Oleh | Abd. Kadir
ESAI, NOLESA.COM – Malam Sabtu (5 Juni 2026) yang lalu, saya hadir mengikuti prosesi Bajjra 3, di Taman Andhap Asor Keraton Sumenep. Acara ini merupakan acara tahunan pelepasan siswa kelas akhir SMP Binar Junior High School (JHS) Sumenep. Acaranya sangat meriah dan terasa mengharu biru. Apalagi ketika para siswa dilepas dengan penyerahan keris sebagai sebuah simbol untuk menjalankan proses kehidupan selanjutnya karena mereka masih akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dalam sambutannya, Kepala SMP Binar JHS menyampaikan bahwa tema yang diusung pada agenda Bajjra 3 itu adalah “anglaras ilining bayu, angeli ananging ora keli” (menyelaraskan diri dengan arus perubahan zaman tanpa harus kehilangan prinsip atau jati diri). Ini adalah filosofi hidup yang dibawa Sunan Kalijaga yang berasal dari Serat Lokajaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, yang menarik juga dalam kegiatan ini, sambutan Kepala Dinas Pendidikan yang diwakili Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Sumenep. Ada satu fenomena “meresahkan” yang disampaikan beliau dan menjadi sebuah alarm bahaya untuk masa depan pendidikan kita. Menurutnya, saat ini berkembang fenomena abai dari orang tua terhadap pedidikan anaknya.
Menurutnya, pernah ada kasus perkelahian siswa di satu sekolah dan harus mendatangkan orang tua siswa. Ternyata, si bapak, ketika ditanyakan “anak Bapak kelas berapa?”, malah menjawab kurang paham anaknya kelas berapa, karena tidak mengikuti perkembangan pendidikan anaknya dan disuruh bertanya kepada istrinya. Ketika ditanya pada istrinya, “Anak Ibu kelas berapa?” Jawabannya juga gamang: “mungkin kelas 3”—sebuah jawaban yang kurang meyakinkan.
Artinya, bahwa realitas yang tersaji dari kisah kedua orang tua ini, memberikan satu pemahaman kepedulian yang begitu absurd tentang fenomena jarak orang tua dan anak yang semakin menjauh. Ini adalah sebuah paradoks kepedulian: ketika orang tua hanya menitipkan anak tetapi melupakan jiwanya.
Diakui memang, bahwa di era muta’akhkhirin ini, wajah pendidikan kita kerap menampilkan sebuah ironi yang menyedihkan. Banyak orang tua terjebak dalam delusi bahwa kewajiban mendidik anak sepenuhnya telah selesai ketika mereka berhasil melunasi biaya sekolah yang mahal, membelikan gawai tercanggih, dan mengirim anak ke berbagai lembaga bimbingan belajar terbaik. Ada kecenderungan berbahaya ketika orang tua tidak lagi bertindak sebagai pendidik utama, melainkan sebagai “penyandang dana” yang menitipkan buah hati mereka ke sebuah “pabrik akademis” bernama sekolah.
Fenomena pengabaian ini terjadi bukan karena hilangnya rasa sayang, melainkan karena pergeseran prioritas. Alasan kesibukan kerja, tuntutan karier, dan pemenuhan gaya hidup materiel sering kali memangkas ruang perjumpaan yang bermakna antara orang tua dan anak. Ketika anak pulang ke rumah, mereka tidak disambut oleh pelukan hangat atau pertanyaan tulus tentang bagaimana hari mereka di sekolah, melainkan oleh keheningan atau orang tua yang juga sibuk menatap layar ponsel masing-masing. Rumah, yang seharusnya menjadi madrasah pertama tempat persemaian karakter dan cinta, telah menyusut fungsinya menjadi sekadar tempat singgah untuk tidur.
Imbas pengabaian ini terlihat jelas di sekolah. Anak-anak yang kekurangan “gizi emosional” di rumah kerap mencari pelampiasan di ruang kelas. Akibatnya, sebagian siswa berubah menjadi pribadi yang apatis, pasif, dan kehilangan gairah belajar. Di sisi lain, sebagian anak mengekspresikan kekosongan jiwa tersebut melalui tindakan-tindakan disruptif yang mengganggu ketertiban. Mereka sengaja mencari perhatian dari lingkungan sekitar melalui perilaku negatif, mulai dari aksi perundungan terhadap sesama teman hingga berbagai bentuk pelanggaran disiplin sekolah. Sekolah pun akhirnya berubah menjadi arena pelampiasan dari rapuhnya fondasi kasih sayang keluarga.
Dalam konteks pendidikan saat ini, fenomena ini adalah sebuah alarm keras. Sekolah secanggih apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan peran kehadiran batin orang tua. Pendidikan yang sejati membutuhkan sinkronisasi antara cinta yang ada di dalam ruang kelas dengan kehangatan cinta yang ada di meja makan rumah. Tanpa keterlibatan aktif dan kehadiran utuh dari orang tua, anak-anak kita mungkin akan tumbuh menjadi pribadi yang pintar secara digital, namun rapuh dan merasa kesepian di dalam jiwa.
*) Pengurus Yayasan Binar Sokkla Atena Sumenep









