Perjuangan Mental, Pejuang Impian

Yona Elya

Rabu, 1 November 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis: Yona Elya

 

NOLESA.com – Di usia saya yang masih sangat kecil, tepatnya di usia 6 tahun, ketika perekonomian orang keluarga mengalami penurunan, akhirnya Bapak memutuskan untuk merantau ke tempat yang sangat jauh. Bapak pergi meninggalkan kami di Majalengka menuju kota Yogyakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setahun kemudian tepatnya di usia saya yang menginjak 7 tahun, saya dan Ibu menyusul Bapak ke Yogyakarta. Di kota ini kami bertempat tinggal di sebuah kontrakan sederhana tepatnya di Imogiri, Bantul. Selain ingin tinggal bersama-sama dengan Bapak, tujuan lainnya yaitu mereka ingin menyekolahkan anaknya di kota pelajar ini.

Pertama kali datang dan harus bersekolah di kota ini cukup sulit bagi saya. Mulai dari makanan, bahasa, dan kultur masyarakat setempat terasa asing bagi saya. Kota ini membuat saya harus banyak belajar dengan lingkungan sosialnya. Namun, seiring berjalannya waktu saya pun dapat berbaur dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru ini. Perlahan bahasa Jawa dapat saya kuasai dan memiliki banyak teman.

 

Jalan Terjal Masa Remaja

Saat di sekolah dasar, saya terbilang cukup berprestasi di SD Wukirsari. Pencapaian terbesar saya saat bersekolah di sana yaitu pernah mendapat peringkat 1 dan sering berada di peringkat 3 besar dalam kelas. Tak hanya itu, hobi saya juga sangat tersalurkan selama bersekolah di sekolah dasar.

Hobi saya dalam beryanyi, menari, memainkan alat musik gamelan sangat tersalurkan lewat ekstrakurikuler, pementasan-pementasan seni, dan lomba-lomba yang pernah saya ikuti. Tidak jarang juga berbagai penghargaan saya dapatkan dari berbagai hobi itu. Selain itu, saya juga pernah mendapat juara 2 lomba MTQ di tingkat kecamatan sekolah dasar, meskipun hanya mendapat peringkat kedua dan belum bisa melaju ke tingkat perlombaan yang lebih tinggi; saya cukup merasa bangga atas prestasi yang telah saya capai tersebut.

Baca Juga :  Cantik Memang Bukan Segalanya, Tapi Beauty Previlage itu Nyata

Saat berada di kelas 6 SD, produktivitas hobi saya mulai menurun. Di masa-masa itu saya mulai memfokuskan diri dan banyak belajar untuk UN (Ujian Nasional). Di setiap harinya saya belajar, khususnya sangat berusaha keras di mata pelajaran matematika. Mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang kurang saya sukai. Sebenarnya saya bisa, sedikit lemot dalam berhitung. Saya cenderung menyukai mata pelajaran yang sifatnya menghafal.

Singkat cerita, UN telah berlalu. Di pertengahan 2015, tibalah saatnya pengumuman kelulusan. Dari 3 mata pelajaran yang diujikan, saya berhasil meraih NEM 26,70. Saya cukup senang atas pencapaian dan hasil kerja keras yang telah saya tempuh selama UN.

Dengan NEM yang cukup tinggi, tentunya saya dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah pertama. Saat itu saya ingin melanjutkan ke SMP favorit yang tidak jauh dari tempat saya tinggal. Bapak setuju, namun Ibu berpendapat lain. Ibu tidak mengizinkan saya untuk bersekolah di SMP tersebut karena biaya pendidikan yang cukup mahal. Akhirnya saya pun melanjutkan di sekolah MTs Negeri.

Alasannya tentu karena biaya pendidikan di sekolah tersebut lebih terjangkau. Selain itu, Ibu juga menginginkan agar saya dapat memahami lebih dalam mengenai ajaran Islam. Di awal pendaftaran masuk sekolah, saya menjadi salah satu siswa yang mendapat bantuan di sekolah tersebut. Karena NEM saya di pendidikan sebelumnya cukup tinggi, saya mendapat keringanan biaya yaitu biaya pendaftaran dan seragam gratis. Meski pada awalnya merasa terpaksa untuk bersekolah di sana, saya merasa senang dan bangga karena dapat mewujudkan keinginan orangtua serta meringankan beban mereka.

Kesenangan yang semula hadir saat pertama kali masuk ke MTs, perlahan harus luntur dalam diri saya. Saya mengalami perundungan sekaligus perlakuan tidak menyenangkan dari kakak kelas. Tidak hanya secara verbal, perundungan secara fisik pernah saya rasakan.

Baca Juga :  Rendahnya Kepercayaan Diri Perempuan Terhadap Pendidikan

Mendapat perlakuan tersebut, membuat kesedihan dalam diri saya memuncak. Tak hanya itu, prestasi di sekolah hingga kondisi fisik saya mulai menurun. Saya menjadi sering sakit-sakitan, bahkan sempat merasa putus asa untuk menjalani hidup. Namun, beruntungnya saya masih memiliki beberapa teman dan  tentunya keluarga yang selalu menguatkan diri saya. Saya mulai bangkit atas bantuan dan dukungan dari mereka. Prestasi saya di sekolah pun perlahan meningkat dan terjaga dengan baik hingga lulus pada 2018.

