Mawar
Mawar di tengah hutan
Di antara dedaunan dan para hewan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sendiri, berpegang teguh pendirian dan keyakinan
Pada kebisingan
Terkutuk diam penuh harapan
Doa-doanya terkabulkan
Mawar di taman-taman kota
Tanpa kata-kata
Ia menjadi pusat perhatian di mana-mana
Sebab aromanya yang sederhana
Dapat berubah romansa cinta
Di antara mata-mata
Mawar di pinggir desa
Menawan seakan penuh rahasia
Rasanya ingin di penjara
Untuk dijadikan istri kedua
Rehat
Seorang yang sedang bersolek
Mencari jiwa di antara cermin dan mata
Padahal dirinya sempurna
Tapi sukma selalu saja ingin lebih darinya
Lalu apa daya?
Moral saja tak punya
Apalagi manikam di setiap kelam
Atau bahkan pakaian di setiap perbuatan
Aku ingin rehat
Sayap-sayap sedang penat
Aku ingin melihat bukan sebab buta
Tapi aku buta sebab tak ingin melihat
Cercaan Mereka
Tentang cercaan mereka
Membuana di antara belantara
Yang mati menjadi mayat
Atau hidup menjadi tak terlihat
Itu sama saja
Namun jika kau melihat rasi pada cakrawala
Maka kita membuat luka di atas kata-kata mereka
Peka bukan malapetaka
Tapi malapetaka datang pada kita
Saat diterima hati dan mata
Puitis
Duniawi
Berharap sajak tetap mendampingi
Aksara menjadi abadi
Usaha memendam cinta sejati
Duniawi
Jika ditemui
Banyak sisi nan segi
Menjadi ibu berperisai puisi
Namun pengabdi
Harus belajar pada sanubari
Yang akan memproklamasi hati
Duniawi
Dengan tanpa terikat dasi-dasi
Sebatas abjad-abjad suci
Malam yang Sendu
Ditemani beberapa bintang
Pada malam yang cukup petang
Ketika degup jantung mengguncang
Dan air mata bersiap untuk datang
*) Nihalun Nada, penyair muda berasal dari Sumenep Madura. Sekarang menjadi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Beberapa puisinya seringkali menjadi langganan Media cetak, dan beberapa puisinya sudah banyak yang bukukan









