Bangsacara, Ragapadmi
malam turun pelan
seperti seseorang
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
yang tidak ingin mengganggu luka
di pulau itu
angin membawa nama-nama
yang sudah lama tidak dipanggil
Bangsacara
ia duduk di tepi waktu
menghitung sesuatu
yang tak pernah selesai
barangkali rindu
barangkali setia
barangkali keduanya
yang saling menahan suara
Ragapadmi
namamu seperti langkah
yang sengaja diperlambat
agar perpisahan tidak terdengar jelas
di antara kalian
tidak ada yang benar-benar pergi
hanya jarak
yang diam-diam membesar
orang-orang menyebutnya takdir
lalu pulang
tanpa sempat bertanya
siapa yang sebenarnya kalah
malam semakin dalam
dan kesetiaan
tidak lagi membutuhkan saksi
ia tinggal
di tempat yang paling sunyi
yang bahkan kenangan pun
enggan mengetuknya
Yogyakarta 2026
*legenda rakyat tragis dari Pulau Mandangin, Sampang, Madura. Kisah ini menceritakan pengabdian, kesetiaan, dan cinta terlarang antara permaisuri Raja Widarba yang dibuang karena penyakit kulit, dan seorang perwira kerajaan yang merawatnya.
Joko Tole
Malamtidak lagi berurusan dengan angin—ia hanya menggulung sesuatuyang pernah berniat jadi napaslalu urung
tanah seperti dadayang lupa cara mengeluh
orang-orang terlelapdi dalam kisah yang sudah dipahat rapitanpa bekas sidik jari
tapi ada yang dibiarkan retaktanpa nama
—atau mungkin terlalu bernama
Joko Tole
ia disebutseperti orang menyentuh baradengan ujung ingatan
bukan karena takutmelainkan karena tidak ingin tahuapa yang sebenarnya masih menyala
ia datang dari sesuatuyang tidak sempat disebut sunyikarena sunyi pun telah lebih dulu kelelahan
siang hari meminjamkan wajahyang bisa dinegosiasikan
tapi malammengembalikan seluruh sisayang tak sempat disepakati
langkahnya—bukan bunyimelainkan jeda yang berjalanmencari tubuhnya sendiri
orang-orang bilangia pandai menajamkan besi
tapi tidak ada yang menghitungberapa kali ia harus mencairsebelum menjadi sesuatuyang bisa digenggam tanpa tanya
tidak semua luka memilih merah
sebagian mengendapmenjadi arahtanpa peta
lalu disebut: keberanian
padahal itu hanyacara tubuh mengelabui runtuhagar tampak seperti berdiri
Joko Tole tidak kalahtidak juga menang
ia hanya terus terjadidi tempatyang diam-diam menghapusnyatanpa bekas tangan
dan ketika cerita dipindahkan
yang tersisa hanyalah bunyi namanyaseperti bendayang pernah hilang
tidak ada yang membawa pulang sepinyatidak juga gelap yang sempat tinggaldi sela-sela tulangnya
malam semakin dalam—atau mungkin kita sajayang makin jauh dari terang
dan di antara yang tak sempat diucapkania masih berlangsung
bukan sebagai siapa-siapa
melainkan sebagaiyang tidak selesai
Yogyakarta, 2026
*tokoh legendaris sekaligus Raja Sumenep ke-13 yang memerintah pada tahun 1415–1460 M. Ia dikenal dalam cerita rakyat Madura sebagai kesatria sakti yang mengabdi pada Kerajaan Majapahit.
Ghost, 1990
bagaimana mungkin kuceritakan kematian
tanpa suara pistol yang tersisa di trotoar
selain hujan dan cahaya neon
yang membusuk perlahan
di mata seorang perempuan
aku melihat tubuhku sendiri
terbaring seperti koper yang kehilangan alamat
sementara malam terus bergerak
melewati ambulans
dan wajah-wajah asing yang tak benar-benar peduli
sampai detik ini, kau masih menungguku pulang.
di apartemen sempit dengan tembikar yang retak
dan lagu tua yang diputar terlalu lirih
seakan cinta dapat menahan arwah
agar tidak jatuh terlalu jauh dari dunia
tetapi kota menyimpan lorong-lorong rahasia.
uang berpindah tangan seperti kutukan
dan seorang sahabat
ternyata memelihara pisau
di balik senyumnya sendiri
aku mencoba menyentuh pundakmu
namun tanganku hanya menjadi angin.
barangkali beginilah nasib orang mati:
menyaksikan orang yang dicintainya
hidup di antara bahaya
tanpa mampu mengetuk pintu takdir
kemudian datang perempuan itu.
dengan suara jenaka dan mata lelah
seorang cenayang
yang mula-mula mengira aku cuma gema
dari kepalanya yang kesepian
tapi dunia rupanya terlalu rapuh
untuk memisahkan kematian dari cinta.
dari stasiun bawah tanah kusaksikan bayangan-bayangan
bergerak seperti dendam yang lapar
lelaki-lelaki tanpa wajah
jatuh ke jurang paling gelap
sementara kereta malam lewat
membawa bau besi dan doa-doa terbakar
apa yang terjadi sebenarnya? pada rekening-rekening bank
kesetiaan masih menyembunyikan pengkhianatannya.
dan di sela jendela apartemen
aku mendengar Tuhan mulai diam
ketika manusia menjual satu sama lain
demi ketakutan dan uang
kau menangis di hadapan cahaya dapur
seperti seseorang yang sedang kehilangan musim.
sedang aku berdiri di dekatmu
tak lebih dari kabut
yang gagal menjelma pelukan
lalu waktu perlahan membuka pintunya.
aku melihat tubuhku makin jauh
dan langit seperti sungai putih
yang memanggil nama orang-orang mati
dengan suara paling sunyi di dunia
sebelum pergi
aku hanya ingin mengatakan satu hal kecil
yang terlambat diselamatkan kehidupan:
cinta rupanya tidak ikut dikuburkan.
Yogyakarta 2026
Lily Bloom
seperti bunga yang diletakkan
di atas meja rumah sakit
aku mendengar cinta
perlahan berubah bau obat.
lily memandang malam
dari jendela apartemen.
lampu-lampu kota berjatuhan
di kaca matanya
seperti sisa pesta
yang gagal melupakan luka.
siapa yang kautunggu
di tubuh lelaki itu
bukankah sejak awal
ada suara pecah
yang disembunyikan pelukan
lelaki itu datang
dengan tangan selembut hujan juni.
ia menata sepi
di kepala lily
seperti seseorang
merapikan buku-buku tua
di perpustakaan kenangan.
tetapi cinta
kadang hanya pisau
yang dibungkus bunga.
katakanlah lily,
kasih hanyalah daun trembesi
yang jatuh perlahan di trotoar
lalu dilindas musim
tanpa sempat kembali hijau
malam terus bergerak.
dari tubuh ke tubuh
lahir ketakutan kecil
yang dibesarkan diam-diam.
dan perempuan itu
mulai mengenali suara:
meja bergeser.
napas terburu-buru.
air mata yang disimpan
di kamar mandi.
masa lalu rupanya
tak pernah benar-benar mati.
ia tinggal
di lipatan ingatan
seperti paku karat
di kayu pintu.
kemarilah,
bersandarlah di pundakku.
kadang cinta mengalir
dari ujung luka
kemudian menetap
sebagai lebam
yang sulit dijelaskan kepada dunia.
lily tetap bertahan.
seperti jendela tua
yang tak ditutup
meski badai berkali-kali
membenturkan dirinya sendiri.
di luar sana
kota tumbuh dengan lampu-lampu dingin.
orang-orang berjalan
membawa kesepian masing-masing
di dalam saku.
sementara seorang perempuan
diam-diam belajar
bahwa mencintai
tidak harus tinggal.
lalu pagi turun
pelan seperti abu.
dan lily memilih pergi
dari tubuh yang dicintainya sendiri.
tidak ada suara besar.
tidak ada tepuk tangan.
hanya hati
yang akhirnya berani berkata:
cukup.
karena cinta
tak seharusnya membuat seseorang
merasa asing
di dalam rumahnya sendiri.
Yogyakarta 2026
The Midnight Library
jam dibiarkan terbuka
pada pukul yang nyaris beku.
di luar sana
malam seperti payung bocor
yang gagal melindungi kota
dari ingatan.
nora berdiri di antara rak-rak
dan bau kertas tua.
barangkali hidup memang begini:
selembar halaman
yang terus dilipat waktu
hingga menyerupai burung mati.
siapa yang kautunggu
di perpustakaan tanpa jendela ini
bukankah kesedihan telah selesai dipindahkan
ke tubuhmu sendiri
ia membuka satu buku
dan kehidupan lain tumbuh
seperti lumut di dinding sumur.
ada tepuk tangan,
cahaya panggung,
dan wajah-wajah asing
yang memanggil namanya
seperti doa yang salah alamat.
tetapi sepi
masih duduk di sana—
di kursi paling akhir
sambil mematahkan kuku malam.
katakanlah nora,
kebahagiaan hanyalah daun akasia
yang terlepas tangkai
dan mabuk di tiup angin
bukankah manusia
selalu ingin menjadi orang lain
ketika hidup terasa
terlalu sempit untuk ditinggali
kemarilah,
bersandarlah pada detik-detik yang rapuh itu.
kadang penyesalan mengalir
dari celah tubuh
seperti air hujan
yang gagal ditampung talang.
dan waktu
terus bergerak pelan
bagai sipir tua
yang menghitung sisa cahaya
di mata tahanan.
lalu api menjalar
ke halaman-halaman kemungkinan.
kata-kata terbakar
seperti kawanan ngengat
yang salah mengira luka
sebagai cahaya.
nora tak menangis.
ia hanya memandangi abunya
lama sekali—
seperti seseorang
yang akhirnya mengerti
bahwa hidup tak pernah meminta kita
menjadi sempurna.
cukup tinggal.
cukup bertahan.
cukup menerima
bahwa hati manusia
kadang hanyalah kamar kecil
yang dipenuhi suara hujan
juga kesedihan
Yogyakarta 2026
*) lahir di Sumenep, Madura, 20 November 2003. Mahasiswa Agribisnis di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta. Menulis puisi dan essai di pelbagai media cetak dan daring.









