Oleh | Arjuna Tri Putra Prasojo
CERPEN, NOLESA.COM – Apakah semua rindu memang ditakdirkan untuk selesai? Atau ada yang memang harus hidup lebih lama dari manusia yang menyimpannya?
Aku tumbuh bersama jarak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jarak dari bunda. Jarak dari rumah yang seharusnya utuh. Dan jarak dari kata pulang yang sejak kecil terasa asing bagiku. Aku terbiasa menahan semuanya sendiri. Bahkan untuk sekadar bercerita tentang hari yang buruk saja rasanya sulit. Kadang aku iri melihat teman-temanku pulang sekolah disambut suara bunda mereka dari dapur atau ditanya sudah makan atau belum. Hal-hal kecil seperti itu terdengar biasa bagi orang lain, tapi bagiku terasa seperti sesuatu yang mewah.
Mungkin karena itu aku belajar menjadi dewasa terlalu cepat.
Hari-hariku berjalan seperti biasanya. Sunyi, pelan, dan terasa berulang. Sampai suatu sore omku dari Jakarta mengirim pesan bahwa ia telah membelikanku tiket kereta untuk liburan semester.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Jakarta, kota yang selalu berhasil membuat dadaku terasa sesak dan hangat dalam waktu bersamaan. Di sana, keluargaku pernah lengkap. Di sana juga aku pertama kali belajar bahwa kehilangan bisa datang bahkan sebelum seseorang benar-benar pergi.
Malam sebelum keberangkatan, aku tertidur lebih cepat dari biasanya. Dan malam itu aku bermimpi.
Aku berdiri di tengah Jakarta yang gelap. Langitnya dipenuhi awan cumulonimbus, awan yang dulu pernah kupelajari di pelajaran geografi sebagai pertanda hujan besar. Udara terasa berat. Dalam hitungan menit hujan turun begitu deras hingga arus menyeret tubuhku.
Aku mencoba berenang, tapi tubuhku terlalu kecil untuk melawan banjir sebesar itu. Air masuk ke mulutku. Dadaku sesak. Aku pikir semuanya selesai. Hingga seseorang menarik tubuhku dari belakang. Pelukannya hangat.
“Jangan takut… aku di sini.”
Suara perempuan itu lembut sekali. Tangannya menggenggamku erat sambil mendorongku menuju tangga beton yang lebih tinggi.
“Naik… jangan lihat ke belakang.”
Aku terus memanjat sambil menangis. Saat akhirnya aku berhasil sampai di atas dan menoleh, tubuh perempuan itu perlahan hilang ditelan arus.
Aku langsung terbangun.
Napasku tersengal-sengal. Pipiku basah oleh air mata. Tanganku menggenggam cincin silver dari bunda.
Entah kenapa, setiap hujan turun aku selalu merasa Jakarta sedang memanggilku pulang.
Mungkin sejak kecil aku memang seorang pluviophile. Seseorang yang selalu menemukan kenangan di dalam hujan.
Mimpi itu mengingatkanku pada banjir besar di Jakarta sembilan belas tahun lalu, tepat setelah aku lahir. Hujan turun tanpa henti hingga rumah kami tenggelam. Aku dan ayah harus mengungsi ke rumah keluarga omku. Dari sanalah semua kenangan tentang Jakarta bermula. Termasuk kenangan tentang perpisahan kedua orang tuaku.
Keesokan malamnya aku benar-benar berangkat menuju Jakarta.
Di sepanjang perjalanan aku hanya diam sambil mendengarkan lagu “When We Were Young” milik Adele dari earphone-ku. Lagu itu terdengar seperti kenangan yang diputar ulang berkali-kali.
Pukul tujuh pagi aku tiba di Jakarta.
Hirzaa sudah berdiri di depan stasiun sambil melambaikan tangan dengan senyum lebar di wajahnya.
“Bang! Sini!”
Aku tertawa kecil lalu menghampirinya.
Perjalanan menuju rumahnya dipenuhi cerita random yang sebenarnya tidak penting, tapi anehnya justru membuatku merasa nyaman. Sesampainya di rumah, aku disambut pelukan hangat dari om dan tante. Aroma masakan memenuhi rumah mereka. Suara televisi terdengar dari ruang tengah. Kedua adik Hirzaa sibuk bercanda satu sama lain.
Aku diam beberapa detik.
Rumah itu terasa hidup.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa seperti benar-benar pulang.
