Puisi-puisi Qudwatul Imamah-Madura

Redaksi Nolesa

Kamis, 12 Desember 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kolase foto nolesa.com

Kolase foto nolesa.com

Sebuah Perjalanan

Tubuhku terpekik melihat sepuluh anak kecil menarik batu dari jalanan kotor yang berdebu

Talinya begitu erat dililitkannya ke seluruh tubuh

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sesekali peluh mengalir di sela-sela napas yang terengah

Merengek kesakitan,

Mengerang bahkan dadanya begitu kerontang

”Lihatlah, nak!

Sebuah kejutan dari semesta telah menyelamatkanmu dari nasib tak terarah

Anak seusiamu telah direbut oleh nestapa

Bahkan nyawa mereka jadi taruhannya.” kata perempuan paruh bayah sambil menjahit lukanya

Aku meringis mendengarnya

Saat kudengar sendiri bunyi kekosongan dalam perutnya

Sesekali mereka mengikat lebih erat

Merangkul tubuh yang hampir sekarat

Lunglai, bahkan ada yang pingsan

“Lihatlah, nak!

Sebuah dosa menemani anak kecil yang kehabisan tawa

Padahal mereka tak bersalah

Tulislah, nak!

Sebuah mantra bahagia agar mereka bisa tertawa

Baca Juga :  Puisi-Puisi Muhammad Aidul Bakri

Bukan sekadar memikul duka

Meski hanya fatamorgana” Kata perempuan paruh bayah itu lagi

Hatiku perih,

Lebih dari sayatan belati

Kututlis segala perjalanan dalam diksi yang beterbangan

Berharap tinta tak ikut kekeringan.

Gapura, 2024

Rumah Untuk Pulang

Aku membuntuti langkah angin

Menarik ujung jemari-jemariku

Ditarikku ke jalan sepi tak berpenghuni

Bau anyir tak kuasa kucium sampai pening

Huruf-huruf kenestapaan beterbangan dari dahan kecil

Milik kakek tua: jiwa yang sudah tiada

“Kemana anak muda pemilik jiwa?”kataku dalam dada yang tak tahu arah semesta

Angin kembali menarik jemari-jemariku

Terburu-buru

Menunjuk ladang tua dengan tanah coklat paling keruh

Sebuah kepala menjerit

Kulihatnya seikat robekan kain ketidakadilan

“Di mana rumah kami?

Kemana kami akan pulang?”katanya menatapku

Tiba-tiba tangannya meraba tanganku

Baca Juga :  Siapakah Santri, Puisi Kurniawan Adityawarna

Aku ketakutan

Menggigil tapi tak dingin

“Kemana mereka akan pulang?” tanyaku kebingungan

Gapura, 2024

Bangunan Tak Berkaca

Dari sudut kota,

Mataku tertuju pada bangunan tua tak berkaca

Tak ada cahaya,

Sekadar gelap yang menyala

Tawanya habis

Dan mereka menangis

Gapura, 2024

Barangkali Aku Dapat Membaca

I/

Masih kutapaki bekas pijakan nenek moyang di jalan setapak itu, sebab tiap pijakan adalah doa yang menanggalkan sejarah. Pun ribuan ritual dibaca dengan mantra pada pertengahan abad yang tak terbaca.

Mereka enggan membaca, barangkali aku dapat membaca:

Pada setiap titik di sudut ruangan, lilin-lilin dinyalakan agar tradisi memiliki kehidupan, lantaran matinya: ada pada atma manusia yang berhamburan.

Mereka enggan membaca, barangkali aku dapat membaca:

Tiap siraman dengan kembang tujuh rupa, tarian-tarian dengan selendang bahagia, pun tradisi khas daerah adalah kekunoan yang tak perlu dijaga: katanya.

Baca Juga :  Puisi-puisi Moh Aqil Madura

II/

Peradaban tak terlihat dalam pandangan mata: ia musnah, bersengketa dengan zaman tak tentu arah, lantaran manusia sibuk mendongeng bersama keasingan sejarah.

Mereka enggan membaca, biar aku yang membaca:

Setiap makna dalam tulisan sejarah adalah nyawa bagi kehidupan manusia sesungguhnya.

Mereka enggan membaca, biar aku yang membaca:

Bahwa pengasingan dari jiwa sendiri adalah mati sebelum mati.

III/

Mereka enggan membaca, Aku yang membaca.

Gapura, 2024


Qudwatul Imamah, lahir di Pangabasen Sumenep, Maret 2005. Saat ini menjadi mahasiswi aktif di Institut Kariman Wirayudha (Inkadha) Beraji Sumenep. Salah satu karyanya telah dimuat di antologi bersama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (2023), antologi bersama “Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu (2024).

Berita Terkait

Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Khalil Satta Èlman
Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen
Puisi-puisi Ilham Wiji Pradana
Puisi-puisi Dewis Pramanas

Berita Terkait

Senin, 22 Desember 2025 - 12:29 WIB

Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa

Selasa, 16 Desember 2025 - 18:18 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 29 November 2025 - 11:42 WIB

Puisi-puisi Ahmad Rizal

Sabtu, 27 September 2025 - 11:19 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Rabu, 9 Juli 2025 - 21:49 WIB

Puisi-puisi Khalil Satta Èlman

Berita Terbaru

Ketua Fraksi PDIP DPRD Sumenep, H. Hosnan Abrory naik sepeda ontel ke kantor DPRD Sumenep (Foto: Istimewa)

Daerah

Aksi Nyata Fraksi PDIP DPRD Sumenep Dorong Penghematan BBM

Jumat, 17 Apr 2026 - 16:25 WIB

Ketua DPD PDIP Jatim, Said Abdullah (Foto: Istimewa)

Politik

Said Abdullah Tegaskan Kedekatan PDIP Jatim dengan NU

Minggu, 12 Apr 2026 - 18:45 WIB