Oleh | Marsella Queen Al Maudy
RESENSI, NOLESA.COM – Pernahkah merasa lelah menjalani hidup, tetapi tidak benar-benar tahu apa penyebabnya? Atau merasa harus terus terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang kehilangan arah? Di tengah kehidupan yang berjalan terlalu cepat, rasanya semakin banyak orang yang diam-diam merasa sesak oleh tuntutan untuk selalu produktif, berhasil, dan tampak bahagia.
Media sosial dipenuhi pencapaian dan standar hidup yang seolah harus diikuti, sementara banyak orang sebenarnya sedang kebingungan menghadapi hidupnya sendiri. Ada yang merasa terjebak dalam rutinitas, kehilangan tujuan, atau sekadar bertahan meski hatinya sudah sangat lelah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perasaan-perasaan tersebut sering kali sulit dijelaskan, bahkan kepada diri sendiri. Oleh karena itu, ketika membaca buku The Life That’s Waiting: Tentang Keresahan, Keraguan, dan Keberanian karya Brianna Wiest merasakan seperti sedang membaca sesuatu yang benar-benar memahami isi kepala dan perasaan banyak orang saat ini.
Buku yang Memahami Keresahan dan Kehidupan
Buku ini menjadi salah satu karya international bestseller Brianna Wiest yang dikenal melalui buku-buku reflektifnya, seperti 101 Essays That Will Change The Way You Think (2016) dan The Mountain Is You (2020). Berbeda dari kebanyakan buku pengembangan diri yang berisi langkah-langkah sukses atau motivasi untuk terus bergerak cepat, The Life That’s Waiting justru mengajak pembaca untuk melambat dan mendengarkan dirinya sendiri. Buku ini terasa seperti “ensiklopedia perasaan” karena mampu menjelaskan berbagai emosi yang kerap dirasakan, tetapi sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Secara garis besar, buku ini berisi kumpulan refleksi mengenai keresahan, rasa takut, kelelahan, keraguan, dan kebingungan dalam menjalani hidup. Brianna membahas bagaimana seseorang sering kali memaksakan diri untuk terlihat berhasil, bertahan dalam hubungan atau situasi yang melelahkan, hingga takut menghadapi perubahan.
Namun, dibalik itu semua, buku ini juga mengajarkan bahwa hidup tidak harus selalu berjalan sempurna dan mulai bertindak tanpa menunggu kondisi sempurna. Terkadang, rasa kehilangan arah justru menjadi tanda bahwa seseorang sedang menemukan jalan hidupnya sendiri.
Salah satu bagian yang menarik dari buku ini adalah cara Brianna memandang kebahagiaan. Ia menulis, “Kebahagiaan bukanlah tentang bagaimana penampilan di luar hidupmu, melainkan kualitas koneksimu dengan hidup itu sendiri.” (hal. 35). Kutipan tersebut terasa relevan dengan kehidupan sekarang yang sering membuat orang sibuk mengejar validasi dari luar. Banyak orang berlomba terlihat sukses, tetapi diam-diam merasa kosong dan kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Melalui kalimat sederhana tersebut, Brianna mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian besar, melainkan dari bagaimana seseorang benar-benar menjalani hidupnya.
Selain itu, buku ini juga memiliki cara penyampaian yang hangat dan tidak menggurui. Saat membaca setiap bagiannya, pembaca akan merasa seperti diajak berbicara oleh seseorang yang benar-benar memahami rasa takut dan lelah yang dialami.
Menurut teori resepsi sastra Wolfgang Iser, sebuah karya dapat memberikan pengalaman mendalam ketika pembaca merasa terlibat secara emosional dengan teks yang dibacanya.
Refleksi tentang Ketakutan, Kehilangan Arah, dan Bertumbuh
Kelebihan lain dari buku ini terletak pada gaya kepenulisannya yang sederhana, tetapi tetap puitis dan mendalam. Brianna tidak menggunakan bahasa yang terlalu berat, sehingga isi buku mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan, terutama anak muda yang sedang berada di fase pencarian jati diri. “Ketika hidup memberimu pelajaran, ia bukan memberimu hukuman.” (hal. 47). Kalimat tersebut menunjukkan bagaimana penulis mencoba mengubah cara pandang pembaca terhadap rasa sakit dan kagagalan. Kehidupan yang menyakitkan tidak selalu hadir untuk menghancurkan seseorang, tetapi juga bisa menjadi proses pembelajaran untuk bertumbuh.
Seseorang yang sering mengalami krisis seperempat abad (quarter life crisis) akan merasa relevan dengan membaca buku ini. Dalam salah satu bagiannya, Brianna menulis, “Merasa hilang arah sering kali merupakan indikasi bahwa kamu sedang berada di jalur yang tepat untuk dirimu sendiri. Jika kamu terlalu yakin tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, mungkin kamu sedang mengikuti jalur orang lain.” (hal. 116). Kutipan ini seolah menjadi pengingat bahwa kehilangan arah bukan sesuatu yang harus selalu ditakuti. Terkadang, kebingungan justru menjadi bagian penting dalam proses menemukan diri sendiri.
Buku ini juga banyak berbicara mengenai ketakutan. Banyak orang sebenarnya ingin berubah, tetapi takut meninggalkan hal-hal yang sudah terasa nyaman meskipun menyakitkan. Dalam kutipan berikut, “Jika sungai itu tidak mengalir dari balik hambatan, kita tidak akan merasakan tekanan untuk membiarkannya terurai dan melepaskan diri pada waktunya.” (hal.153) menggambarkan bahwa rasa takut sebenarnya merupakan bagian dari proses perubahan.
Meski memiliki banyak kelebihan, buku ini tetap memiliki kekurangan. Beberapa pembahasan terasa cukup repetitif, terutama mengenai proses melepaskan masa lalu dan menemukan arah hidup. Di beberapa bagian, ide yang disampaikan terasa mirip sehingga dapat membuat pembaca merasa isi buku sedikit berulang. Namun, kekurangan tersebut tidak terlalu mengurangi makna yang ingin disampaikan oleh penulis.
Pada akhirnya, The Life That’s Waiting merupakan buku yang layak dibaca, terutama bagi mereka yang sedang merasa lelah, kehilangan arah, atau berasa di fase hidup yang membingungkan. Buku ini bukan hanya memberikan motivasi, tetapi juga membantu pembaca memahami dan menerima perasaannya sendiri.
Di tengah dunia yang semakin bising dan penuh tuntutan, buku ini hadir seperti teman yang menemani pembaca untuk berhenti sejenak, bernapas, lalu kembali memahami dirinya sendiri.
*) Mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)









