Desa Maju vs. Desa Tertinggal, Apa Bedanya?

Redaksi Nolesa

Jumat, 14 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Inspirasi, NOLESA.COM – Desa sering kali dibayangkan sebagai tempat yang sederhana: jalan kampung, sawah, pasar kecil, dan kehidupan masyarakat yang berjalan lebih tenang. Tetapi di balik kesederhanaan itu, terdapat perbedaan besar antara satu desa dengan desa lainnya.

Ada desa yang berkembang menjadi pusat ekonomi baru. Ada pula desa yang masih kesulitan menyediakan layanan dasar bagi warganya. Ada desa yang mampu mengembangkan potensi lokal, sementara desa lainnya memiliki sumber daya melimpah tetapi belum mampu mengolahnya.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat sebuah desa disebut maju atau tertinggal?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan Sekadar Jalan yang Bagus

Selama ini, kemajuan desa sering diukur dari pembangunan fisik. Jalan yang mulus, jembatan yang kokoh, kantor desa yang bagus, atau banyaknya bangunan publik dianggap sebagai tanda sebuah desa telah maju.

Padahal, ukuran kemajuan desa jauh lebih luas.

Pemerintah menggunakan Indeks Desa untuk melihat kondisi desa melalui enam dimensi, yaitu layanan dasar, sosial, ekonomi, lingkungan, aksesibilitas, dan tata kelola pemerintahan desa. (Peraturan BPK)

Artinya, desa maju bukan hanya desa yang memiliki infrastruktur bagus. Desa tersebut juga harus mampu menyediakan pelayanan dasar, mengembangkan ekonomi masyarakat, menjaga lingkungan, memiliki aksesibilitas yang baik, serta menjalankan pemerintahan desa secara efektif.

Desa Tertinggal Bukan Desa yang Gagal

Sebaliknya, desa tertinggal tidak seharusnya dipandang sebagai desa yang gagal.

Status tertinggal lebih tepat dipahami sebagai gambaran mengenai kondisi pembangunan sebuah desa. Pemerintah menggunakan indikator tertentu untuk melihat sejauh mana sebuah desa telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

Sistem penilaian desa membedakan status desa menjadi mandiri, maju, berkembang, tertinggal, dan sangat tertinggal. Semakin tinggi nilai indeksnya, semakin baik kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, dan pembangunan desa tersebut.

Karena itu, sebuah desa yang hari ini tertinggal masih memiliki kesempatan untuk berubah.

Baca Juga :  Selain Fashion, Berikut Isu Terhot Ketika Perempuan Lagi Ngerumpi

Desa dapat bergerak dari tertinggal menjadi berkembang, kemudian maju, bahkan mandiri. Yang menentukan adalah kemampuan desa mengatasi persoalan yang menjadi penghambat pembangunan.

Ada Enam Hal yang Membedakan

Perbedaan antara desa maju dan desa tertinggal dapat dilihat dari enam dimensi utama.

Pertama adalah layanan dasar. Desa maju cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan, air bersih, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya.

Kedua adalah kondisi sosial. Masyarakat desa tidak hanya membutuhkan fasilitas, tetapi juga kehidupan sosial yang sehat, inklusif, dan memiliki ruang partisipasi.

Ketiga adalah ekonomi. Desa maju mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang memberikan penghasilan kepada masyarakat. Potensi pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan, pariwisata, maupun usaha lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.

Keempat adalah lingkungan. Kemajuan tidak berarti mengeksploitasi seluruh sumber daya alam. Desa yang baik justru mampu menjaga lingkungan sekaligus memanfaatkannya secara berkelanjutan.

Kelima adalah aksesibilitas. Jalan, transportasi, komunikasi, dan konektivitas digital sangat menentukan kemampuan masyarakat desa berhubungan dengan dunia di luar desanya.

Keenam adalah tata kelola pemerintahan. Desa membutuhkan pemerintah yang mampu merencanakan pembangunan, mengelola anggaran, memberikan pelayanan, dan melibatkan masyarakat.

Uang Desa Bukan Satu-Satunya Jawaban

Besarnya anggaran desa memang penting. Namun, uang bukan satu-satunya penentu kemajuan.

Dana yang besar tidak akan menghasilkan perubahan apabila tidak dikelola berdasarkan kebutuhan masyarakat.

Sebaliknya, desa yang memiliki keterbatasan sumber daya masih dapat berkembang apabila mampu menentukan prioritas secara tepat.

Karena itu, persoalan pembangunan desa bukan hanya tentang berapa rupiah yang masuk ke desa, tetapi bagaimana uang tersebut diubah menjadi manfaat.

Jalan dibangun bukan sekadar agar terlihat bagus, tetapi agar petani lebih mudah membawa hasil panen. Internet bukan hanya untuk memasang Wi-Fi, tetapi agar anak-anak dapat belajar dan pelaku usaha dapat memperluas pasar.

Baca Juga :  Dari Pelosok Desa, Julhan Irfandi Membuktikan Pendidikan dapat Diperjuangkan

Begitu pula dengan BUMDes. Ukurannya bukan sekadar apakah BUMDes telah berdiri, tetapi apakah keberadaannya mampu menciptakan kegiatan ekonomi dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Desa Maju Adalah Desa yang Mampu Mengelola Potensi

Setiap desa sebenarnya memiliki kekayaan sendiri.

Ada desa yang memiliki tanah pertanian luas. Ada yang memiliki laut dan hasil perikanan. Ada yang memiliki perkebunan, hutan, wisata alam, kerajinan, kuliner, atau tradisi budaya yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.

