Oleh | Anis Munawwaroh
SUARA PEREMPUAN, NOLESA.COM – Lampu kamar dipadamkan, layar ponsel menjadi satu-satunya sumber cahaya yang menerangi wajah. Di tengah suasana malam yang sepi, suara bisikan dari video horor YouTube perlahan mengisi ruangan membuat bulu kuduk meremang, sekaligus menghadirkan sensasi aneh yang justru dinikmati untuk menikmati me time.
Ada sensasi ketagihan yang muncul dari ketegangan saat menonton konten horor. Jantung berdegup lebih cepat, bulu kuduk merinding, dan pikiran terasa lebih waspada, semua reaksi itu sebenarnya adalah respons alami tubuh saat kita merasa takut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun uniknya, sensasi tersebut justru dicari dan dinikmati berulang kali. Bagi sebagian orang, ketegangan ini menghadirkan pengalaman berbeda yang memacu adrenalin sekaligus memberi keseruan tersendiri.
Rasa takut yang biasanya dihindari, di sini justru berubah menjadi hiburan yang bikin penasaran dan ingin dirasakan lagi.
Alih-alih mencari ketenangan seperti kebanyakan orang, sebagian anak muda justru memilih rasa takut sebagai cara melepas penat. Di tengah tekanan tugas, rutinitas, dan berbagai pikiran yang menumpuk, konten horor menjadi pelarian yang terasa berbeda.
Di satu sisi, mereka butuh istirahat dan ketenangan, tetapi di sisi lain justru menikmati hiburan yang memacu adrenalin. Ketegangan yang muncul bukan dirasakan sebagai rasa lelah, melainkan seolah membantu mengalihkan pikiran dari tekanan yang sedang dirasakan.
Hal ini lah yang menjadikan pengalaman menonton konten horor menjadi pengalaman yang unik dan bukan sekadar menakutkan, tetapi juga menjadi cara lain untuk “bernapas” di tengah kesibukan.
Dila (20 tahun), Ruang Recharge Diri Lewat Cerita Horor
Bagi Dila, seorang Gen Z 20 tahun, me time bukan sekadar waktu untuk menyendiri, tetapi momen untuk mengisi ulang energi di tengah kesibukan. Di sela rutinitas, ia tetap menyempatkan waktu khusus untuk diri sendiri dengan cara yang cukup unik, yaitu menonton konten horor dari salah satu channel yaitu Nadia Omara dengan konten Kisah Horor Wawak (KHW) di YouTube.
Kebiasaan ini sudah sudah melekat karena cara penyampaian cerita yang terasa seperti mendengarkan teman sedang bercerita langsung, ditambah adanya dokumentasi asli yang membuat setiap kisah terasa lebih hidup dan menarik.
Biasanya, aktivitas ini dilakukan setiap menjelang tidur sebagai penutup hari. Dalam satu waktu, ia bisa menonton dua hingga tiga video. Meski identik dengan rasa takut, justru setelah menonton ia merasa lebih senang dan mood menjadi lebih baik.
Tidak hanya sebagai hiburan, setiap cerita juga menyelipkan pelajaran yang bisa diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari meskipun hanya pesan sederhana. Bagi Dila, menonton KHW bukan menjadi sesuatu yang perlu dibatasi, karena dilakukan di waktu luang yang terbatas. Justru, kebiasaan ini menjadi semacam “dongen pengantar tidur” yang memberi rasa nyaman sekaligus pengingat kecil untuk diri sendiri.
Horor sebagai Cara Sederhana Melepas Stres: Niswa (21 tahun)
Pengalaman serupa juga datang dari Niswa (21 tahun). Bagi Niswa, me time adalah momen yang benar-benar dimanfaatkan untuk diri sendiri, di tengah kesibukan yang padat. Ia selalu berusaha menyempetkan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai sebagai cara recharge energi. Salah satu cara paling sederhana yang dipilih adalah menonton konten horor Kisah Horor Wawak (KHW) dari Nadia Omara juga, karena dianggap fleksibel dan tetap seru.
