai lembaga pendidikan kita tergelincir pada ekslusifitas ekstrem yang merusak. Bahaya.

 

 

Berita Terkait

Inilah Fase Keindahan Hidup Umat Manusia
Sudah Waktunya Madura Naik Level
Berebut Tiket Cawabup Fauzi
Sedekah Sebagai Bukti Iman
Indonesia Negara Bersama
Mahluk Tuhan Paling Dahsyat
Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 
Mengapa Suara Ganjar Anjlok?

Berita Terkait

Jumat, 17 Mei 2024 - 10:07 WIB

Inilah Fase Keindahan Hidup Umat Manusia

Rabu, 15 Mei 2024 - 14:19 WIB

Sudah Waktunya Madura Naik Level

Selasa, 14 Mei 2024 - 18:41 WIB

Berebut Tiket Cawabup Fauzi

Jumat, 10 Mei 2024 - 08:17 WIB

Sedekah Sebagai Bukti Iman

Senin, 25 Maret 2024 - 04:23 WIB

Indonesia Negara Bersama

Rabu, 20 Maret 2024 - 07:02 WIB

Mahluk Tuhan Paling Dahsyat

Kamis, 22 Februari 2024 - 13:01 WIB

Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 

Kamis, 15 Februari 2024 - 16:26 WIB

Mengapa Suara Ganjar Anjlok?

Berita Terbaru

Inspirasi

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional dan Relevansinya di Masa Kini

Senin, 20 Mei 2024 - 06:00 WIB

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Mengutamakan Implementasi

Minggu, 19 Mei 2024 - 12:00 WIB

Khoirus Safi' (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Kebodohan dan Ingin Diakui Tanpa Mengetahui

Minggu, 19 Mei 2024 - 09:00 WIB