Manuskrip dan Potret Sumenep Abad Ke-19

Redaksi Nolesa

Senin, 4 Juli 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Judul : Sumenep Abad Ke-19

Penerjemah : Nuril Hidayah

Penerbit : Cantrik Pustaka, Yogyakarta

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Cetakan : 2020

Tebal : 162 halaman

ISBN : 978-602-070-88-50O

Peresensi : Abdul Warits*)


Dalam melacak sejarah di masa lampau, kita bisa menggunakan manuskrip untuk menganalisis dan mengungkap fakta-fakta sejarah yang masih belum diungkap ke permukaan. Hal ini sebagaimana dipaparkan dalam buku yang berjudul Sumenep Abad ke-19 ini. Ada tiga manuskrip yang berhasil mengungkap sejarah Sumenep pada abad ke-19. Manuskrip-manuskrip tersebut di antaranya tentang Catatan Relasi antara Desa dan Keraton, Kontrak Penembahan Noto Kusuma, Pajak Tanah dan Layanan Wajib.


Buku ini menyebutkan beberapa karakter desa di Sumenep yang dikuasai oleh pihak penjajah


Sejak awal abad ke-18, pulau Madura diperintah secara “tidak langsung” yaitu melalui kontrak dan berbagai perjanjian yang diadakan dengan para penguasa setempat. Maka setelah didirikan VOC, pemerintah Belanda selalu membuat perjanjian dengan pemimpin pribumi. Akibat hal inilah, maka para mantri, pangeran, regen, dan kolonel merupakan orang-orang yang paling diuntungkan sehingga menjadi salah satu patronase terhadap derita rakyat jelata dalam membayar pungutan dalam bentuk barang, pekerjaan dan uang.

Baca Juga :  Bercermin pada Semangkuk Mie Ayam

Para adipati dalam beberapa dokumen VOC dianggap sebagai regen memandang bahwa kontrak-kontrak tersebut sebagai ketentuan yang tidak dapat diganggu gugat tentang kekuasaan mereka dan dimaksudkan untuk tetap berlaku selama mereka berkuasa. Mereka tidak suka jika batas-batas yang telah digariskan dalam kontrak dibatasi lagi (hal. 29). Karenanya, kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan Belanda meski para adipati dan penguasa daerah tetap diberikan kebebasan tetapi kenyataanya secara tidak langsung telah menindas rakyat jelata pribumi.

Buku ini menyebutkan beberapa karakter desa di Sumenep yang dikuasai oleh pihak penjajah. Selain itu, disebutkan juga, kondisi dan pekerjaan khas masyarakat yang ada di beberapa desa yang dijajah tersebut. Dari masing-masing desa yang disebutkan di dalam buku, ada beragam perbedaan perlakuan para penjajah terhadap penduduk pribumi. Ada yang berdagang, bertani, membantu pangeran, dan berbagai bentuk penjajahan lainnya.

Baca Juga :  Sejarah, Psikologi, dan Eksistensial

Disebutkan juga beberapa analisis dan laporan potensi lahan pulau Madura yang layak untuk ditanami aneka macam pertanian berdasarkan analisis dari Belanda. Buku ini menyadarkan pembaca agar tidak menjadi babu di tanah sendiri sehingga pengelolaan terhadap berbagai hal: pertanian, adminitrasi negara dan lainnya harus benar benar ditata dengan baik dan tidak merugikan rakyat jelata di pedesaan.(*)


*) Abdul Warits, Lahir di Grujugan Gapura Sumenep Madura, 07 Maret 1997. Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep. Saat ini menjadi Mahasiswa Pascasarjana di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep Studi Pendidikan Kepesantrenan.
Karyanya terkumpul dalam : Pesan Damai Aisyah, Maria, Xi king (Antologi Penyair Asean IAIN Purwokerto 2018), Requiem Tiada Henti, Gelombang Puisi Maritim, Seratus Puisi Qur’ani, Majalah Sastra Horison Kaki Langit, Seharusnya Kita Tak Saling Rindu, Puisi Akrostik FAM Publishing, Radar Madura, KabarMadura, Harian Bhirawa, Analisa, Rumahliterasisumenep.org, Hidup dan Pilihan, Cahaya Santri, Multatuli Fest 2018, Sagara (Antologi Cerpen LPM Spirit UTM Bangkalan), Majalah Infitah, Inspirasi, Muara, Tafakkur, Buletin Jejak Jawa Barat, Buletin Sidogiri, Tifa Nusantara IV, Sundul Langit (Antologi Cerpen Pesma An-Najah Purwokerto) Yang berlari dalam kenangan (Persi: 2019) Kelulus (Persi : 2017). Pernah meraih juara I Lomba menulis Puisi Rakyat Sumbar 2017 dan Juara III Menulis Puisi Event Bumi FAM Publishing, Juara I Lomba menulis Esai Perdamaian CCSMora Nasional 2016, Juara III Lomba menulis Esai FORKOMMI UGM, menjadi Finalis dalam Lomba Esai Se-Madura di Universitas Trunojoyo Madura Bangkalan, Juara II Lomba Menulis Cerpen LPM Spirit UTM Bangkalan, Pemenang Harapan I Lomba Cipta Cerpen Remaja Balai Bahasa Jawa Timur 2019, Juara II Lomba Cipta Puisi Dinas Kepustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumenep 2019. No. Hp: 081909101553 (WA). Email : abd.warits07@gmail.com.

Berita Terkait

The Life That’s Waiting: untuk Jiwa yang Sedang Lelah
Bercermin pada Semangkuk Mie Ayam
You’re Not Funny Enough: Sejenis Novel Humor yang Ringan dan Mudah Dinikmati
Cinta dan Kasih Sayang ala Nabi, Pondasi Meminimalisir Keretakan Rumah Tangga
Di Balik Negeri Bertopeng Bahagia
Perjalanan Penyembuhan di Britania Raya
Berusaha Memandang Sudut Pandang Orang Tua melaui Buku Maafkan Kami Ya, Nak!
Menyibak Akar Kehidupan Tanah Madura

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 23:14 WIB

The Life That’s Waiting: untuk Jiwa yang Sedang Lelah

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:08 WIB

Bercermin pada Semangkuk Mie Ayam

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:35 WIB

You’re Not Funny Enough: Sejenis Novel Humor yang Ringan dan Mudah Dinikmati

Rabu, 25 Februari 2026 - 23:34 WIB

Cinta dan Kasih Sayang ala Nabi, Pondasi Meminimalisir Keretakan Rumah Tangga

Selasa, 13 Januari 2026 - 18:10 WIB

Di Balik Negeri Bertopeng Bahagia

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Resensi Buku

The Life That’s Waiting: untuk Jiwa yang Sedang Lelah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 23:14 WIB

Legislator PKB Minta BI Paparkan Strategi Stabilkan Rupiah (Foto: Istimewa)

Nasional

Legislator PKB Minta BI Paparkan Strategi Stabilkan Rupiah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 22:24 WIB