Puisi-puisi Dian Chandra

Redaksi Nolesa

Senin, 28 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dian Chandra untuk NOLESA.COM

Dian Chandra untuk NOLESA.COM

Ikan-ikan Memelihara Diri

mulanya, musim berganti

dari angin timur ke angin barat

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

dan hiu tutul betah bermain-main di sana

—sedang orang-orang menjauhi bala

dengan penghormatan yang paling ikan

pada waktu yang lampau,

ikan-ikan tak perlu memelihara diri

—mereka dapat berenang-renang

di sepanjang jala dan perahu nelayan

bersama kanak-kanak yang leluasa

menghirup wangi laut

dengan cara paling purba

ahh, mungkin saja paling manusiawi

kini, laut ialah penjara

yang mengutuk kehidupan di hadapannya

—lalu sekarat hingga ke anak-cucu

sedang ikan-ikan sibuk memelihara diri

Baca Juga :  Puisi-puisi Unais Muhammad Madura

dari pemilik bambu

yang menghabisi kebebasan

dengan paling keji

kini, pada waktu yang paling update

orang-orang merindu laut

—sebagaimana ikan-ikan menginginkan bau nelayan

dan kanak-kanaknya

dengan hati paling telanjang

—sungguh-sungguh telanjang

tanpa teritip

di jari-jari gaib pengu(a)sa(ha)

Toboali, 17 Maret 2025

Ini Tahun Dua Ribu Bla Bla Bla

Nelayan bilang ini tahun dua ribu bla-bla-bla,

saat-saat kegaiban menunjukkan jati dirinya

—yang lalu berumah di sini, laut

serupa simsalabim

jreng!

ahh, kaulupa bagan kerang hijau

—tetapi nestapa pada bambu-bambu

yang berbaris meminta pertemuan

Toboali, 17-25 Maret 2025

Baca Juga :  Siapakah Santri, Puisi Kurniawan Adityawarna

Laut dan Apa-apa yang Dipunyainya

sejak semalam, ia menghitung buih laut

usai ditanggalkan harapan

dan janji kuasa

sedang beberapa pagi yang lampau,

ia telah mencuri keberlanjutan anak-anak ikan

untuk makan dan bermain-main

–pikirnya, laut tak akan habis-habis

ia merampas apa-apa

dari rahim laut

hingga biru menjadi legam

yang mengundang derita di sana-sini

kini, ia hendak mati

dalam rahim laut

–menjadi kepunyaan laut

yang dicabik-cabik ikan dan harapan

Toboali, 17 April 2025

Melaut Rinduku

menyerupai laut, rinduku

sebanyak garam di pantai

sekukuh karang di pekarangannya

melaut rinduku, itu kataku

Baca Juga :  Puisi-Puisi Abd. Wakid

dengan ikan-ikan yang berenang-renang

di dalam mataku

dengan buih yang dihantarkan angin dan air

lalu menyentuh kaki-kakimu

aku melaut, merindu kamu

seumpama nelayan

yang merindu tangkapannya

lalu pulang

dan melagukan nyanyian duyung

aku merindu, kamu yang mendadak laut

–asin dan dalam

Toboali, 17 April 2025

*Dian Chandra merupakan nama pena dari Hardianti, S.Hum., M.Hum. IRT lulusan S2 arkeologi Uniiversitas Indonesia ini merupakan penulis puisi Laju Aksara Timah. Ia bermukim di Toboali, Bangka Selatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum
Puisi-puisi Renata Xalisa Putri
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:15 WIB

Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:57 WIB

Puisi-puisi Renata Xalisa Putri

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:38 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:36 WIB

Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum

Minggu, 26 April 2026 - 15:24 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Berita Terbaru

Ketua DPD PDIP Jawa Timur, MH Said Abdullah (Foto: Istimewa)

Politik

Di Lumajang, Ketua DPD PDIP Jatim Tegaskan Kekuatan Partai

Minggu, 14 Jun 2026 - 14:52 WIB

(for NOLESA.COM)

Puisi

Puisi-puisi Moh Sulthanul Ulum

Jumat, 12 Jun 2026 - 11:15 WIB