Puisi-Puisi Andik Trio Widodo

Andik Trio Widodo

Sabtu, 6 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi via pixabay.com

Ilustrasi via pixabay.com

Pada Sebuah Jeda

 

pernah gerimis memandangi kita

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

hujan tak mau kalah, kemudian menyerbu kata

pernah suatu jeda

kilatan petir berebut ruang-ruang jaga

 

nada-nada jeda selalu mengetuk kekosongan

lalu syair hamburan

kita lelap sebentaran

lamunan endap perlahan

 

setiap jeda waktu meremas napasnya sendiri

lantas terseok jauh di belakang keinginan hati

menjemput subuh

mendekap simpuh

 

berjenak-jenak gurat kelana membola

menggelar lamunan tentang tahun-tahun berikutnya

hanya pada sebuah jeda

Baca Juga :  Sandiwara Akhir Bulan

pernah-telah!

kita sesali cengengnya masalalu sembari mengusap air mata

 

Nganjuk 2021

 

Persembunyian Tangis

 

mendung hitam mencekik lehernya sendiri

ketika kuteriakkan namamu

sekawanan ngiang yang lain berhamburan menuju sunyi

di keheningan berikutnya, bibir bergetar mengucap namamu

 

detak jantung mengetuk-ngetuk sehamparan waktu temu

angin musim berembus bisu

seistana nyeri menguat arti cinta

sekadar ingin merasa pernah mereguknya

 

temali kenangan berkecup dengan kisah renta

sekadar mematung, meratapi jejak asmara

Baca Juga :  Renungan Puan di Ruang Kesunyian

kehidupan menyisiri hasrat kita dengan kejutan

sementara hujan tangis diam-diam selalu bersembunyi di sebalik pertemuan

 

Nganjuk 2021

 

Muasal Setia

 

hujan tekat mengintip di balik mendung ujian

tirai-tirai riuh memulai pergumulan dingin hati dengan semakna ingin

siluet senyum indahmu terselip mengeja kerinduan terpendam

sepi kecupi nalar muram

rasaku menggelepar akrabi lantai-lantai harapan

secercah cahaya menyapu setiap getir kenangan

secercah cahaya yang lalu kusebut kesetiaan

 

Nganjuk 2021

 

Baca Juga :  Puisi-Puisi Madno Wanakuncoro

Tangis Pagi

 

awalnya hanya embus angin

lalu embun dingin

gelisah daun di pagi sunyi

nada hati melantun nyeri

 

lamunan membiakkan serona warna penyesalan

lantas gerimis turun membasahi sekisah perjalanan

 

kaupeluk ceritaku

kupeluk tangismu

hujan tak canggung datang

wajahku di matamu hilang

 

barisan air jatuh menggelar kenangan paling radang

semua tentangmu di mataku hilang

tangan pagi merangkul pundakku yang berguncang

sementara raungan mengiringi cucuran air mata paling kenang

 

Nganjuk 2021

Berita Terkait

Puisi-puisi Abd Gafur Sajjad Alfarisi
Puisi-puisi Maria Dominika Tyas Kinasih Semarang
Puisi-puisi Iyong
Balas Pati-Puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Abdurrahman ZN-Di Stasiun Kereta
Puisi-Puisi Enha Sajjad
Puisi-puisi Muhammad Ridwan Tri Wibowo
Pulang- Puisi Muhammad Dzunnurain

Berita Terkait

Minggu, 19 Mei 2024 - 07:30 WIB

Puisi-puisi Abd Gafur Sajjad Alfarisi

Kamis, 9 Mei 2024 - 08:08 WIB

Puisi-puisi Maria Dominika Tyas Kinasih Semarang

Selasa, 30 April 2024 - 11:00 WIB

Puisi-puisi Iyong

Minggu, 11 Februari 2024 - 08:00 WIB

Balas Pati-Puisi Amanda Amalia Putri

Minggu, 28 Januari 2024 - 11:30 WIB

Puisi-puisi Abdurrahman ZN-Di Stasiun Kereta

Sabtu, 20 Januari 2024 - 11:28 WIB

Puisi-Puisi Enha Sajjad

Sabtu, 13 Januari 2024 - 09:14 WIB

Puisi-puisi Muhammad Ridwan Tri Wibowo

Sabtu, 25 November 2023 - 06:03 WIB

Pulang- Puisi Muhammad Dzunnurain

Berita Terbaru

Inspirasi

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional dan Relevansinya di Masa Kini

Senin, 20 Mei 2024 - 06:00 WIB

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Mengutamakan Implementasi

Minggu, 19 Mei 2024 - 12:00 WIB