Tuhan, Manusia, dan Alam

Redaksi Nolesa

Minggu, 19 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Lailur Rahman*


Judul buku : Antara Tuhan, Alam dan Manusia
Penulis : Sayyed Hossein Nasr
Penerbit : IRCiSoD
Cetakan : Desember, 2021
Tebal : 248 halaman
ISBN : 978-623-6166-75-8

Pohon-pohon ditebang secara brutal, bumi dikeruk tanpa mengenal batas, dan hutan-hutan diganduli secara desktruktif. Maka, adalah benar jika Sayyed Hossein Nasr mengatakan bahwa: “…alam, bagi manusia modern, telah menjadi seperti seorang pelacur—yang dimanfaatkan tanpa arti kewajiban dan tanggung jawab terhadapnya.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ilusi-ilusi seperti kemajuan ekonomi telah mendorong manusia modern pada perilaku yang tidak adil pada alam. Akibatnya, bumi mengalami ketidakseimbangan. Banjir, tanah longsor, dan bencana-bencana alam lainnya menjadi tak terhindarkan.
Bahkan, yang lebih mengerikan lagi, perubahan iklim (climate change) yang disebabkan perilaku deskruktif manusia terhadap alam juga sedang mengancam dunia. Dalam dua dekade ke depan diperkirakan bumi akan memanas hingga 1,5 derajat celcius.

Baca Juga :  Cinta dan Kasih Sayang ala Nabi, Pondasi Meminimalisir Keretakan Rumah Tangga

Namun, meski alam sudah menampakkan ketidakseimbangannya akibat tindakan manusia yang mengeksploitasi alam secara brutal, hal ini belum juga membangunkan kesadaran ekologis kita. Buktinya, penambangan, pembakaran hutan untuk pembukaan lahan baru tanpa memperhatikan etika lingkungan masih terus berlanjut seakan tak ada ancaman dari alam itu sendiri.

Padahal, dengan kenyataan ini sudah sepatutnya untuk kita sadar bahwa tindakan kita terhadap alam selama ini telah menimbulkan kerusakan yang terperikan. Yang kemudian mengharuskan kita untuk membangkitkan kesadaran ekologis kita untuk senantiasa menjaga alam agar tetap lestari.

Secara konseptual, tidak munculnya kesadaran ekologis kita di tengah krisis lingkungan yang semakin parah, hal itu terjadi setidaknya karena selama ini pandangan kita terhadap alam masih sangat primitif; alam hanya dilihat sebagai objek atau benda mati.
Padahal, alam bukan hanya sebatas benda mati, melainkan sebuah elemen yang di dalamnya menampung banyak kehidupan yang hal itu seharusnya kita rawat. Sehingga ekosistem kehidupan yang ada tetap ada dan mampu menjaga keseimbangannya.

Baca Juga :  Ketika Jelata Angkat Suara

Karena itu, dengan hal ini maka menjadi penting bagi kita semua untuk mengubah cara pandangan kita terhadap alam. Alam harus kita pandang sebagai satu kesatuan dari kehidupan umat manusia, yang berarti jika alam rusak, maka kehidupan manusia juga akan rusak.

Selain itu, secara teologis alam juga perlu untuk diposisikan yang setara sebagai makhluk Tuhan. Sehingga dengan dihadirkannya pandangan semacam ini, diharapkan umat manusia mampu melihat alam secara lebih filosofis lagi agar tidak melakukan eksploitasi terhadap alam secara berlebihan.

Baca Juga :  Menelusuri Jejak Sang Pendosa yang Dirindukan

Hingga pada akhirnya, antara manusia dan alam bisa hidup dalam puncak keharmonisan yang saling menguntungkan. Alam adalah bagian vital dari kehidupan manusia. Keberlangsungan hidup manusia ditentukan oleh keadaan alam. Jika alam rusak, niscaya tidak akan ditemukan kedamaian hidup itu.

Menurut Sayyed Hossein Nasr, perdamaian antarmanusia tidak akan pernah terwujud sebelum manusia bisa berdamai dengan alam itu sendiri. Dan agar dapat menciptakan perdamaian dan harmoni dengan alam, orang harus berharmoni dengan Langit, dengan sumber dan Asal-usul segala makhluk (halaman 245).


*) Pembaca buku asal Sumenep, tinggal di Yogyakarta

Berita Terkait

Melampaui Bayang-Bayang Sherlock: Enola Holmes sebagai Alegori Kebangkitan Suara Perempuan
Tidak Apa-apa Jika Hari Ini Tidak Baik-Baik Saja
Kisah Tentang Luka, Harapan, dan Penerimaan Diri
Ketika Jelata Angkat Suara
Home Sweet Loan: Mimpi Sederhana yang Ternyata Sangat Mahal
Menjadi Tidak Terlihat di Tengah Banyak Orang
Menelusuri Jejak Sang Pendosa yang Dirindukan
Pahlawan Gagal, Refleksi dari Avengers: Endgame

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:51 WIB

Melampaui Bayang-Bayang Sherlock: Enola Holmes sebagai Alegori Kebangkitan Suara Perempuan

Selasa, 30 Juni 2026 - 06:57 WIB

Tidak Apa-apa Jika Hari Ini Tidak Baik-Baik Saja

Senin, 29 Juni 2026 - 16:32 WIB

Kisah Tentang Luka, Harapan, dan Penerimaan Diri

Kamis, 11 Juni 2026 - 01:38 WIB

Ketika Jelata Angkat Suara

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:50 WIB

Home Sweet Loan: Mimpi Sederhana yang Ternyata Sangat Mahal

Berita Terbaru

Menghidupkan Prajurit Keraton di Jemari Generasi Alpha (for NOLESA.COM)

Pendidikan

Menghidupkan Prajurit Keraton di Jemari Generasi Alpha

Jumat, 21 Agu 2026 - 08:43 WIB

(for NOLESA.COM)

Opini

Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin

Jumat, 21 Agu 2026 - 08:26 WIB