Novita Hardini Dorong InJourney Bangun Visi Pariwisata Global

Redaksi Nolesa

Sabtu, 17 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi VII DPR RI F-PDI Perjuangan, Novita Hardini (Foto: Ist)

Anggota Komisi VII DPR RI F-PDI Perjuangan, Novita Hardini (Foto: Ist)

JAKARTA, NOLESA.COM – Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menekankan pentingnya arah kebijakan yang lebih terukur dan berjangka panjang dalam pengelolaan pariwisata nasional.

Hal tersebut disampaikannya saat Komisi VII DPR RI melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), pada Kamis kemarin, 15 Januari 2026.

Menurut politikus berparas cantik itu, Indonesia membutuhkan terobosan strategis agar mampu naik kelas dan berperan sebagai pusat pariwisata dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam forum tersebut, legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur VII itu menyoroti perlunya visi besar yang konsisten dan terintegrasi.

Legislator PDI Perjuangan ini membandingkan langkah Indonesia dengan negara-negara yang telah lebih dahulu berhasil membangun ekosistem pariwisata global seperti Singapura dan Abu Dhabi.

Kedua negara tersebut, menurut Novita, mampu menyatukan sektor transportasi, logistik, layanan, dan promosi dalam satu peta jalan jangka panjang yang berkesinambungan.

Baca Juga :  Pesan Tegas Presiden Jokowi ketika Membuka Rakernas Penurunan Stunting

Novita mempertanyakan arah strategis InJourney dalam memanfaatkan posisi geografis Indonesia yang sangat menguntungkan. Indonesia berada di jalur perdagangan dunia serta menjadi penghubung kawasan Asia-Pasifik dan Asia-Australia.

Dengan keunggulan tersebut, ia menilai Indonesia seharusnya memiliki potensi yang jauh lebih besar dibandingkan negara-negara pesaing jika dikelola secara serius dan terintegrasi.

Ia menilai hingga saat ini pengembangan pariwisata nasional masih terhambat oleh lemahnya konektivitas. Ekosistem pariwisata belum diperlakukan sebagai satu kesatuan, melainkan berjalan parsial.

Salah satu contoh nyata, ungkap Novita yakni layanan transportasi bandara yang belum sepenuhnya ramah wisatawan asing. Minimnya informasi multibahasa, petunjuk rute, serta integrasi dengan moda transportasi publik dinilai mengurangi kenyamanan pengunjung sejak awal kedatangan.

Menurut Novita, pengalaman pertama wisatawan dimulai dari bandara. Jika akses dan informasi di pintu masuk negara sudah menyulitkan, maka daya tarik Indonesia sebagai destinasi global akan menurun.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Jadikan Papua Prioritas Pembangunan

Ia juga menilai InJourney belum optimal memanfaatkan potensi kawasan sekitar bandara untuk menciptakan Jakarta sebagai destinasi transit yang menarik.

Ia mencontohkan negara lain yang mampu menghubungkan bandara dengan pusat belanja, hiburan, dan atraksi wisata dalam waktu singkat. Di Jakarta, jarak tempuh menuju factory outlet atau objek wisata masih memakan waktu lama.

Padahal, lanjut Novita, jika waktu transit 5–6 jam saja bisa dimanfaatkan untuk berbelanja dan menikmati atraksi lokal, dampak ekonomi yang dihasilkan akan jauh lebih besar.

Persoalan serupa, lanjutnya, juga terjadi di daerah lain seperti Yogyakarta. Integrasi antara bandara, transportasi menuju Borobudur, serta paket wisata berbasis UMKM masih belum maksimal. Ia mempertanyakan sejauh mana tata kelola InJourney mampu menyajikan data konkret terkait dampak positif bagi pariwisata dan ekonomi daerah.

Novita menegaskan bahwa bandara seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat datang dan pergi. InJourney perlu memperkuat kolaborasi dengan maskapai global, berinvestasi pada layanan, teknologi, serta membangun konsep smart airport dan smart logistics. Menurutnya, digitalisasi dan integrasi data merupakan prasyarat mutlak bagi negara yang ingin menjadi hub pariwisata dunia.

Baca Juga :  Luncurkan e-Katalog Prangko 2025, Begini Kata Menteri Meutya

Sebagai mitra kerja, DPR RI akan terus mendorong InJourney meninggalkan pendekatan sektoral dan mulai membangun visi besar yang lintas moda, lintas destinasi, dan berorientasi global. Ia menutup dengan menegaskan bahwa tanpa visi jangka panjang, deregulasi penerbangan, serta konektivitas yang kuat, keunggulan budaya, alam, dan posisi strategis Indonesia akan terus terbuang sia-sia.

“Indonesia punya modal budaya, alam, dan posisi strategis yang luar biasa. Namun, tanpa visi jangka panjang terkait deregulasi sektor penerbangan dan logistik dan konektivitas antar moda dengan destinasi wisata yang menarik,” tandasnya. (*)

Penulis : Arif

Berita Terkait

Komdigi Libatkan Finalis Puteri Indonesia 2026 dalam Kampanye Perlindungan Anak di Ruang Digital
Istana Gebang Siap Jadi Ruang Edukasi Sejarah Bagi Gen Z
Politikus PKB Minta BSN Dorong UMKM Naik Kelas
Di Bursa Wirausaha Unggulan, Menko Cak Imin Ingin UMKM Jadi Penikmat Pertumbuhan Ekonomi
Novita Hardini Soroti Dampak Kenaikan BBM dan Pemblokiran Barcode Subsidi
Soroti Tata Kelola MBG, Politikus Madura Minta Kasus di BGN Jadi Pelajaran
Puteri Indonesia 2026 Siap Jadi Garda Depan Sosialisasi PP Tunas
Novita Hardini Desak Evaluasi Total Pariwisata Nasional, Singgung Vietnam hingga Contoh Sukses Dubai

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 16:23 WIB

Komdigi Libatkan Finalis Puteri Indonesia 2026 dalam Kampanye Perlindungan Anak di Ruang Digital

Senin, 15 Juni 2026 - 23:26 WIB

Istana Gebang Siap Jadi Ruang Edukasi Sejarah Bagi Gen Z

Senin, 15 Juni 2026 - 20:40 WIB

Politikus PKB Minta BSN Dorong UMKM Naik Kelas

Kamis, 11 Juni 2026 - 00:34 WIB

Di Bursa Wirausaha Unggulan, Menko Cak Imin Ingin UMKM Jadi Penikmat Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 9 Juni 2026 - 08:07 WIB

Novita Hardini Soroti Dampak Kenaikan BBM dan Pemblokiran Barcode Subsidi

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Mimbar

Nabi Sulaiman dan Semut

Jumat, 19 Jun 2026 - 12:36 WIB