Oleh | Sujono (Om Jo)
MIMBAR, NOLESA.COM – Janji indah yang merangsang nafsu membuat manusia lupa pada perintah Tuhan; Merasa lebih mulia karena asal-usul penciptaan dirinya.
Ketika Allah bertanya apa alasan iblis menolak untuk sujud kepada Adam, dia berkata, “Aku lebih baik dari dia (Adam). Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakan dia hanya dari tanah.” Iblis sombong merasa lebih mulia karena asal-usul kejadian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain sombong, iblis menyimpan kedengkian kepada Adam. Iblis tidak senang melihat Adam mendapat kenikmatan dan kesenangan. Begitulah sifat dengki, tidak senang melihat pihak lain memperoleh kebaikan atau kenikmatan.
Iblis berniat menjatuhkan Adam. Iblis cerdik dan licik. Ia tidak menampilkan dirinya kepada Adam sebagai musuh. Bahkan sebaliknya, ia menawarkan diri dengan kata-kata indah ingin menjadi penasehat bagi Adam. “Sesungguhnya aku ini adalah penasehat untuk kamu berdua,” kata iblis kepada Adam dan istrinya Hawa.
Iblis mulai merayu Adam seraya berkata, “Hai Adam, maukah engkau aku tunjukkan pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan sirna?” Lalu iblis menunjuk pohon yang telah diwanti-wanti Allah agar tidak didekati.
Dengan pengalaman diplomasi dan jam terbang yang tinggi, iblis tampil sok sebagai analis papan atas, berkata kepada Adam, “Aku tak melihat Tuhan melarang engkau mendekati pohon itu, kecuali agar engkau tidak menjadi malaikat atau kekal di surga ini.”
Itulah tipu daya yang pertama kali terjadi pada manusia pertama; Adam dan istrinya Hawa. Drama kejatuhan karena tergiur terhadap kekuasaan dan nafsu untuk langgeng berkuasa itulah yang terus berlanjut dalam sejarah kehidupan manusia hingga hari ini.
Adam dan istrinya telah makan buah pohon khuldi. Akibatnya, pakaiannya serta-merta melorot sehingga aurat Mereka terbuka. Secepat auratnya terbuka, secepat itu pula mereka meraih daun-daun pohon sebagai penutup. Sebab, bagi manusia, ketika aurat terbuka memang yang seharusnya muncul adalah perasaan malu.
Pelanggaran berakibat terbukanya aib, dan aib harus ditutupi. Tapi sekali aib sudah terbuka, langkah yang bisa ditempuh untuk menutupinya seketika hanyalah langkah darurat, yang tidak mengembalikan pada keadaan semula. Pakaian daun-daun pohon adalah pakaian darurat untuk menutupi aib.
Aib adalah sesuatu yang membuat manusia merasa malu apabila terbuka. Keta’atan pada iblis yang mengalahkan keta’atan kepada Allah, adalah aib bagi manusia. Itu seharusnya disadari oleh manusia sebagai sesuatu yang memalukan.
Iblis riang gembira karena rencana licik-nya menjatuhkan Adam berhasil gemilang. Rencana licik yang dirancang amat menarik dan dijalankan dengan bahasa yang indah penuh dusta dan tipu daya.
Rupanya…
Iblis adalah arsitek pertama peletak politik untuk menjatuhkan lawan dengan cara-cara menipu dan menjebak lawan dalam janji-janji manis penuh kepalsuan. Politik iblis semacam inilah yang bermutasi dan terus berulang kali diperagakan manusia hingga hari ini.
Politik iblis diadopsi manusia dengan lebih canggih. Bahkan saking canggihnya, politik iblis yang diperankan oleh manusia membuat kita bingung menilai; mana iblis-nya, mana manusia-nya.
Masalahnya, iblis kembali berperan lebih hebat lagi, berpindah-pindah dari satu kubu ke kubu yang lainnya. Atau secara bersamaan berada pada semua kubu, lalu mengadu manusia seperti manusia mengadu domba atau jangkrik. Drama iblis dan Adam di surga itu tampaknya terus berlanjut hingga sekarang. Wallahu a’lam…
Politik iblis ternyata bisa diperankan oleh manusia dengan cara yang lebih canggih dan modern. Jargon, “Yang semula milik otentik iblis, kini disematkan manusia sebagai ‘pin keangkuhan’ di dadanya.” Manusia tidak mau dikalahkan. Manusia ingin langgeng berkuasa. Dan untuk itu, politik iblis terus-menerus diformat menjadi lebih “elok” dan “nyaman”.
Mari kita saksikan terus sepak terjangnya dalam pergulatan politik perebutan kekuasaan yang sedang ramai-ramainya di berbagai belahan bumi sekarang ini. Saksikan pula bagaimana iblis mengkili-kili nafsu keserakahan mereka yang ingin memanfaatkan kegaduhan goyang menggoyang kekuasaan.
Dan…
Mari kita juga belajar meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Bukan meninggikan diri dengan menggunakan kalimat-Nya…
Kutipan Bijak;
“Kita tak pernah benar-benar tahu, amal kebaikan mana yang akan menjadi titian kita menuju surga; Bisa jadi bukan yang besar, bukan yang terlihat, melainkan yang diam-diam kita lakukan tanpa berharap balasan; Seperti matahari yang bersembunyi dulu untuk menerangi bulan; Maka Ingatlah dua hal sederhana;
MEMBERI TANPA MENGINGAT dan MENERIMA TANPA MELUPAKAN; Jangan sibuk menghitung apa yang telah kita berikan, dan jangan ringan melupakan apa yang telah kita terima…”
(Kaidah Hidup)
*) Penulis lepas tinggal di Perum Satelit Kota Sumenep