Situasi yang sama di MTs juga kembali saya alami di SMA. Saya mendapat verbal abuse atau perundungan dari salah satu teman sekelas saya. Alasannya lagi-lagi karena kecemburuan sosial. Kali ini saya terpuruk. Mental benar-benar ambruk sehingga mengubah 180 derajat kepribadian yang saya miliki yang pada mulanya yang extrovert dan periang, mengubah diri saya menjadi seorang introvert karena mengalami krisis kepercayaan kepada semua orang.

Perundungan itu benar-benar membuat saya stres. Berbulan-bulan saya berusaha melawan stres dan ketakutan tersebut, namun hingga saat ini stres tersebut belum hilang dan masih menyisakan trauma mendalam.

 

Menjemput Impian

Dalam beberapa hal nasib saya memanglah kurang mujur, tetapi hal tersebut tidak akan pernah memengaruhi nasib dan impian saya di masa depan. Meski mendapat banyak tekanan, dari awal masuk sampai lulus SMA saya masih bisa mempertahankan prestasi akademik. Pada 2021, saya lulus dengan nilai yang cukup tinggi. Tak hanya itu, saya juga menjadi salah satu siswa yang mendapat hak dari sekolah dan pemerintah untuk berkuliah melalui jalur SNMPTN. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya langsung memanfaatkan peluang itu.

Beberapa minggu sebelum pendaftaran kuliah, saya mengalami dilema. Saya sudah memantapkan hati untuk mendaftar di Universitas Negeri Yogyakarta, namun prodi jurusanlah yang sempat memusingkan saya. Mulai dari prodi Seni Tari, Seni Musik, Sastra Inggris, hingga Sastra Indonesia menjadi opsi saya pada saat itu. Saya benar-benar bingung. Saya berkonsultasi pada orang-orang yang saya percayai. Namun, akhirnya saya memutuskan untuk memilih prodi Sastra Indonesia. Meski terdapat prodi lain yang jelas-jelas seirama dengan hobi saya, namun saya merasa prodi ini lebih berpotensi besar untuk diri saya ketika di dunia kerja nantinya.

Baca Juga :  Sejuta Kegigihan, Menjemput Mimpi Perempuan

Pengumuman hasil SNMPTN-pun tiba. Syukur alhamdulillah, Tuhan memudahkan salah satu jalan rezeki dan impian saya. Pada 2021, saya diterima di prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta. Tak hanya itu, saya juga beruntung menjadi salah satu mahasiswa berprestasi yang berhak mendapat bantuan beasiswa KIP-K dari pemerintah.

Rezeki itu lantas tidak saya sia-siakan. Sampai 2023, tepatnya di semester lima ini saya lebih kencangkan lagi semangat belajar saya. Meski baru lima semester, saya sangat bersyukur atas hasil jerih payah saya selama ini. Dari awal masuk kuliah hingga sekarang, IPK saya terus meningkat. Semoga ke depannya hal-hal baik akan terus menghampiri saya. Semoga apa yang saya cita-citakan dapat terkabul dan terealisasikan dengan segera. Semoga saya dapat menjadi kebanggan bagi orang tua dan orang-orang terkasih di sekitar saya. Khususnya orang tua saya, saya ingin benar-benar membanggakan mereka karena saya paham betul bahwa perjuangan mereka dalam menyekolahkan saya tidaklah main-main.

Sejak awal MTs dulu hingga saat ini, Bapak mulai beralih mata pencaharian dan banting tulang menjadi buruh bangunan, serta Ibu yang membantu perekonomian keluarga dengan membuka jasa laundry kecil-kecilan di rumah. Siapa pun yang telah membaca kisah singkatku ini, semoga dapat memantik dan meningkatkan motivasi belajarmu, wahai “Sang Pejuang” yang hebat! (*)

Berita Terkait

Sejuta Kegigihan, Menjemput Mimpi Perempuan
Cantik Memang Bukan Segalanya, Tapi Beauty Previlage itu Nyata
Menjadi Mahasiswa Cerdas dan Tangguh
Kehadiran Puan Maharani Mampu Menginspirasi Ibu PKK di Sumenep, Terutama Soal Melewati Tantangan Hidup
Rendahnya Kepercayaan Diri Perempuan Terhadap Pendidikan
Cinta dan Ingatan Mutia Sukma: Wanita dengan Segala Bentuk Cintanya

Berita Terkait

Kamis, 13 Juni 2024 - 09:00 WIB

Sejuta Kegigihan, Menjemput Mimpi Perempuan

Senin, 10 Juni 2024 - 07:17 WIB

Cantik Memang Bukan Segalanya, Tapi Beauty Previlage itu Nyata

Sabtu, 20 April 2024 - 15:09 WIB

Menjadi Mahasiswa Cerdas dan Tangguh

Senin, 22 Januari 2024 - 19:00 WIB

Kehadiran Puan Maharani Mampu Menginspirasi Ibu PKK di Sumenep, Terutama Soal Melewati Tantangan Hidup

Minggu, 21 Januari 2024 - 11:15 WIB

Rendahnya Kepercayaan Diri Perempuan Terhadap Pendidikan

Rabu, 29 November 2023 - 01:59 WIB

Cinta dan Ingatan Mutia Sukma: Wanita dengan Segala Bentuk Cintanya

Rabu, 1 November 2023 - 10:56 WIB

Perjuangan Mental, Pejuang Impian

Berita Terbaru

Anggun Cahyaningrum (Foto: dokumen pribadi)

Budaya

Rokat Pandhaba: Identitas Budaya yang Masih Terjaga

Jumat, 14 Jun 2024 - 13:11 WIB