Menelisik Sisi Humanisme dalam Cerpen Asap-asap Itu Telah Menghilang karya Rizqi Turama

Redaksi Nolesa

Rabu, 18 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Alista Khansa Hanin Mufida*

ESAI, NOLESA.COM – Layaknya karya pada umumnya, pasti tidaklah sempurna. Perlu dikaji, didiskusikan untuk memetik sebuah pesan dari sang penulis. Termasuk cerpen Asap-asap itu Telah Menghilang.

Bagian Interpretasi Awal

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Cerpen Asap-asap itu Telah Menghilang karya Rizqi Turama merupakan salah satu cerpen yang ada di dalam Buku Cerpen Pilihan Kompas 2020 Macan yang kuat akan makna. Cerpen tersebut mengandung makna mendalam tentang perjuangan kemanusiaan. Cerpen ini menyajikan gambaran tentang kehidupan manusia yang sebenarnya. Selain itu, cerpen ini mengangkat sisi humanisme yang kuat dan mengakar.

Rizqi Turama dalam novel itu mengangkat sosok tokoh bernama Basau. Basau, seorang aktivis muda pada zamannya yang pernah menjadi bagian gerakan sosial. Bersama teman-temannya, ia memupuk semua keberanian untuk mempertahankan hak kemanusiaan.

Akan tetapi, perjuangan Basau di masa lalu sungguh penuh kekerasan. Di depan matanya sendiri, Basau melihat teman seperjuangannya dipukuli, diancam, dan dibawa oleh para petugas. Tahu bahwa dirinya akan masuk dalam radar, Basau memilih meninggalkan masa lalunya, termasuk kota kelahirannya.

Pilihan yang membuatnya melarikan diri malah dikembalikan oleh kehidupan barunya. Sekuat mungkin Basau berusaha menutupi semua kejadian di masa lalu dari sang istri dan anaknya. Ia tidak bisa membayangkan dirinya harus mengaku sebagai seorang yang begitu saja meninggalkan sesuatu yang pernah mereka sebut sebagai perjuangan. Istrinya bisa memahaminya.

Baca Juga :  Gonta-ganti Kebijakan, Guru Semakin Tertekan

Tidak pernah menuntut, bahkan bertanya. Berbeda dengan sang anak, yang tidak pernah puas mendapatkan jawaban atas tertutupnya diri sang ayah. Di kehidupan barunya sebagai ayah, Basau kemudian mengerti perasaan ketakutan yang dulu dialami ayahnya. Lewat sang anak, Basau kembali dihidupkan dengan trauma ketika anaknya terlibat dalam aksi massa mempertahankan hak kemanusiaan.

Bagian Analisis-Deskripsi

Pertama, perjuangan seorang Basau menjadi bagian dari pergolakan hak kemanusiaan, menampilkan sisi humanisme yang kuat. Khususnya dalam penggambaran kompleksitas hubungan manusia dengan lingkungan sosial dan keluarga. Lingkungan sosial yang merugikan kehidupan seorang Basau, menumbuhkan sisi lain dalam dirinya. Seperti halnya ketika manusia mencoba mencari keadilan terhadap krisis moral yang kerap terjadi.

Tapi, darah muda mengguyurnya dengan amarah, membalas dengan berkata bahwa ayah terlalu naif serta pengecut dan tak mau peduli pada nasib bangsa (Halaman 13).

Kedua, keterlibatan Basau dan anaknya dalam demonstrasi membela hak kemanusiaan merupakan cerminan kepedulian terhadap isu kemanusiaan. Humanisme pada hal ini mengeluarkan nilai-nilai yang mencakup demokrasi dan keadilan. Humanisme pada demokrasi akan menumbuhkan sisi manusia untuk peduli dan percaya pada pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan.

Baca Juga :  Provokasi Orde Baru dalam Sentimentalisme Calon Mayat

Kemudian, adanya nilai humanisme terhadap keadilan akan menumbuhkan sisi manusia untuk ikut memastikan setiap orang dapat perlakuan yang sama dan dilindungi haknya.

Lebih dari dua puluh tahun lalu, di tengah sesak napas karena gas air mata, Basau jeri melihat kepala temannya bocor dihantam pentungan oleh petugas (Halaman 11).

Ketiga, ketakutan Basau terhadap perilaku anaknya mencerminkan nilai humanisme kasih sayang, terlebih Basau adalah seorang ayah. Menutupi ketakutan di masa lalu adalah caranya dalam menjaga sang anak. Basau tidak ingin anaknya mengalami penderitaan yang sama.

Basau lebih ingin mengatakan banyak pada sang anak bahwa ia harus menghindari kesalahannya di masa muda. Akan tetapi, ia sadar bahwa hal itu hanya akan disangkal oleh sang anak, seperti ketika ia dulu menyangkal ayahnya. Sisi humanisme menjaga dan melindungi dapat kita maknai dari perilaku Basau. Nilai kasih sayang dan pengertian yang diberikan Basau memang sudah sewajarnya terjadi karena ia adalah seorang manusia.

Baca Juga :  Ketika Pagi Tak Sekadar Bahagia: Sebuah Analisis Objektif terhadap Naskah Drama Bangun Pagi Bahagia karya Andy Sri Wahyudi

“Tak perlu kau tambahi lagi. Asap dari pabrik sudah cukup,” ucap Basau pada anaknya di suatu pagi.

“Kita selalu merasa cukup, Pak. Tapi pabrik itu tidak pernah. Aku cuma membiasakan diri dengan asap. Lagi pula, asapku ini adalah asap perlawanan terhadap asap mereka.” Basau tersenyum. Anaknya kurang ajar. Sama seperti dia di masa muda. (Halaman 15).

Bagian Evaluasi-Penilaian

Secara keseluruhan, Rizqi Turama berhasil mengangkat sisi humanisme kuat dalam cerpen ini. Kehidupan manusia yang sesuai dengan realitas sosial dapat bisa terangkat dengan penggambaran personal tokoh Basau. Melalui tema empati, kehilangan, dan kemanusiaan, penulis berhasil menggambarkan kompleksnya sisi humanisme seorang manusia.

Nilai-nilai humanisme yang kuat dalam cerpen ini mengajarkan pentingnya menumbuhkan rasa adil, moralitas, demokrasi, dan belas kasih. Dengan demikian, cerpen ini tidak hanya menjadi sebuah cerita personal, tetapi menjadi kritik yang menyuarakan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.(*)

*perempuan kelahiran Sleman, pada 2 Oktober 2004. Saat ini, saya merupakan seorang mahasiswi semester 4, S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta.

 

 

Berita Terkait

Bajjra 3: Refleksi Atas Fenomena Pendidikan Saat ini (Bagian I)
Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E
Jantung Batik Solo
Ancaman Sunyi Bagi Masa Depan Pangan
Ruang Publik dan Ancaman yang Terus Membayangi Perempuan
Taruhan Masa Depan: Remaja Terikat Judi Online
“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta
Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 11:45 WIB

Bajjra 3: Refleksi Atas Fenomena Pendidikan Saat ini (Bagian I)

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:26 WIB

Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:44 WIB

Jantung Batik Solo

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:31 WIB

Ancaman Sunyi Bagi Masa Depan Pangan

Rabu, 20 Mei 2026 - 06:37 WIB

Ruang Publik dan Ancaman yang Terus Membayangi Perempuan

Berita Terbaru

Pertama di Madura, UTM Resmi Buka Fakultas Kedokteran (kolase foto)

Pendidikan

Pertama di Madura, UTM Resmi Buka Fakultas Kedokteran

Minggu, 7 Jun 2026 - 21:51 WIB