Mental Health

Redaksi Nolesa

Kamis, 17 Oktober 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Susi Rukmini*


Beberapa tahun terakhir, gangguan mental menjadi problem yang banyak dialami oleh kalangan remaja menuju dewasa. Remaja sekarang menjadi rentan mengalami ketidakseimbangan keadaan jiwa karena pengaruh lingkungan seperti tekanan sosial, lingkungan keluarga, dampak sosial media, pekerjaan, hubungan asmara dan hal lainnya. Walaupun ada faktor lain yang bisa disebabkan dari dalam diri sendiri seperti kebiasaan, keturunan, perilaku, dan sifat.

Hambatan semacam ini bukanlah hal sederhana yang bisa dibiarkan karena bisa membuat frustasi, depresi dan efek terburuknya percobaan bunuh diri. Meskipun begitu pemahaman masyarakat terhadap gangguan jiwa menjadi salah, sehingga beberapa orang yang mengalami gangguan ini cenderung menutup diri dan tidak berani menyampaikan permasalahan yang terjadi. Padahal gangguan jiwa (neurose) dan penyakit jiwa (psikose) merupakan dua hal yang berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepribadian neurose tidak jauh dari realita dan masih hidup dalam kehidupan seperti umumnya, masih mengetahui dan merasakan kesukaran. Sementara psikose, dari semua aspek kepribadian seperti tanggapan, perasaan, emosi sudah sangat terganggu dan tidak ada integritas sama sekali sehingga ia hidup jauh dari kehidupan manusia yang semestinya.

Baca Juga :  Menembus Kedalaman Makna Cinta

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kesehatan mental yang baik adalah keadaan mental seseorang dalam kondisi sejahtera, artinya seseorang memungkinkan untuk mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuannya untuk belajar dan melakukan pekerjaan dengan baik sehingga dapat berkontribusi terhadap diri dan lingkungannya.

Dengan demikian bisa menjadi dasar untuk mengambil sebuah keputusan, membangun relasi dan menciptakan hubungan yang sehat dengan orang lain. Kesehatan mental bukan hanya sekedar tidak adanya gangguan mental akan tetapi lebih kompleks yang dialami oleh setiap orang dengan tingkatan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Keadaan mental yang sehat biasanya ditunjukkan dengan kestabilan emosi, perasaan tenang serta kemampuan penyesuaian diri dengan keadaan dan lingkungan sekitar. Sebagai seorang yang hidup secara berdampingan dan bersosial, setiap orang mempunyai peran dalam mendukung serta menjaga keseimbangan kesehatan mental.

Baca Juga :  Kretek: Rokok yang Berawal dari Obat?

Secara eksternal kita dapat mengendalikan diri untuk tidak menjadi penyebab gangguan mental bagi orang lain. Memulai untuk belajar bertanggung jawab atas setiap tindakan yang berhubungan dengan orang lain. Tidak menganggap remeh suatu kejadian yang menimpa orang lain hanya karena menurut persepsi kita bukanlah perkara yang penting. Tidak menyepelekan kesedihan orang lain sebab dalam pandangan kita keadaan tersebut tidak pantas ditangisi. Tidak mudah menghakimi atau bahkan sampai mencaci perbedaan yang menjadi pilihan orang lain. Menumbuhkan kesadaran untuk tidak menilai berdasarkan sudut pandang diri sendiri. Sebaliknya justru kita bisa saling mendukung, membantu, mengarahkan, bijak dalam bersikap dan mulai peduli pada sesama.

Dari segi internal kita bisa belajar untuk membiasakan diri berpikir secara luas dan positif. Mengembangkan potensi diri tanpa takut judgment dari orang lain. Memberikan afirmasi yang baik pada diri sendiri dan menghargai setiap bentuk usaha sekecil apapun. Menghindari lingkungan yang toxic. Mencoba untuk tidak beranggapan bahwa diri kita penting bagi orang lain sehingga meminimalisir rasa kecewa atas ekspektasi yang kita ciptakan sendiri. Menigkatkan ibadah sebagai bentuk psikoterapi. Menyesuaikan diri secara resignasi (memasrahkan semua perkara sepenuhnya kepada Tuhan).

Baca Juga :  Polemik Ijazah Palsu: Ironi Administrasi dalam Pemilihan Kepala Daerah

Kesehatan mental yang baik akan memberikan dampak yang besar terhadap kualitas generasi kedepannya. Tindakan yang nyata merupakan sebuah upaya untuk membentuk lingkungan yang kondusif sehingga memberikan rasa aman bagi setiap orang. Kita punya andil untuk turut serta membentuk generasi yang kuat dan tahan atas berbagai macam tantangan hidup yang akan terus ada dan berbeda setiap masanya.


*) Magister Ilmu Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Berita Terkait

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta
Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol
Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme
PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756
Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep
Alternatif Pengganti Kendaraan Pribadi
Sumpah Pemuda yang Sudah “Menua”
Refleksi Hari Santri Nasional 2025

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 11:05 WIB

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta

Jumat, 28 November 2025 - 18:24 WIB

Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol

Selasa, 11 November 2025 - 16:22 WIB

Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme

Sabtu, 1 November 2025 - 14:32 WIB

PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756

Jumat, 31 Oktober 2025 - 01:14 WIB

Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB