Politikus PKB Minta Beasiswa Kedokteran Diperbanyak

Redaksi Nolesa

Minggu, 28 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nihayatul Wafiroh (Foto: Istimewa)

Nihayatul Wafiroh (Foto: Istimewa)

JAKARTA, NOLESA.COM – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, mendorong pemerintah memperluas akses beasiswa bagi mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan.

Menurut  Nihayatul Wafiroh politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), itu upaya menambah jumlah dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia tidak cukup hanya dengan membuka program pendidikan baru, tetapi juga harus diikuti dengan kemudahan pembiayaan bagi calon mahasiswa.

Hal itu disampaikan Nihayatul dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kesehatan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menilai jumlah penerima beasiswa yang dikelola Kementerian Kesehatan masih sangat terbatas. Saat ini, program tersebut baru menjangkau sekitar 8.484 mahasiswa, angka yang dinilai belum sebanding dengan kebutuhan nasional akan dokter dan tenaga kesehatan.

“Kalau dibandingkan dengan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah yang menjangkau sekitar 200 ribu mahasiswa, penerima beasiswa Kementerian Kesehatan masih sangat terbatas. Padahal kebutuhan dokter dan tenaga kesehatan kita masih sangat besar,” ujar Nihayatul.

Baca Juga :  Rancangan Undang-Undang Kekerasan Seksual Hari ini Disahkan

Menurutnya, tingginya biaya pendidikan kedokteran masih menjadi penghalang utama bagi banyak calon mahasiswa berprestasi, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu. Berdasarkan hasil diskusi dengan sejumlah pihak, penerima KIP Kuliah di fakultas kedokteran juga masih relatif sedikit.

Nihayatul mengungkapkan, salah satu penyebabnya adalah besarnya biaya pendidikan, terutama Uang Kuliah Tunggal (UKT), yang jauh lebih tinggi dibandingkan program studi lainnya.

“Selama ini hambatan terbesar masuk ke fakultas kedokteran adalah biaya pendidikan yang sangat mahal. Bahkan untuk kedokteran gigi saja, masyarakat sering mendengar biayanya mencapai ratusan juta rupiah. Kondisi ini tentu menjadi beban berat bagi banyak orang tua,” katanya.

Karena itu, ia mengusulkan adanya sinergi antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Keuangan untuk merancang skema pembiayaan yang lebih inklusif bagi mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan.

Baca Juga :  Cegah Kekerasan Seksual, PKB Bakal Gelar Temu Nasional Pesantren

Salah satu skema yang ditawarkan adalah pembiayaan bersama atau cost sharing antara program KIP Kuliah dan pemerintah. Saat ini, bantuan KIP Kuliah bagi mahasiswa kedokteran maksimal sekitar Rp12 juta per semester, sementara UKT di sejumlah perguruan tinggi bisa mencapai Rp25 juta hingga Rp26 juta per semester.

“Kalau KIP tidak harus menanggung seluruh biaya, tetapi sebagian melalui skema pembiayaan bersama, saya kira jumlah mahasiswa kedokteran yang dapat dibantu akan jauh lebih banyak. Ini akan memperluas akses pendidikan sekaligus mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter nasional,” ujarnya.

Nihayatul menilai kuota KIP Kuliah yang mencapai sekitar 200 ribu mahasiswa merupakan peluang besar untuk memperkuat sektor kesehatan. Menurutnya, sebagian kuota tersebut dapat diarahkan bagi mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan agar semakin banyak lulusan yang nantinya mengabdi di berbagai daerah.

Baca Juga :  Puteri Indonesia 2026 Siap Jadi Garda Depan Sosialisasi PP Tunas

“Kalau sebagian kuota KIP bisa dialokasikan bagi mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan dengan skema pembiayaan yang tepat, manfaatnya akan sangat besar. Bukan hanya meringankan beban orang tua, tetapi juga membuka kesempatan lebih luas bagi anak-anak Indonesia untuk menjadi dokter dan tenaga kesehatan,” tegasnya.

Ia menambahkan, investasi pada pendidikan tenaga medis merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat sistem kesehatan nasional. Semakin banyak putra-putri bangsa yang mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan kedokteran, maka semakin besar pula peluang Indonesia mengatasi kekurangan dokter, meningkatkan pemerataan layanan kesehatan, serta memperkuat kualitas pelayanan hingga ke daerah terpencil.

“Karena itu saya berharap Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Keuangan dapat duduk bersama mencari formulasi terbaik agar akses pendidikan kedokteran semakin terbuka dan tidak lagi terkendala persoalan biaya,” pungkas Nihayatul. (*)

Penulis : Arif

Berita Terkait

Panglima Santri Nusantara Pimpin Apel HSN Ponpes Dar el Hikmah Riau
Menko PM Minta BUMN Optimalkan Aset Menganggur untuk Pemberdayaan Masyarakat
Menko PM Buka Jalan Perubahan Bansos 2027, Warga Rentan Jadi Sasaran Utama
Presiden Prabowo Lantik 26 Wantimpres, Salah Satunya Mantan Gubernur Jatim
Novita Hardini Dorong Kebijakan Industri Berkelanjutan
Influenza A Meluas, Neng Eem Dorong Penguatan Deteksi Dini dan Layanan Kesehatan
Said Abdullah: Evaluasi UU P2SK Perlu Didahulukan Sebelum Regulasi Baru
Novita Hardini Minta Rencana Ekspor Satu Pintu Dikaji Agar Tak Ganggu Industri

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:59 WIB

Panglima Santri Nusantara Pimpin Apel HSN Ponpes Dar el Hikmah Riau

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:42 WIB

Menko PM Minta BUMN Optimalkan Aset Menganggur untuk Pemberdayaan Masyarakat

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 12:31 WIB

Menko PM Buka Jalan Perubahan Bansos 2027, Warga Rentan Jadi Sasaran Utama

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 12:14 WIB

Presiden Prabowo Lantik 26 Wantimpres, Salah Satunya Mantan Gubernur Jatim

Senin, 28 September 2026 - 17:43 WIB

Novita Hardini Dorong Kebijakan Industri Berkelanjutan

Berita Terbaru

Bupati Fauzi saat diwawancarai usai apel HSN 2026 (Foto: NOLESA.COM)

Daerah

Bupati Sumenep Terus Perkuat Kolaborasi dengan Pesantren

Jumat, 23 Okt 2026 - 07:00 WIB