“Nonton itu salah satu aktivitas me time yang sederhana, fleksibel, dan seru karena setiap episode pasti ada hal-hal baru yang mengejutkan tapi juga bisa jadi pelajaran,” ujarnya.
Kebiasaan ini biasanya dilakukan saat merasa lelah, stress karena tugas, atau sekadar mengisi waktu luang. Intensitas menontonnya pun tidak selalu sama, bisa sekitar tiga hingga lima episode dalam seminggu, bahkan lebih ketika memiliki waktu kosong yang cukup banyak. Perasaan setelah menonton pun beragam. “Kadang aku bisa jadi sedih setelah nonton karena terbawa suasana, kadang juga jadi lebih happy dan plong,” katanya.
Bagi Niswa, menonton KHW bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi cara untuk menyegarkan pikiran dari penatnya aktivitas sehari-hari. Ia pun tetap berusaha mengontrol kebiasaan tersebut saat kondisi tidak memungkinkan, sekaligus memanfaatkan setiap cerita sebagai sumber pembelajaran. “Selain refreshing, aku juga menganggap tontonan KHW sebagai tempat belajar karena banyak pelajaran yang bisa dipetik untuk diterapkan di kehidupan,” tutupnya.
Horor sebagai Teman Me Time yang Mengalihkan Penat: (Sofi, 20 tahun)
Bagi Sofi, me time bukan sekadar waktu luang, melainkan ruang untuk kembali ke diri sendiri setelah lelah dengan rutinitas. Di tengah padatnya aktivitas, ia memilih cara yang sederhana namun cukup efektif untuk mengisi ulang energi, yaitu menonton konten Kisah Horor Wawak (KHW). Cerita-ceritanya yang penuh misteri dan bikin penasaran menjadi daya tarik utama. “Karena KHW menarik, ceritanya bikin penasaran,”. Tidak hanya itu, ia juga merasa ada hal-hal yang bisa dipetik dari setiap kisah yang ditonton.
Pengalaman menonton terasa lebih dekat karena gaya penyampaian yang terkesan santai. “Jadi kayak ditemani, dan bisa ngelupain stress sebentar,” tambahnya.
Kebiasaan menonton ini biasanya ia lakukan saat rasa bosan atau lelah mulai terasa. Dalam sehari, ia bisa menyempatkan diri untuk menonton setidaknya dua episode, tergantung waktu yang tersedia. Meski terkesan menegangkan, ia justru merasakan manfaatnya sebagai cara untuk mengalihkan pikiran dari tekanan yang sedang dihadapi. Baginya, menonton bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk sederhana untuk menyenangkan diri. “Nonton itu cara mudah buat menghargai diri sendiri,” tuturnya. Ia pun merasa lebih fokus saat menyimak alur cerita dan dapat mengambil pelajaran dari setiap kisah yang ditonton. Namun, ia tetap berusaha mengontrol kebiasaan tersebut dengan mengurangi waktu menonton ketika tugas kuliah atau pekerjaan rumah sedang menumpuk.
Pada akhirnya, me time tidak selalu hadir dalam wujud sunyi yang menenangkan, melainkan justru tumbuh di tengah bisikan-bisikan gelap yang menghidupkan rasa. Di balik layar yang menyala di malam hari, mereka menemukan cara masing-masing untuk berdamai dengan lelah, membiarkan ketegangan mengalir, lalu perlahan meredakan sesak yang tak selalu bisa diucapkan.
Di sanalah, dalam batas tipis antara cemas dan nyaman, me time menemukan bentuknya yang paling jujur: sederhana, personal, dan tak selalu harus dimengerti orang lain.
“Di tengah sunyi, rasa takut justru menjadi teman paling setia untuk menikmati waktu sendiri”.
*) mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa Seni dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta









