Oleh | Sujono (Om Jo)
MIMBAR, NOLESA.COM – Efek-Cahaya Pemberi; Segala hal yang Allah Ta’ala syariatkan, pasti baik bagi diri, orang lain dan kehidupan semesta, tidak terkecuali perintah sedekah.
Maklumat-Nya; “Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 271)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara fisik, berbagi dan bermurah hati terlihat merugikan. Namun fakta lain justru sebaliknya.
Sebelum ini, peneliti sudah menemukan istilah “warm-glow-effect“, sebuah fenomena ekonomi yang pernah dijelaskan oleh James Andreoni tahun 1989, dimana menunjukkan orang yang beramal, berbagi dan bermurah hati, justru berdampak positif atas kemurahan hati mereka atau disebut juga “warm-glow-effect” (efek-cahaya pemberi). Perasaan positif ini didapatkan atas tindakannya memberi atau membantu orang lain.
Studi tahun 2006 oleh Jorge Moll dari “National Institutes of Health” menemukan bahwa ketika seseorang melakukan donasi kepada suatu Yayasan, beberapa area di otak yang terkait dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa percaya turut aktif dan menciptakan efek “warm glow“. Para peneliti juga percaya bahwa ketika melakukan tindakan altruistik, otak akan melepaskan endorfin, memproduksi perasaan positif yang disebut “helper’s high.”
Fenomena tersebut dapat terjadi karena ketika menolong orang, otak memproduksi “hormon dopamine” (yang memberi perasaan bahagia dan keyakinan bahwa yang kita lakukan adalah hal yang benar) serta hormon oksitosin yang dikenal dapat mengurangi stres, meningkatkan fungsi imunitas dan mengembangkan rasa percaya dalam interaksi antar manusia.
Banyak penelitian menunjukkan sikap dermawan ternyata berkolerasi dengan kesehatan. Salah satunya adalah penelitian Stephanie Post yang dimuat dalam bukunya, “Why Good Things Happen to Good People,” yang menyatakan bahwa berbagi dengan sesama dapat meningkatkan kesehatan penderita penyakit kronis seperti HIV.
Dan, yang paling memotivasi adalah Hadits Nabi Saw, yang menjelaskan bahwa pahala sedekah (jariyah) itu tidak terputus meski yang mengamalkannya telah tiada.
Kata Nabi Saw; yang Apabila anak Adam itu telah mati, maka putuslah amalnya, kecuali dari tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendo’akan kedua orangtua-nya.” (Muslim)
Dengan demikian, tidak heran jika Allah sering mengulang-ulang ayat tentang sedekah dalam beragam bentuknya. Dan, tidak sedikit sejarah Nabi Saw, dan para Sahabat yang meneladankan betapa hebatnya etos mereka dalam bersedekah. Wallahu a’lam…
Filosofinya; Memberi itu mengakui kepemilikan sejati. Harta, waktu, ilmu yang ada di tangan kita bukan milik kita mutlak. Itu titipan. Dan yang kita genggam erat-erat, itu akan hilang. Yang kita lepaskan di jalan yang benar, itulah yang akan kembali ke kita dalam bentuk lain –berkah, ketenangan, bahkan pertolongan saat kita tidak punya apa-apa.
Agama mengajarkan dengan cermat, “Apa yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.” (Saba’: 39). Ini bukan matematika untung-rugi, tapi logika titipan.
Memberi itu membersihkan. Sedekah dalam bahasa Arab asalnya dari shidq = jujur. Karena memberi itu bukti kejujuran hati; jujur kalau kita tidak butuh semua yang kita punya, jujur kalau kita butuh Allah lebih dari butuh harta. Harta itu lengket. Kalau tidak dikeluarkan, dia melengket di hati; kikir, cemas, dan tidak pernah cukup. Sedekah itu sabun-nya.
Memberi itu memperluas diri. Orang yang pelit hidupnya sempit, dunianya hanya “aku dan punyaku.” Orang yang gemar memberi, hatinya melebar. Dia ikut merasakan beban orang lain, ikut senang saat orang lain terbantu.
Singkatnya, memberi itu bukan transaksi dengan manusia. Itu investasi dengan Allah, sekaligus operasi pembersihan hati. Kita tidak jadi miskin karena memberi. Kita jadi miskin karena hati kita tidak pernah merasa cukup. Wallahu a’lam…
*) Penulis lepas tinggal di Perum Satelit Kota Sumenep