Persoalannya adalah apakah potensi tersebut mampu diubah menjadi nilai tambah.

Di sinilah kualitas sumber daya manusia menjadi sangat penting. Desa yang memiliki potensi besar tetapi tidak memiliki kemampuan mengelolanya akan sulit berkembang.

Sebaliknya, desa dengan sumber daya terbatas dapat menjadi maju apabila masyarakat dan pemerintah desanya mampu menemukan inovasi.

Pemerintahan Desa Juga Menentukan

Ada satu faktor yang sering terlupakan ketika membicarakan kemajuan desa: kualitas pemerintahannya.

Pembangunan desa membutuhkan perencanaan yang baik. Pemerintah desa harus mengetahui persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat dan menentukan mana yang harus didahulukan.

Jangan sampai anggaran desa habis untuk pembangunan yang terlihat secara fisik, tetapi persoalan utama masyarakat justru tidak terselesaikan.

Karena itu, tata kelola pemerintahan menjadi bagian penting dalam ukuran kemajuan desa. Pemerintah desa harus mampu bekerja secara transparan, akuntabel, terbuka terhadap kritik, dan melibatkan masyarakat dalam menentukan arah pembangunan.

Desa Tertinggal Bisa Berubah

Hal paling penting dari klasifikasi desa adalah bahwa status tersebut bukanlah takdir.

Desa tertinggal bukan berarti akan selamanya tertinggal.

Perubahan dapat terjadi ketika persoalan yang menghambat pembangunan diidentifikasi dan diselesaikan satu per satu.

Jika masalahnya akses jalan, maka konektivitas harus diperbaiki. Jika masalahnya pendidikan, maka kualitas dan akses pendidikan harus menjadi prioritas. Jika persoalannya ekonomi, maka potensi lokal harus dikembangkan.

Baca Juga :  Sambut Tahun Baru Islam 1445 H, Inspektorat Sumenep Gelar Ceramah Agama

Tidak ada satu resep yang dapat diterapkan kepada seluruh desa. Setiap desa memiliki karakter, masalah, dan potensi yang berbeda.

Karena itu, pembangunan desa seharusnya tidak dilakukan dengan pendekatan seragam.

Jangan Hanya Mengejar Status

Ada satu hal yang juga perlu diingat: jangan sampai desa hanya mengejar perubahan status di atas kertas.

Tujuan pembangunan bukan sekadar membuat sebuah desa berubah dari tertinggal menjadi maju dalam statistik.

Yang jauh lebih penting adalah perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

Apakah pendapatan warga meningkat? Apakah anak-anak memperoleh pendidikan yang lebih baik? Apakah masyarakat lebih mudah mendapatkan pelayanan kesehatan? Apakah petani dan nelayan memperoleh pasar yang lebih baik? Apakah masyarakat merasa lebih aman dan memiliki masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi ukuran keberhasilan pembangunan desa.

Pada Akhirnya, Desa Maju adalah Desa yang Mengubah Kehidupan

Desa maju bukan desa yang memiliki semuanya.

Desa maju adalah desa yang mampu menggunakan apa yang dimilikinya untuk meningkatkan kehidupan masyarakat.

Ia mungkin tidak memiliki gedung yang megah. Tetapi sekolahnya berfungsi. Puskesmasnya dapat diakses. Jalan yang dibangun benar-benar membantu ekonomi warga. Pemerintah desanya bekerja. Anak-anaknya memiliki kesempatan belajar. Pelaku usaha kecilnya memiliki pasar.

Sementara itu, desa tertinggal bukan berarti tidak memiliki potensi.

Sering kali yang kurang bukan kekayaan alamnya, melainkan akses, teknologi, modal, infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, atau tata kelola untuk mengubah potensi tersebut menjadi kesejahteraan.

Karena itu, pembangunan desa pada dasarnya adalah tentang mengubah potensi menjadi kesempatan dan kesempatan menjadi kesejahteraan.

Desa yang hari ini tertinggal tidak harus menjadi desa tertinggal selamanya. Sebab kemajuan sebuah desa bukan sesuatu yang jatuh dari langit.

Ia dibangun melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan dengan benar, terus-menerus, dan pada akhirnya mengubah kehidupan masyarakat.

Penulis : Wail Arrifqi

Editor : Ahmad Farisi

Berita Terkait

Pramoedya Ananta Toer dan Tanah yang Tak Mengenalinya
Nyaman dalam Ketakutan
Sepiring Kenangan dari Kota Madiun
Dari Panimbang ke Houston: Jalan Panjang Sang Guru Besar
Pernah Jabat Ketua Cabang PMII dan GP Ansor, Kini Muhri Jadi Kandidat Ketua DPC PKB Sumenep
Dari Pelosok Desa, Julhan Irfandi Membuktikan Pendidikan dapat Diperjuangkan
10 Manfaat Buah Salak untuk Kesehatan, Nomor 5 Cocok untuk Cuaca Saat ini
Tak Semungil Bentuknya, Ternyata Jeruk Mandarin Kaya Vitamin

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:44 WIB

Desa Maju vs. Desa Tertinggal, Apa Bedanya?

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:03 WIB

Pramoedya Ananta Toer dan Tanah yang Tak Mengenalinya

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:17 WIB

Nyaman dalam Ketakutan

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:25 WIB

Sepiring Kenangan dari Kota Madiun

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:25 WIB

Dari Panimbang ke Houston: Jalan Panjang Sang Guru Besar

Berita Terbaru

Oplus_131072

Inspirasi

Desa Maju vs. Desa Tertinggal, Apa Bedanya?

Jumat, 14 Agu 2026 - 15:44 WIB