Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Menarik, apa yang disampaikan seorang profesor Matematika dalam sebuah acara Talkshow Tokoh Inspiratif yang diselenggarakan Komunitas Kata Bintang, 25 November 2025 lalu di Kampus UNIBA. Beliau, dalam kesadaran utuh mengakui tidak sanggup untuk mengajari matematika anaknya yang masih SD kelas rendah, meskipun sudah menyandang gelar profesor. Meskipun matematika sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Malah, beliau angkat topi kepada ibunya yang seorang guru SD dan ternyata sangat mampu dan telaten mengajari anaknya. Pesan sang ibu:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Profesor sepertimu, terbiasa mengajari mahasiswa. Mereka adalah intelektual muda yang di otaknya sudah berisi ilmu matematika, sementara anakmu masih belum diisi ilmu matematika seperti mahasiswamu. Mengajari anak SD, apalagi kelas rendah, membutuhkan satu kearifan untuk menurunkan egomu sebagai profesor. Ia adalah anak kecil. Maka, ajarilah anakmu itu dalam posisi kamu berada dalam dunianya. Jangan memaksa dunia profesormu untuk dimasuki anak kecil. Paksalah dirimu untuk masuk dalam dunia anakmu.”
Ini pesan mendalam seorang guru kelas rendah. Guru yang kadang luput dari hiru-pikuk ketenaran dan nama besar, bahkan kemegahan intelektual seperti anaknya yang profesor tadi.
Diakui memang, di ruang-ruang akademik, seorang profesor matematika terbiasa berkutat dengan persamaan kompleks, bukti-bukti abstrak, dan konsep yang hanya dipahami segelintir orang. Namun, semua kemegahan intelektual itu bisa runtuh seketika ketika ia berhadapan dengan sesuatu yang tampak sederhana: mengajari matematika pada anak sekolah dasar (kelas rendah). Tidak sedikit profesor yang mengakui, dalam situasi seperti itu, mereka justru “angkat tangan”.
Fenomena ini bukan soal kurangnya kompetensi, melainkan tentang jarak kognitif dan pedagogis antara matematika tingkat tinggi dan cara berpikir anak-anak. Di sinilah letak paradoksnya. Semakin tinggi seseorang menguasai matematika, semakin sulit kadang baginya mengajarkan konsep paling dasar.
Dalam konteks ini ada kutub yang tak bisa bertemu: antara abstraksi konkret. Profesor matematika hidup dalam dunia abstraksi. Baginya, angka bukan sekadar benda, melainkan struktur, pola, dan relasi. Sementara itu, bagi anak SD, angka masih berwujud benda-benda konkret: tiga apel, lima pensil, tujuh kue.
Ketika seorang profesor langsung berbicara dalam bahasa konsep, anak SD hanya menangkap kehampaan. Di titik inilah profesor sering merasa “frustrasi”. Bagi mereka, konsep dasar begitu intuitif dan “sudah lama lewat”, sehingga sulit menurunkannya kembali pada bentuk paling sederhana. Maka dari itu, ada sebuah tantangan “menyederhanakan” yang sebenarnya tidak sederhana.
Mengajarkan matematika dasar bukan sekadar memahamkan operasi hitung, tetapi menyusun struktur berpikir yang belum terbentuk. Profesor yang terbiasa melompat beberapa level logika dalam pikirannya tidak bisa melakukan hal yang sama saat mengajar anak SD.
Di sinilah muncul tantangan besar. Anak SD berpikir konkret, profesor berpikir abstrak, anak SD belajar dari contoh, profesor terbiasa dari definisi dan anak SD butuh pendekatan emosional, profesor terbiasa dengan argumentasi rasional. Dalam perspektif demikian, kongruensi dua dunia ini tidak otomatis terjadi.
Perlu dipahami bahwa anak SD membutuhkan bukan hanya penjelasan, tapi pengalaman belajar. Mengajari anak SD bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan bagaimana menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, penuh eksplorasi, penuh pengulangan, dan sesuai dengan pola perkembangan psikologis mereka.
Profesor yang tidak terbiasa mengajarkan hal-hal sederhana sering lupa bahwa anak SD belum bisa fokus lama. Mereka belajar lewat permainan, bukan ceramah, dan mereka membutuhkan contoh visual, bukan simbol abstrak. Mereka juga perlu merasakan keberhasilan kecil berulang-ulang, bukan sekadar memahami konsep besar. Maka, di sinilah banyak profesor akhirnya kehabisan akal.
Perlu dipahami pula bahwa kemampuan mengajar tidak sama dengan kemampuan menguasai ilmu. Fenomena profesor matematika yang menyerah mengajar matematika dasar mengingatkan kita bahwa penguasaan ilmu dan kemampuan mengajar adalah dua kompetensi yang berbeda.
Guru SD menguasai pedagogi perkembangan yaitu bagaimana membuat konsep sulit menjadi mudah, bagaimana membangun motivasi belajar, bagaimana membaca bahasa tubuh anak-anak, dan bagaimana menyederhanakan tanpa menghilangkan esensi. Di titik ini, justru guru SD sering jauh lebih ahli dibanding profesor dalam hal mengajarkan fondasi matematika.
Oleh karena itu, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dalam fenomena ini: rendah hati dalam mengajar adalah niscaya. Pengalaman profesor yang “angkat tangan” merupakan pengingat bahwa mengajar itu seni, dan memahami anak itu keterampilan. Merendahkan tingkat bahasa tanpa merendahkan substansi itu kemampuan khusus. Maka dari itu, fondasi pendidikan adalah kerja keras para guru SD—yang sering kali tak mendapat apresiasi setimpal. Ketika seorang profesor mengakui kesulitannya, sebenarnya ia sedang memberi penghormatan tersendiri kepada ibunya termasu guru-guru SD yang setiap hari berjuang membuat konsep yang rumit terasa sederhana.
Pada ranah ini, harus diakui bahwa matematika dadalah pintu, dan guru SD adalah penjaganya. Seorang profesor mungkin menguasai puncak matematika, tetapi guru SD adalah penjaga pintu pertama yang menentukan apakah seorang anak mau masuk ke dunia matematika atau tidak. Maka ketika profesor matematika “angkat tangan” mengajari matematika anak SD, itu bukan kelemahan, melainkan bukti bahwa pendidikan dasar adalah fondasi paling kompleks sekaligus paling vital dalam dunia pendidikan. Salam takdim!
*) Pembina Komunitas Kata Bintang










