Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E

Redaksi Nolesa

Kamis, 4 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Mauliya Riyani

ESAI, NOLESA.COM – Ada momen tertentu ketika sebuah serial tidak hanya menghibur, tetapi juga menghantam sesuatu yang dalam di dalam dada. Anne with an E adalah salah satunya. Saya menontonnya pertama kali tanpa ekspektasi besar, dan justru karena itulah ia berhasil meninggalkan bekas yang tidak mudah hilang.

Serial ini merupakan adaptasi dari novel klasik Anne of Green Gables karya Lucy Maud Montgomery, digarap oleh Moira Walley-Beckett dan tayang perdana di Netflix pada 2017. Hingga kini, serial ini memiliki tiga musim dengan total 27 episode, serta dibintangi oleh Amybeth McNulty sebagai Anne Shirley.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Serial ini berlatar di kota fiksi Avonlea, Kepulauan Pangeran Edward, Kanada, yang menyuguhkan lanskap menenangkan dengan nuansa pedesaannya terasa begitu asri. Ada banyak hal yang saya kagumi dari serial ini. Bukan hanya karena visualnya yang memanjakan mata, tetapi juga ceritanya yang terselip potret kelam.

Ketika Mencintai Diri Sendiri Terasa Seperti Perjuangan

Anne Shirley datang ke Green Gables membawa semua hal yang kerap dianggap “terlalu”, terlalu banyak bicara, terlalu dramatis, dan terlalu imajinatif. Belum lagi rambutnya yang merah menyala, tubuh kurus, dan wajahnya yang penuh bintik, yang tidak pernah luput dari komentar orang-orang di sekitarnya.

Yang membuat kisah ini begitu menyentuh bukan sekadar fakta bahwa Anne pernah disakiti, melainkan bagaimana ia perlahan-lahan mulai mempercayai kata-kata menyakitkan itu. Itu bukan luka dari satu kejadian besar, melainkan akumulasi bisikan kecil yang lama-kelamaan membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Baca Juga :  Representasi Ungkapan “Hidup Butuh Uang” dalam Cerpen Pada Suatu Hari Minggu Karya Seno Gumira Ajidarma

Di tengah rasa tidak percaya dirinya itu, imajinasi menjadi satu-satunya tempat Anne agar bisa bernapas. Ia menciptakan dunia-dunia kecil dalam pikirannya dan menamai dirinya “Princess Cordelia” sebagai cara untuk bertahan dari seseorang yang belum tahu bahwa dirinya layak untuk dicintai apa adanya. Proses self-love Anne tidak datang dalam satu pencerahan besar. Ia datang perlahan, dari percakapan kecil dengan Marilla yang diam-diam mulai peduli, dari persahabatan yang tulus, dari momen ketika Anne akhirnya berani mencintai dirinya sendiri dengan apa adanya. Serial ini tidak menjual ilusi bahwa mencintai diri sendiri itu mudah. Ia menunjukkan betapa lelahnya jalan menuju ke sana dan betapa berharganya setiap langkahnya.

Dua Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan

Di sinilah Anne with an E melampaui serial-serial bertema serupa. Ia tidak memisahkan self-love dari feminisme seolah keduanya adalah dua cerita berbeda. Dalam serial ini, keduanya adalah satu tubuh yang saling menopang.

Anne tidak akan bisa bersuara lantang tentang hak perempuan kalau ia sendiri masih sibuk meragukan nilainya. Sebaliknya, perjuangannya melawan ketidakadilan di luar dirinya juga menjadi cermin yang memaksanya berdamai dengan siapa dirinya sebenarnya. Self-love bukanlah fondasi yang harus selesai dibangun sebelum seseorang boleh melawan dunia. Ia justru tumbuh di tengah perlawanan itu sendiri secara perlahan, tidak sempurna, namun nyata.

Baca Juga :  Cerminan Cinta yang Paling Tidak Sederhana

Serial ini juga tidak segan menyentuh hal-hal yang lebih berat seperti mimpi perempuan yang dirampas atas nama tradisi, korban ketidakadilan yang justru dipaksa diam, dan persahabatan yang mengajarkan bahwa bersuara adalah hak, bukan keistimewaan. Semua itu hadir bukan sebagai ceramah moral, melainkan sebagai bagian dari hidup tokoh-tokohnya yang terasa sungguh-sungguh manusiawi.

Miss Stacy melengkapi gambaran itu dengan caranya yang lebih halus. Sebagai guru perempuan yang berpikir dan bertindak di luar pakem Avonlea, ia sering dipandang aneh. Namun justru karena ia tidak menyesuaikan diri dengan standar yang ada, ia menjadi sosok paling berdampak yang mengajarkan murid-muridnya bahwa perempuan tidak perlu meminta izin untuk bermimpi besar.

Inilah yang jarang diperlihatkan dengan jujur, bahwa seorang perempuan tidak perlu menunggu dirinya sembuh sepenuhnya untuk mulai bergerak. Anne membuktikan itu. Ia bersuara meski masih ragu. Ia menulis meski masih takut. Ia berdiri meski lututnya gemetar.

Satu Catatan yang Perlu Disampaikan

Anne with an E memang bukan tanpa kekurangan. Serial ini menggali sisi gelap kehidupan Anne lebih dalam dari novel aslinya dan pilihan itu tidak selalu berhasil seimbang. Ada momen di mana beratnya terasa terlalu menumpuk hingga kehangatan yang menjadi ciri khas kisah Anne di novel sedikit tergerus. Yang lebih disayangkan adalah pembatalannya di musim ketiga.

Baca Juga :  Ikan Buntal, Mem-Bendung Racun

Beberapa alur cerita diselesaikan dengan tergesa-gesa, seolah para pembuat serial tahu waktu mereka terbatas namun tidak punya cukup ruang untuk menutupnya dengan layak. Akibatnya, penonton tidak mendapatkan kesempatan untuk melihat proses pendewasaan Anne secara lebih utuh.

Untuk Kamu yang Pernah Merasa Tidak Cukup

Pada akhirnya, Anne with an E adalah serial tentang dua hal yang tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, mulai dari belajar mencintai diri sendiri, dan belajar menolak dunia yang mengajarimu untuk tidak melakukannya. Satu tanpa yang lain tidak akan utuh, dan serial ini tahu itu.

Anne juga bukan tokoh yang sempurna. Ia hanya gadis yang pernah terluka, yang perlahan belajar bahwa lukanya tidak mendefinisikan siapa dirinya. Dan mungkin itulah alasan terkuat mengapa serial ini masih terasa relevan hari ini, karena di suatu titik kita semua pernah menjadi Anne.

Berdiri di depan cermin, bertanya-tanya apakah diri ini cukup? Melalui Anne, penonton diajak memahami bahwa menjadi perempuan berdaya bukan hanya soal melawan ketidakadilan, tetapi juga tentang keberanian mencintai diri sendiri apa adanya.

*) Mahasiswi aktif Pendidikan Geografi Universitas Sebelas Maret (UNS)

Berita Terkait

Jantung Batik Solo
Ancaman Sunyi Bagi Masa Depan Pangan
Ruang Publik dan Ancaman yang Terus Membayangi Perempuan
Taruhan Masa Depan: Remaja Terikat Judi Online
“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta
Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol
Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme
PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:26 WIB

Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:44 WIB

Jantung Batik Solo

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:31 WIB

Ancaman Sunyi Bagi Masa Depan Pangan

Rabu, 20 Mei 2026 - 06:37 WIB

Ruang Publik dan Ancaman yang Terus Membayangi Perempuan

Minggu, 17 Mei 2026 - 14:45 WIB

Taruhan Masa Depan: Remaja Terikat Judi Online

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya

Kamis, 4 Jun 2026 - 19:58 WIB

(for NOLESA.COM)

Esai

Refleksi Self-love dan Feminisme dari Anne with an E

Kamis, 4 Jun 2026 - 18:26 WIB

(for NOLESA.COM)

Esai

Jantung Batik Solo

Kamis, 4 Jun 2026 - 17:44 WIB