Connect with us

Mimbar

Percintaan Lebih Besar dari Kata “Cinta”

Jamalul Muttaqin

Published

on

Ilustrasi via pixabay.com

Orang jatuh cinta itu berat, Lur. Bikin sakit hati, bikin nyesek, sakitnya tuh di sini.

Itu kalau kalian salah memilih pasangan alias sembrono. Memilih pasangan atau kekasih, beda-beda tipis dengan memilih baju di sebuah toko Sakola, Jogja, misalnya, dari melihat kualitas dan harga yang tertempel di bandrol sampai pada pilih-pilih kualitas dan mode. Jika dompetmu tebal, bisa membeli baju-baju yang bermerek, jika uangmu pas-pasan, enggak usah nekat jual gigimu untuk beli baju mahal. Intinya, pasanganmu adalah sesuai dengan kapasitas dirimu sebagai seorang yang harus dicinta oleh kekasih yang memang ditakdirkan oleh Tuhan.

Pernah baca novel Eka Kurniawan, Cantik Itu luka? Jika pernah kalian pasti tahu, bahwa di akhir cerita, sang Dewi Ayu, memiliki anak buruk rupa yang diberi nama Cantik. Siapa nyana, Krisan, si lelaki tampan, lebih memilih bercinta dengan Cantik si buruk rupa. Bagi Krisan lubang kemaluan wanita itu sama saja. Ketika bercinta rasanya tak bisa membedakan antara si cantik dan si buruk rupa. Pertanyaannya, apakah percintaan selalu identik dengan kesenangan seksual? Jika jawabannya tidak, adakah orang yang mengaku cinta namun tak pernah melakukan percintaan? Itu sebabnya, saya pilih kata “percintaan” bukan “persetubuhan”.

Percintaan yang jelas lebih besar dari kata “cinta” itu sendiri. Lebih penting dari kata cinta itu sendiri. Dan, lebih membahagiakan dari kata cinta itu sendiri. Seorang lelaki yang impoten, memiliki seorang kekasih perempuan yang mencintai, mereka berdua menyebutnya sebagai sang cinta sejati. Mungkinkah wanita tersebut akan bertahan bersama lelaki yang tak bisa sekadar mengencingi kemaluannya? Dan tak bisa memberikan momongan?

Baca Juga :  Hidup adalah Misteri, Novel, dan Cerita-Cerita Fiksi Lainnya

Di sinilah cinta sejati akan terus dikucilkan dengan deretan fakta-fakta sosial yang hina sekaligus sangat kejam. Selalu ada ruang yang ditutupi dalam memilih pasangan hidup, dengan sebuah alasan yang cenderung dibuat-buat, misalkan seorang lelaki terlalu hina menyatakan cintanya kepada perempuan dengan sebuah alasan “karena-karena”, sebab alasan “karena-karena” membuat seorang lelaki tersebut hina, dan membuat seorang lelaki tersebut dicampakkan, dengan satu alasan dari seorang wanita; cintanya tidak tulus? Terus kalian (para wanita) mengartikan cinta yang tulus tanpa alasan seperti tai yang tiba–tiba keluar dari pantat manusia. Tidak mungkin. Semua kehidupan butuh alasan, kita memilih, kita menikah, kita melahirkan, dan semuanya butuh alasan.

Kemudian adakah cinta sejati dipisahkan dari sebuah percintaan atau hubungan seksual karena alasan cinta yang suci? Pada dasarnya, alasan itulah terserak di mana-mana, seperti Robiah al-Adawiyah yang memilih tidak menikah dengan seorang lelaki karena sebuah alasan cintanya kepada Allah takut terhalang dengan perbuatan yang lebih hina.

Baca Juga :  Presidensial Threshold dan Keharusan Membenahi Sistem Pemilu

Robiah merupakan satu-satunya dari entitas wanita di dunia yang tidak melakukan hubungan seksual dengan alasan cinta. Lalu, salahkah Robiah? Tidak. Karena sebuah alasan itulah Robiah tidak salah, dan orang yang menikah karena ingin melanjutkan sunnah Rasul juga tidak salah, dan orang yang menikah dengan alasan ingin membuat keturunan juga tidak salah, dan menjadi salah jika kalian menikah karena tidak ada alasan.

Sering kali terjadi (mungkin juga menimpa pada diri saya), dua pasang kekasih mengatakan kepada pasanganya yang satunya: kau seorang pengkhianat? Itu karena alasan ketidakcocokan atau ada masalah internal yang membuat dua pasangan kekasih berpisah.

Dalam dunia cinta, selalu ada pertimbangan atau alasan-alasan yang dibuat antara si lelaki dan si perempuan, untuk menjalin hubungan yang lebih serius, untuk menjalin hubungan sampai ke pelaminan, dan sampai rencana membuat rumah tangga yang bahagia.

Tentu ada banyak alasan; pertama, karena sebuah status sosial yang timpang misalnya, kedua, karena sebuah materi atau harta, ketiga, karena sebuah kecantikan atau ketampanan, keempat, karena beda agama atau keyakinan, keenam, kalian bisa mengembangkan sendiri alasan-alasan tadi hingga sampai pada persoalan yang remeh temeh, soal bosan pada pasangan hidup, sering berantem, dll.

Baca Juga :  Selamat Hari Bhayangkara, Teruslah Berkiprah untuk Bangsa

Itulah alasan yang paling mudah sekali untuk dipatahkan dengan logika cinta kita. Karena cinta tak ada logika, Lur.

Nah, sekarang kalian berada pada alasan yang ke berapa? Apakah kalian masih mengaku sebagai orang pencinta sejati tanpa alasan-alasan yang cenderung kamuflase, hingga ujung-ujungnya mentok pada alasan yang sangat kampret. Ya, persetan dengan segala bentuk godaan cinta sejati yang tanpa alasan dari seorang kekasih.

Saya sebagai penulis mencoba menengahi antara cinta sejati dan seribu alasan yang dibuatnya. Dalam percintaan, perihal cinta sejati selalu ada nilai etik yang belum disampaikan pada publik, berupa pengorbanan, dan kesetiaan untuk saling menjaga perasaan secara lahir dan batin. Entah itu cinta kepada pasangan hidup, entah itu cinta kepada keluarga, entah cinta itu kepada saudara, dan seterusnya. Sikap pengorbanan dan kesetiaan itulah yang menimbulkan perjuangan sampai pada titik darah penghabisan.

Banyak cara yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan apa yang dicintainya, baik itu keluarga, sahabat, harta, dan bahkan sampai kepada keyakinan. Semua menjadi satu kesatuan yang berhubungan antara alasan dan perbuatan, untuk menggapai apa yang bernama mahligai cinta sejati. Wallahua’lam..

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending