Selamat Datang di Era Otoritarianisme Kompetitif

Redaksi Nolesa

Kamis, 15 Februari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meski tidak bersifat resmi, namun dapat dipastikan kemenangan Prabowo-Gibran yang dibeberkan oleh berbagai lembaga survei melalui quick count (hitung cepat) itu merepresentasikan perolehan suara yang semestinya yang nantinya akan diumumkan oleh KPU.

Semua rilis lembaga survei yang mengadakan quick count menunjukkan pasangan Prabowo-Gibran berhasil mendapatkan suara antara 57-58 persen. Sebuah prolehan suara yang sangat tinggi.

Sementara dua kompetitornya, tertinggal jauh. Pasangan Anies-Muhaimin hanya mampu mengumpulkan 25-26 persen suara. Sedangkan pasangan Ganjar-Mahfud hanya memperoleh 16-17 persen suara.

Artinya, dengan perolehan suara yang sangat mendominasi itu, dapat dipastikan Prabowo-Gibran menang satu putaran.

Kemenangan Kekuatan Oportunis dan Pragmatis

Sejak Prabowo Subianto resmi meminang Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapresnya, saya menganggap pasangan Prabowo-Gibran sebagai bentuk perkawinan antara oportunisme politik Presiden Jokowi dan pragmatisme Prabowo Subianto.

Presiden Jokowi, dengan segala kekuasaan yang melekat pada dirinya, tak mau kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan momentum yang tak mungkin datang dua kali. Yakni, membangun dinasti politik.

Sehingga, berbagai cara politik pun dilakukan bagaimana caranya dinasti politiknya itu bisa terbangun dengan megah sebelum dirinya mengakhiri jabatannya sebagai Presiden berakhir pada Oktober 2024 nanti.

Baca Juga :  Percintaan Lebih Besar dari Kata “Cinta”

Sementara Prabowo Subianto, yang berkali-kali kalah dalam pertarungan Pilpres, juga tak mau kehilangan kesempatan untuk berkuasa meski harus didukung dengan cara-cara yang tidak benar: mengangkangi demokrasi dan mengacak konstitusi dan etika politik kita.

Bak gayung bersambut, Presiden Jokowi, dengan sikap oportunistiknya dan Prabowo dengan sikap pragmatisnya, berjalan bergandengan, memburu kekuasaan dengan segala cara yang bisa dilakukannya. Termasuk dengan cara memobilisasi lembaga negara.

Baca Juga :  Memaknai Protes Publik

Alarm Buruk bagi Demokrasi

Kita memang tidak punya pengetahuan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, dengan melihat berbagai rekam jejak bagaimana pasangan Prabowo-Gibran memenangkan Pemilu, kita dapat memprediksi nasib demokrasi Indonesia tidak akan baik dalam beberapa tahun ke depan.

Seperti yang telah terjadi di banyak negara, dari Venezuela, Rusia, Turki, Filipina dan yang lainnya, demokrasi Indonesia nampaknya akan memasuki masa senjakala. Otoritarianisme kompetitif, kekuasaan otoritarian yang menggunakan baju demokrasi, akan memimpin bangsa ini ke depan.

 

Berita Terkait

Inilah Fase Keindahan Hidup Umat Manusia
Sudah Waktunya Madura Naik Level
Berebut Tiket Cawabup Fauzi
Sedekah Sebagai Bukti Iman
Indonesia Negara Bersama
Mahluk Tuhan Paling Dahsyat
Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 
Mengapa Suara Ganjar Anjlok?

Berita Terkait

Jumat, 17 Mei 2024 - 10:07 WIB

Inilah Fase Keindahan Hidup Umat Manusia

Rabu, 15 Mei 2024 - 14:19 WIB

Sudah Waktunya Madura Naik Level

Selasa, 14 Mei 2024 - 18:41 WIB

Berebut Tiket Cawabup Fauzi

Jumat, 10 Mei 2024 - 08:17 WIB

Sedekah Sebagai Bukti Iman

Senin, 25 Maret 2024 - 04:23 WIB

Indonesia Negara Bersama

Rabu, 20 Maret 2024 - 07:02 WIB

Mahluk Tuhan Paling Dahsyat

Kamis, 22 Februari 2024 - 13:01 WIB

Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 

Kamis, 15 Februari 2024 - 16:26 WIB

Mengapa Suara Ganjar Anjlok?

Berita Terbaru

Inspirasi

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional dan Relevansinya di Masa Kini

Senin, 20 Mei 2024 - 06:00 WIB

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Mengutamakan Implementasi

Minggu, 19 Mei 2024 - 12:00 WIB