Menag Dorong Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual

Redaksi Nolesa

Rabu, 20 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menag Dorong Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual (Foto: Istimewa)

Menag Dorong Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual (Foto: Istimewa)

JAKARTA, NOLESA.COM – Menteri Agama (Menag), Republik Indonesi Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pesantren tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan hukum dan regulasi.

Menurut Menag Nasaruddin persoalan tersebut harus diselesaikan melalui perubahan budaya dan cara pandang masyarakat terhadap relasi sosial yang lebih setara.

Hal itu disampaikan Nasaruddin Umar saat menjadi pembicara dalam Temu Nasional Pondok Pesantren bertema “Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual” di Jakarta, Senin kemarin, 18 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pendekatan hukum penting, tetapi tidak cukup. Harus ada pendekatan budaya dan perubahan cara pandang masyarakat,” ujar Menag.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai perangkat hukum terkait perlindungan perempuan dan anak. Namun, angka kekerasan masih terus terjadi karena akar persoalan tidak hanya berada pada lemahnya aturan, melainkan juga pada budaya relasi kuasa yang timpang di tengah masyarakat.

Menag menjelaskan relasi kuasa terjadi ketika satu pihak memiliki posisi dominan, sementara pihak lain berada dalam kondisi lemah dan rentan. Dalam banyak kasus, ketimpangan tersebut membuka ruang terjadinya kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

Baca Juga :  Indonesia Raih Penghargaan Bergengsi ICAO atas Keamanan Penerbangan Sipil

“Relasi kuasa yang timpang ini harus kita ubah. Masyarakat yang lebih setara biasanya memiliki tingkat kekerasan terhadap perempuan yang lebih rendah,” katanya.

Dalam konteks pendidikan keagamaan, Nasaruddin menekankan bahwa pesantren harus menjadi ruang aman bagi seluruh santri sekaligus tempat pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.

Menurutnya, pesantren memiliki posisi strategis dalam membangun pemahaman keagamaan yang menghormati martabat manusia dan melindungi kelompok rentan.

“Pesantren harus menjadi tempat terbaik untuk membentuk ilmu, akhlak, dan karakter. Karena itu, tidak boleh ada ruang bagi kekerasan seksual di lingkungan pesantren,” tegas Nasaruddin Umar.

Ia mendorong pesantren menjadi pelopor perubahan budaya melalui pendidikan, pembinaan, pengawasan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan yang berpihak pada perlindungan perempuan dan anak.

Menag juga menilai penguatan tata kelola pesantren menjadi langkah penting dalam mencegah kekerasan seksual. Pengawasan, aturan interaksi, hingga mekanisme perlindungan santri harus diperjelas agar tercipta lingkungan pendidikan yang sehat dan bermartabat.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Targetkan Lapangan Kerja Formal Meningkat pada 2027

“Yang diatur bukan hanya santrinya, tetapi juga para pembina, pengasuh, dan semua pihak yang berinteraksi di lingkungan pesantren,” ujarnya.

Selain penguatan budaya dan tata kelola, Kementerian Agama juga terus mendorong penataan kelembagaan pesantren melalui pendataan, pembinaan, dan penegasan standar legalitas lembaga pendidikan pesantren.

Menag menyoroti sejumlah kasus kekerasan seksual yang mencatut nama pesantren, padahal sebagian lembaga tersebut tidak terdaftar resmi di Kementerian Agama Republik Indonesia.

“Banyak yang menggunakan nama pesantren, padahal tidak terdaftar di Kementerian Agama,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya, masyarakat perlu mengetahui secara jelas pesantren yang resmi, terdaftar, dan memenuhi ketentuan kelembagaan.

Penguatan kelembagaan juga harus diiringi dengan penyediaan kanal pengaduan yang aman, sistem pendampingan, hingga mekanisme pengawasan yang mampu mendeteksi potensi kekerasan sejak dini.

Meski demikian, Menag mengingatkan bahwa pengawasan harus tetap menghormati privasi dan martabat santri. Ia mencontohkan penggunaan CCTV hanya dapat dipasang di ruang publik dan area bersama, bukan di ruang privat santri.

Baca Juga :  Puteri Indonesia 2026 Siap Jadi Garda Depan Sosialisasi PP Tunas

“Pengawasan penting, tetapi harus tetap menghormati privasi dan martabat santri,” katanya.

Temu Nasional Pondok Pesantren tersebut juga menjadi momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat gerakan pesantren anti kekerasan seksual di Indonesia.

Dalam kegiatan itu dilakukan penandatanganan komitmen bersama Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual oleh sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan, di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang, Direktur PPA dan PPO Bareskrim Polri Nurul Azizah, serta perwakilan pengasuh pesantren dari berbagai wilayah Indonesia.

Turut hadir pula Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar dan Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, KH Said Aqil Siraj.

Satu hal, Menag berharap gerakan tersebut menjadi langkah bersama dalam membangun budaya pesantren yang aman, sehat, dan berkeadaban.

“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Ini tanggung jawab bersama,” tandasnya. (*)

Penulis : Arif

Berita Terkait

Legislator PKB Minta Pemerintah Perkuat Mitigasi El Nino, Jangan Sampai Target Produksi Pangan Terganggu
Novita Hardini Soroti Tata Kelola KEK Pariwisata, Nilai Perlindungan Hak Masyarakat Belum Optimal
Anggaran MBG 2027 Diprediksi Menyusut, Banggar DPR Jamin Kualitas Program Tetap Optimal
Dino Patti Djalal Soroti Absennya Delegasi RI di Pemakaman Ayatollah Khamenei
Politikus PKB Minta Beasiswa Kedokteran Diperbanyak
Politikus PKB Minta Skema Rekrutmen Calon Manajer KDKMP Dievaluasi
Novita Hardini Desak Pengawasan Industri AMDK Diperketat Demi Lindungi Konsumen
Ratna Juwita: Perdamaian AS-Iran Jadi Peluang Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:52 WIB

Legislator PKB Minta Pemerintah Perkuat Mitigasi El Nino, Jangan Sampai Target Produksi Pangan Terganggu

Rabu, 8 Juli 2026 - 01:16 WIB

Novita Hardini Soroti Tata Kelola KEK Pariwisata, Nilai Perlindungan Hak Masyarakat Belum Optimal

Senin, 6 Juli 2026 - 20:07 WIB

Anggaran MBG 2027 Diprediksi Menyusut, Banggar DPR Jamin Kualitas Program Tetap Optimal

Minggu, 5 Juli 2026 - 21:34 WIB

Dino Patti Djalal Soroti Absennya Delegasi RI di Pemakaman Ayatollah Khamenei

Minggu, 28 Juni 2026 - 17:45 WIB

Politikus PKB Minta Beasiswa Kedokteran Diperbanyak

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Sosok

Pramoedya Ananta Toer dan Tanah yang Tak Mengenalinya

Kamis, 16 Jul 2026 - 12:03 WIB