Oleh | Alista Khansa Hanin Mufida*
ESAI, NOLESA.COM – Layaknya karya pada umumnya, pasti tidaklah sempurna. Perlu dikaji, didiskusikan untuk memetik sebuah pesan dari sang penulis. Termasuk cerpen Asap-asap itu Telah Menghilang.
Bagian Interpretasi Awal
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Cerpen Asap-asap itu Telah Menghilang karya Rizqi Turama merupakan salah satu cerpen yang ada di dalam Buku Cerpen Pilihan Kompas 2020 Macan yang kuat akan makna. Cerpen tersebut mengandung makna mendalam tentang perjuangan kemanusiaan. Cerpen ini menyajikan gambaran tentang kehidupan manusia yang sebenarnya. Selain itu, cerpen ini mengangkat sisi humanisme yang kuat dan mengakar.
Rizqi Turama dalam novel itu mengangkat sosok tokoh bernama Basau. Basau, seorang aktivis muda pada zamannya yang pernah menjadi bagian gerakan sosial. Bersama teman-temannya, ia memupuk semua keberanian untuk mempertahankan hak kemanusiaan.
Akan tetapi, perjuangan Basau di masa lalu sungguh penuh kekerasan. Di depan matanya sendiri, Basau melihat teman seperjuangannya dipukuli, diancam, dan dibawa oleh para petugas. Tahu bahwa dirinya akan masuk dalam radar, Basau memilih meninggalkan masa lalunya, termasuk kota kelahirannya.
Pilihan yang membuatnya melarikan diri malah dikembalikan oleh kehidupan barunya. Sekuat mungkin Basau berusaha menutupi semua kejadian di masa lalu dari sang istri dan anaknya. Ia tidak bisa membayangkan dirinya harus mengaku sebagai seorang yang begitu saja meninggalkan sesuatu yang pernah mereka sebut sebagai perjuangan. Istrinya bisa memahaminya.
Tidak pernah menuntut, bahkan bertanya. Berbeda dengan sang anak, yang tidak pernah puas mendapatkan jawaban atas tertutupnya diri sang ayah. Di kehidupan barunya sebagai ayah, Basau kemudian mengerti perasaan ketakutan yang dulu dialami ayahnya. Lewat sang anak, Basau kembali dihidupkan dengan trauma ketika anaknya terlibat dalam aksi massa mempertahankan hak kemanusiaan.
Bagian Analisis-Deskripsi
Pertama, perjuangan seorang Basau menjadi bagian dari pergolakan hak kemanusiaan, menampilkan sisi humanisme yang kuat. Khususnya dalam penggambaran kompleksitas hubungan manusia dengan lingkungan sosial dan keluarga. Lingkungan sosial yang merugikan kehidupan seorang Basau, menumbuhkan sisi lain dalam dirinya. Seperti halnya ketika manusia mencoba mencari keadilan terhadap krisis moral yang kerap terjadi.
Tapi, darah muda mengguyurnya dengan amarah, membalas dengan berkata bahwa ayah terlalu naif serta pengecut dan tak mau peduli pada nasib bangsa (Halaman 13).
Kedua, keterlibatan Basau dan anaknya dalam demonstrasi membela hak kemanusiaan merupakan cerminan kepedulian terhadap isu kemanusiaan. Humanisme pada hal ini mengeluarkan nilai-nilai yang mencakup demokrasi dan keadilan. Humanisme pada demokrasi akan menumbuhkan sisi manusia untuk peduli dan percaya pada pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan.
Kemudian, adanya nilai humanisme terhadap keadilan akan menumbuhkan sisi manusia untuk ikut memastikan setiap orang dapat perlakuan yang sama dan dilindungi haknya.
Lebih dari dua puluh tahun lalu, di tengah sesak napas karena gas air mata, Basau jeri melihat kepala temannya bocor dihantam pentungan oleh petugas (Halaman 11).
Ketiga, ketakutan Basau terhadap perilaku anaknya mencerminkan nilai humanisme kasih sayang, terlebih Basau adalah seorang ayah. Menutupi ketakutan di masa lalu adalah caranya dalam menjaga sang anak. Basau tidak ingin anaknya mengalami penderitaan yang sama.
Basau lebih ingin mengatakan banyak pada sang anak bahwa ia harus menghindari kesalahannya di masa muda. Akan tetapi, ia sadar bahwa hal itu hanya akan disangkal oleh sang anak, seperti ketika ia dulu menyangkal ayahnya. Sisi humanisme menjaga dan melindungi dapat kita maknai dari perilaku Basau. Nilai kasih sayang dan pengertian yang diberikan Basau memang sudah sewajarnya terjadi karena ia adalah seorang manusia.
“Tak perlu kau tambahi lagi. Asap dari pabrik sudah cukup,” ucap Basau pada anaknya di suatu pagi.
“Kita selalu merasa cukup, Pak. Tapi pabrik itu tidak pernah. Aku cuma membiasakan diri dengan asap. Lagi pula, asapku ini adalah asap perlawanan terhadap asap mereka.” Basau tersenyum. Anaknya kurang ajar. Sama seperti dia di masa muda. (Halaman 15).
Bagian Evaluasi-Penilaian
Secara keseluruhan, Rizqi Turama berhasil mengangkat sisi humanisme kuat dalam cerpen ini. Kehidupan manusia yang sesuai dengan realitas sosial dapat bisa terangkat dengan penggambaran personal tokoh Basau. Melalui tema empati, kehilangan, dan kemanusiaan, penulis berhasil menggambarkan kompleksnya sisi humanisme seorang manusia.
Nilai-nilai humanisme yang kuat dalam cerpen ini mengajarkan pentingnya menumbuhkan rasa adil, moralitas, demokrasi, dan belas kasih. Dengan demikian, cerpen ini tidak hanya menjadi sebuah cerita personal, tetapi menjadi kritik yang menyuarakan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.(*)
*perempuan kelahiran Sleman, pada 2 Oktober 2004. Saat ini, saya merupakan seorang mahasiswi semester 4, S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta.