Hari-hariku di Jakarta berjalan sangat cepat. Aku dan Hirzaa pergi ke M Bloc, mencoba salt bread yang sedang ramai dibicarakan orang-orang, duduk berjam-jam di SCBD sambil melihat lampu gedung yang menyala satu per satu, lalu pulang larut malam hanya untuk melanjutkan cerita random sampai mengantuk.
Kadang kami membicarakan hal serius. Kadang hanya tertawa karena hal bodoh. Namun entah kenapa, semua percakapan kecil itu terasa berharga bagiku.
“Capek nggak sih muter-muter terus?” tanyaku waktu itu.
“Capek lah,” jawab Hirzaa sambil tertawa kecil. “Tapi seru nggak?”
Aku mengangguk pelan.
“Seru banget.”
Jakarta malam itu terasa indah sekali. Namun semakin bahagia aku di sana, semakin aku sadar bahwa ada bagian dalam diriku yang masih kosong.
Aku sering bertanya diam-diam dalam hati. Bagaimana rasanya punya keluarga yang utuh setiap hari?
Beberapa hari kemudian, keluarganya Hirzaa mempertemukanku dengan bunda di Bekasi.
Aku melihatnya dari kejauhan.
Rambut bunda sudah mulai memutih. Wajahnya terlihat lebih lelah dari terakhir kali aku mengingatnya. Tapi senyumnya masih sama. Dan itu cukup untuk membuat air mataku jatuh begitu saja.
“Udah gede banget…” katanya pelan sambil memegang pipiku.
Aku ingin menjawab banyak hal. Aku ingin bilang kalau aku rindu. Aku ingin bilang kalau selama ini aku baik-baik saja meski sebenarnya tidak. Tapi tenggorokanku terasa sakit. Yang keluar justru tangisan.
Aku beberapa kali pergi ke toilet hanya untuk menenangkan diri. Saat keluar, Hirzaa ternyata sudah duduk menungguku di depan.
“Kamu nangis ya bang?” tanyanya pelan.
Aku langsung menunduk malu. Namun tanpa banyak bicara, Hirzaa berdiri lalu memelukku pelan. Dan anehnya, pelukan sederhana itu berhasil membuat dadaku terasa lebih ringan.
Malam itu mereka memberiku kejutan ulang tahun ke-19. Ada kue kecil di atas meja. Lilin angka sembilan belas menyala pelan. Bunda memelukku sambil mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Hal sederhana itu menghancurkan seluruh pertahananku.
Aku menangis lagi malam itu. Tapi kali ini bukan karena sedih.
Seminggu berlalu terlalu cepat. Di malam terakhir sebelum aku pulang ke Solo, aku dan Hirzaa hanya duduk di kamar sambil menonton drama Korea sampai larut malam.
“Kalau udah balik nanti jangan lupa kabarin,” katanya.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Padahal dalam hati aku ingin bilang kalau aku tidak ingin pulang secepat ini.
Pagi harinya aku bangun terlalu siang. Hirzaa sudah berangkat sekolah untuk foto yearbook.
Aku menatap kamar kosongnya cukup lama. Ada rasa sedih yang aneh. Seolah aku kembali kehilangan sesuatu.
Dalam perjalanan pulang, aku menangis diam-diam di dekat jendela kereta. Sawah, rumah-rumah kecil, dan langit sore bergerak cepat di luar sana.
Jakarta perlahan menjauh. Namun kenangannya tetap tinggal.
Sesampainya di rumah, hujan turun sore itu. Aku rebahan sambil memutar playlist milik Hirzaa. Lagu demi lagu berjalan pelan memenuhi kamar yang kembali sunyi.
Lalu aku sadar satu hal. Ternyata selama ini aku bukan takut sendirian. Aku hanya takut melupakan bagaimana rasanya bahagia.
Dan dari Jakarta, aku akhirnya tahu bahwa aku pernah benar-benar merasakan arti pulang. Meskipun hanya sebentar. Namun mungkin, itu sudah cukup untuk membuatku bertahan sedikit lebih lama. (*)
*) Arjuna Tri Putra Prasojo adalah seorang mahasiswa semester 2 Program Studi Pendidikan Geografi di Universitas Sebelas Maret (UNS). Pria kelahiran Jakarta, 31 Januari 2007 ini memiliki ketertarikan pada dunia kepenulisan fiksi, khususnya cerpen









