Sumenep, NOLESA.com – Lahir di desa dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan bukan berarti berhenti menggapai harapan. Karena kesempatan dan peluang selalu terbuka bagi mereka yang berjuang.
Kurang lebih begitu kalimat pembuka Ach Fadhail, ketika ditanya alasannya memilih melanjutkan kuliah dari pada kerja setelah lulus di SMA Negeri 1 Gapura, Sumenep. Madura.
“Pada saatnya semua orang akan bekerja untuk menyambung hidup, tetapi pendidikan atau ilmu adalah pondasi penting, apapun pekerjaannya nanti,” kata Ach Fadhail, ketika ditemui di rumahnya di Desa Taman Sare, Dungkek, Sabtu 30 September 2023.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Putra pertama pasangan suami istri Masyhuri dan Muslimah itu mengaku, keinginannya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi mulai tumbuh sejak duduk di bangku SMP Negeri 1 Batang-Batang.
Istilah kampus dan kuliah yang didengar dari guru dan temannya terekam dalam memori otaknya. Maka, menjelang lulus dari SMA Gapura tekadnya semakin bulat untuk kuliah.
“Tentu semua ini berkat restu dan dukungan kedua orang, sehingga bisa mengenyam pendidikan di Universitas Wiraraja,” kata lulusan SDI Mathaliul Anwar Taman Sare ini.
Setelah 3 semester menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unija Sumenep, Fadail mengaku semakin semangat menjalani perkuliahan.
Apalagi dia terpilih sebagai peserta pada program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Batch III yang dilaksanakan di Universitas Bandar Lampung (UBL). Dahaga akan pengetahuan semakin terasa.

“Pengalaman yang saya peroleh dalam program PMM itu sangat berharga,” ujarnya.
Tidak ingin menjadi kacang lupa kulitnya, Fadail mengaku semua pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh tersebut merupakan hasil bimbingan dan doa para guru dan dosennya dari SDI Mathaliul Anwar sampai Unija.
Secara khusus, dia berharap apa yang dijalani saat ini bisa menginspirasi siswa-siswi di SDI Mathaliul Anwar Taman Sare. Karena sepengetahuannya, dari sekian lulusan di sekolah tersebut baru dia yang melanjutkan kuliah.
“Pada intinya pendidikan itu penting, maka mau hidup di desa ataupun di kota harus optimis kalau kita akan mendapatkan hak yang sama, kuncinya ikhtiar dan terus berdoa,” pesa mahasiswa kelahiran 5 Februari 2004 itu.
Di tempat yang sama, Masyhuri ayah Fadail mengaku selama ini tidak banyak yang disampaikan kepada anaknya. Selain mendukung dan berdoa untuk keberlanjutan pendidikan anaknya itu.
“Kami hanya berpesan, tekadmu harus lebih besar dari keinginan kedua orang tuamu, karena ekonomi kita pas-pasan, tetapi sepanjang kamu punya kemauan kami akan berusaha, tentu dengan kekuatan doa,” kata Masyhuri.
Selain itu, kedua orang tua Fadail tidak pernah menekan harus jadi apa setelah kuliah. Karena mereka menyadari sekuat apapun usaha seseorang pada akhirnya harus ikhlas menjalani takdir yang digariskan.
“Yang kami tanamkan kepada anak kami, adalah akhlak dan ilmu yang bermanfaat. Dan keyakinan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia,” tegasnya.
Sebagai orang tua, selain terus bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan yang dilimpahkan kepada putra belahan jiwa, mereka senantiasa berterimakasih kepada para guru dan dosen yang telah membimbing Fadhail.
“Semoga apa yang diperoleh anak kami barokah, dan bermanfaat bagi agama, serta lingkungan di mana dia tinggal,” harapnya.
Penulis : Rusydiyono
Editor : Ahmad Farisi









