Oleh Farisi Aris*
”Jika bukan mainan, jangan mau dibenturkan.”
—Gus Mus
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
”Intinya sih jangan mau dibenturkan, biar kita gak jadi mainan.”
—Habieb Husen Ja’far
Dua kutipan di atas adalah adalah nasehat dua tokoh penting di negeri ini, yakni Gus Mus atau Kiai Musthofa Bisri dan Habib Husen Ja’far. Mengambil inspirasi dari lato-lato, dua sosok pembawa kedamaian itu hendak mengingatkan kita semua agar jangan mau dibentur-benturkan dan diadu domba sesama anak bangsa.
Nasehat Gus Mus dan Habib Husen itu kiranya penting untuk menjadi renungan kita bersama. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, kita terlalu sering bersitegang dan bertengkar dengan sesama saudara sendiri. Satu sama lain saling menghujat dan mencaci maki. Padahal, semuanya masih sesama anak ibu pertiwi.
Perpecahan dan pertengkaran yang selama ini cukup sering terjadi salah satunya terjadi di medsos. Di medsos, para netizen dengan mudah saling menuduh, saling tuding, dan saling menyalahkan. Bahkan, yang lebih mengerikan lagi, mereka yang sesama muslim, saling menghujat dan saling mengkafirkan.
Terkadang, hanya karena perbedaan pilihan politik atau dukungan politik, keduanya saling menegasikan, membenci, dan mencaci maki. Kata-kata kotor dan penuh kebencian dilontarkan. Satu sama lain tidak lagi mengenal batasan. Alhasil, perpecahan pun menjadi semakin menganga, membesar, dan meluas.
Tak ada lagi kerukunan, begitupun dengan persatuan kebangsaan kita, juga dikoyak tanpa sisa. Di media sosial, semuanya menjadi buas dam keji. Seolah-olah, sebagai warga negara, kita tidak lagi memiliki nilai-nilai luhur seperti Pancasila yang mesti dijalankan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sekali ada pihak yang bermain-main api, tak peduli hoax atau bukan, para netizen kita dengan segera mengambil posisi berlawanan, menjadi pihak penghujat atau pembela. Seolah, dunia ini, jika bukan putih, maka adalah hitam.
Alhasil, yang hitam menyangkal menjelek-jelekkan yang putih. Sebaliknya, yang putih, menyangkal dan menjelek-jelekkan yang hitam. Seolah, di dunia ini, tak boleh ada perbedaan dan warna-warna lain. Semuanya harus seragam dan sama persis dengan diri dan kelompok kita.
Sederet pertanyaan pun muncul: kita ini manusia atau lato-lato, si mainan itu? Kenapa kita begitu dengan mudah dibenturkan dan diadu domba? Jika kita manusia, bukan lato-lato, bukankah seharusnya kita lebih dewasa menyikapi sebuah masalah, tanpa harus berbenturan dan berkonflik dengan pihak lain? Jangan-jangan kita adalah lato-lato dalam bentuk manusia? Atau, jangan-jangan, kita adalah manusia mainan, layaknya lato-lato?
Namun, pastinya, kita adalah manusia, yang berakal dan berpikir, bukan lato-lato, si mainan yang dibentur-benturkan itu. Karena itu, karena kita bukan mainan sejenis lato-lato, sebagaimana nasehat Gus Mus dan Habib Husen Ja’far, mari jangan mau dibentur-benturkan dengan perbedaan identitas, kelompok dan pilihan-pilihan politik yang ada.
Perbedaan, entah perbedaan identitas, kelompok, ideologi, afiliasi politik, aliran keagamaan, atau pilihan-pilihan politik lainnya, adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, mari kita hargai perbedaan yang ada agar kita tidak mudah dibentur-benturkan dan diadu domba dengan saudara-saudara kita sendiri.
Lato-lato suka dibentur-benturkan dan diadu domba adalah wajar. Sebab, lato-lato hanyalah seutas mainan. Lato-lato tidak punya perasaan, juga tidak memiliki akal dan pikiran. Wajar bila lato-lato suka dibenturkan sebab, ia tidak memiliki kapasitas (berupa kemampuan) untuk mengidentifikasi saudaranya sendiri.
Sedangkan kita adalah manusia. Memiliki akal, perasaan, dan kemampuan untuk mengetahui dan mengenal saudara-saudara kita. Selain itu, dengan bekal akal, kita juga diberi kemampuan untuk mengenal mana yang haq dan yang batil, mana yang baik dan yang buruk; mana yang boleh dan mana yang tidak boleh kita lakukan. Semuanya sudah sangat jelas.
Karena itu, mari kita gunakan anugrah itu sebagai bekal untuk menghargai perbedaan yang ada. Perbedaan adalah rahmat. Dengan adanya perbedaan itu, kita diharapkan bisa hidup berdampingan, saling menghargai dan saling melengkapi kekurangan masing-masing. Di dunia nyata atau di medsos, mari menjadi manusia yang seutuhnya, jangan menjadi separuh manusia dan separuh lato-lato!
Sebagaimana firman-Nya, kita diciptakan dalam keadaan beragam, berbeda, adalah untuk saling mengenal, saling menghargai, dan saling menyayangi. ”Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al Hujarat ayat 13). Jadi, mari jaga persatuan. Cegah benturan sosial. Cukup lato-lato yang dibenturkan. Kita jangan!
Wartawan nolesa.com









