Puisi-puisi Rizal AR

Rabu, 8 Februari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelayaran

Masih begitu nyata tentang kedalaman samudra, istriku

Ketika para pelaut memainkan sebuah jala atas nama ketenangan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sesaat melihat senyum kekar karang menghidupi sepi

Pada debur gelombang yang girang akan luka-luka

Serta arus, masihlah ricuh membuat kedamaian

Namun semilir angin terus senantiasa menyisir diubun-ubuntakdzir

Dengan isyarat ikan-ikan

Kubawakan segala hasrat untuk menenun kisah ini, istriku

Sebelum aku tenggelam dan hanya menyisakan kabar

Sebab, anak dari kita masihlah tak ingin yatim piatu

Inilah, sepenggal kisah seorang ayah

Sebab ibu

Hanya pantas meracik doa-doa diatas sajadah

Lubangsa F/05, 2022

Kebiasaan di Kampungku

Baca Juga :  Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum

Tiap kali aku meratapi ibu-ibu memungut reranting kering tergeletak berserakan di kotak ladang, jua tak lupa mengumpulkan sejuta resah daun bambu, lalu di makan api perlahan bersama sisa-sisa ilalang kering kerontang, sementara pak tani memeras keringat di tengah ladang, beranak, pinak bersama burung-burung yang tenang bersiul, menyelami sepi pada bentang matahari, bahkan tapak kaki dari hitungan detik mulai memberat untuk sekedar menjejaki usia musim ini, ah alangkah deras di sekujur tubuh, keringat berlari menerobos dada, menari, bahkan menggelitik tubuh sehabis menggempur tanah seharian dengan istiqamah.

aku berlindung sejenak di bawah dahan pepohonan, bersentuhan dengan angin yang akhir-akhir ini miris orang rasakan, jua melihat gelenyar dari buah terik matahari, bahkan asap telah hilang menjadi tumpukan debu di kotak ladang dengan sekejap sangat, ranting-rannting kecil yang kering berserakan, serta beberapa macam dedaunan akhirnya bersih jua di kotak ladang tempat menggantungkan hidup.

Baca Juga :  Puisi-Puisi Khairur Rosikin Bunang

Annuqayah, 2022

Softex

Bagaimana bisa aku mencintaimu, kekasih

sedang pada batas keraguan yang kupunya

ritus doa-doa masihlah terpenjara di rumah sajadah

entah bagaimana bisa aku mencintaimu, kekasih

dari sebab muasal saja

seluruh keyakinanku tak begitu beruntung

namun, aku sebagai lelaki kurang ajar

masihlah pantas bermain-main di pelaminanmu yang terlanjur basah.

Baca Juga :  Nuansa Pesta

Giliyang, 2022

Hayat

;Lin A.R

Engkau tunggal

Akan tetapi tanggal dimataku

Giliyang, 2022

Suatu Hari Dijarah Musim

suatu hari kami di jarah musim, mencabik-cabik ladang tak lepas dari bini, anak-anak kami jua, ikut menabur hidup di belakang ketika hari jum’at, meniti dengan sangat lahan dan lihai,memendam keresahan bapak di atas kotak ladang, ketika panci sudah sedikit demi sedikit mulai, terkuras keringat, samar-samar adzanpun berkumandang di kejauhan, waktu tak mudah selalu, aku upah dengan kerja, hingga aku pulang kepangkuan Tuhan dengan dua tangan yang, senantiasa terus menengadah.

Annuqayah, 2022

Berita Terkait

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Khalil Satta Èlman

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:38 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:36 WIB

Puisi-Puisi Moh Sulthanul Ulum

Minggu, 26 April 2026 - 15:24 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Senin, 22 Desember 2025 - 12:29 WIB

Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa

Selasa, 16 Desember 2025 - 18:18 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya

Kamis, 4 Jun 2026 - 19:58 WIB

(for NOLESA.COM)

Esai

Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E

Kamis, 4 Jun 2026 - 18:26 WIB

(for NOLESA.COM)

Esai

Jantung Batik Solo

Kamis, 4 Jun 2026 - 17:44 WIB