Oleh | Nasywa Fairuz Kamalia
SUARA, NOLESA.COM – Setiap kota selalu memiliki cara untuk dikenang. Ada yang melekat karena bangunan bersejarahnya, ada pula yang hidup lewat cerita orang-orangnya.
Namun bagi saya, Madiun selalu hadir melalui aroma bumbu kacang yang menguar dari warung-warung sederhana di sudut kota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aroma itu membawa ingatan pada sepiring nasi pecel yang begitu akrab, hangat, dan seolah selalu menunggu untuk dinikmati.
Saya masih ingat bagaimana pagi di Madiun dimulai. Jalanan belum sepenuhnya ramai, tetapi beberapa warung pecel sudah dipenuhi pelanggan.
Di balik meja kayu yang sederhana, seorang ibu dengan tangan terampil meracik bumbu kacang. Sedikit air hangat dituangkan, lalu diaduk perlahan hingga mengental.
Di sampingnya, sayur bayam, kacang panjang, tauge, dan daun singkong tersusun rapi, siap berpadu dengan nasi hangat yang mengepul.
Tidak ada yang berlebihan dari sepiring nasi pecel Madiun. Justru kesederhanaannya yang membuatnya begitu istimewa. Nasi putih, aneka sayuran rebus, siraman bumbu kacang yang pekat, kemudian ditemani rempeyek yang renyah. Kombinasi yang tampak biasa, tetapi selalu berhasil menghadirkan rasa yang sulit dilupakan.
Yang paling membekas tentu bumbu kacangnya. Perpaduan rasa manis, gurih, dan pedas berpadu begitu pas. Sesekali aroma daun jeruk ikut menyapa, memberikan kesegaran yang membuat setiap suapan terasa lebih hidup. Bumbu itu bukan sekadar pelengkap, melainkan jiwa dari nasi pecel Madiun.
Lama-kelamaan saya menyadari bahwa nasi pecel bukan hanya tentang makanan. Ia adalah bagian dari kehidupan masyarakat Madiun.
Sepiring pecel menjadi teman sarapan sebelum memulai aktivitas, menjadi pelepas lapar saat siang, bahkan tetap dicari ketika malam mulai larut. Rasanya seperti ada ikatan yang tak terucap antara masyarakat Madiun dan hidangan sederhana ini.
Warung pecel juga menyimpan banyak cerita. Orang-orang datang bukan hanya untuk mengisi perut, tetapi juga untuk bertemu, bercengkerama, dan saling bertukar kabar.
Di sana tidak ada sekat. Semua duduk berdampingan menikmati hidangan yang sama, seolah nasi pecel menjadi bahasa yang mampu menyatukan siapa saja.
Kini, ketika berbagai makanan modern bermunculan dengan tampilan yang semakin menarik, nasi pecel tetap bertahan tanpa perlu mengubah jati dirinya.
Ia tidak mengikuti tren, tetapi justru menjadi tren yang tak pernah hilang. Kesederhanaannya membuatnya selalu punya tempat di hati banyak orang.
Setiap kali mengingat Madiun, yang pertama kali terlintas bukan hanya kotanya, melainkan kenangan menikmati sepiring nasi pecel di sebuah warung kecil.
Mungkin yang membuatnya terasa berbeda bukan semata-mata rasanya, melainkan suasana, keramahan orang-orangnya, dan potongan kenangan yang ikut tersaji di setiap suapan.
Pada akhirnya, saya belajar bahwa kebahagiaan memang tidak selalu hadir dalam sesuatu yang mewah. Kadang ia datang melalui sepiring nasi pecel yang hangat, dimakan di warung sederhana, sambil menikmati pagi yang berjalan tanpa tergesa. Dan setiap kali kenangan itu datang, Madiun selalu terasa seperti rumah yang menyambut dengan cara paling sederhana. (*)
*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta









