Oleh | Siti Khodijah
OPINI, NOLESA.COM – Generasi yang tumbuh di era digital saat ini lazim menggunakan kecerdasan buatan untuk mencari informasi (Kurniasari et al., 2025). Sejalan dengan itu (Lukman et al., 2023) menyatakan bahwa generasi digital sering mengandalkan kecerdasan buatan dibandingkan membaca buku sebagai sumber utama informasi.
Sebagian besar tugas kuliah dapat dibantu oleh AI. Bukan hanya sekadar mencari referensi, tetapi juga menghasilkan sebuah tulisan secara lengkap (Rizkiani et al., 2024). Dalam perspektif demikian, AI dikhawatirkan dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebuah penelitian menganalisis beberapa faktor yang menghambat jalan berpikir kritis mahasiswa, antara lain sebanyak 56, 4% mahasiswa memiliki minat literasi yang rendah. Dampaknya, mereka didominasi oleh ketidaktahuan akan informasi yang kredibel. Selain itu, sebanyak 38,5 % mahasiswa tidak memahami prosedur verifikasi data dan informasi serta 30,8% terkendala keterbatasan waktu sehingga menghambat proses berpikir kritis mereka Dapat disimpulkan bahwa rendahnya literasi masih menjadi persoalan.
Padahal, apabila hendak menjadikan teknologi sebagai sarana bantuan dan menambah referensi, tentu harus memahami dan mengubah gaya bahasa khas AI menjadi bahasa sendiri (Murwanto, 2025). Studi kasus dapat berupa fakta di lapangan yang menunjukkan kurangnya regulasi dari lingkungan akademik.
Kekurangan regulasi pengontrolan AI justru akan membawa ketidakjelasan di setiap penugasan mahasiswa sebab rawan terjadi plagiarisme. Sebuah studi menyatakan bahwa sebanyak 43,2 % kalangan mahasiswa setuju bila penggunaan ChatGPT dapat meningkatkan plagiarisme (Tsany et al., 2024).
Hal ini berbanding lurus dengan rendahnya literasi informasi sehingga mereka memilih mengutamakan AI dibanding memunculkan ide-ide baru dari diri sendiri.
Kekhawatiran AI bukan sekadar wacana. Hal ini didasari dengan hasil survei (Solehudin et al., 2025) yang menunjukkan sebanyak 57,8% mahasiswa menggunakan AI untuk bertanya dan mencari jawaban. Tentu, hasil ini menunjukkan tingginya ketergantungan pada sesuatu yang berbau otomatis.
AI telah mendominasi dalam proses pencarian mahasisiwa. Sementara Sebagian mahasiswa memperbanyak bacaan ilmiah untuk memperluas wawasan, Sebagian lain memilih menggunakan AI sebagai jalan pintas. Seseorang yang mengandalkan pada teknologi, maka dia juga menjadi korban dari perkembangan teknologi itu sendiri. Bahkan, dalam penelitian lain menyebutkan sebanyak 75,9% mahasiswa setuju tugas kuliah lebih sulit diselesaikan tanpa bantuan AI (Firdaus, et al., 2025).
Penggunaan kecerdasan buatan dalam frekuensi yang sering juga dapat membuat mahasiswa menganggap setiap penugasan perkuliahan itu mudah. Bahkan (Kurniasih et al., 2025) mengatakan bahwa mahasiswa mulai beralih pada kecerdasan buatan AI sebagai solusi utama mereka dalam menghadapi tantangan akademis di perkuliahan. Saat hal ini terjadi, keterlibatan mahasiswa dalam proses analisis dan evaluasi kritis menurun (Harahap & Siswadi, 2024).
Fenomena tersebut menggambarkan munculnya kemalasan intelektual. Yaitu kondisi istilah yang ditujukan kepada pelajar yang menumpahkan segala bebannya pada AI. (Nurhamimah, 2025) mengatakan bahwa salah kaprahnya mahasiswa ialah memandang AI sebagai segalanya.
AI disarankan untuk menguatkan fondasi dan memfasilitasi penugasan, bukan menggantikan proses berpikir. Sebab, pada akhirnya kualitas substansi tugas tersebut bergantung pada orsinalitas dan akurasi kedalaman berpikir kritis dan analisis seseorang. Pada hakikatnya,kemampuan kognitif manusia tetap lebih ungul disbanding kecerdasan buatan.
Pernyataan tersebut didukung dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa ketergantungan pada teknologi dapat mengurangi kemampuan berpikir mandiri dan reflektif serta meningkatkan mentalitas instan dan rasa malas (Molina Alventosa, 2012; Caldeira, 2010; Kasneci, E., et.al., 2023; Luthfiyyah et al., 2024), menurunkan kreativitas dan mengurangi interaksi sosial (J S Nasution et al., 2025).
Sederhananya, ada efek samping yang bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, misalnya dalam bentuk ketergantungan pada teknologi dengan hanya menyalin begitu saja tanpa proses verifikasi dan analisis (Rifqi Abdurrahman et al., 2024).
Namun, tak semua penelitian memandnag AI sebagai anca,an. eberapa penelitian berpedapat bahwa justru penggunaan AI dapat mendukung proses pembelajaran. Sebuah studi menyampaikan hasil survei sebanyak 51.1% dengan persentase paling tinggi terkait kepuasan jawaban yang diberikan AI.
Mayoritas mahasiswa merasakan dampak dan manfaat besar untuk membantu meningkatkan pemahaman materi lebih mendalam dan interaktif. Adanya statistik tersebut mengindikasikan bahwa terdapat dukungan penuh pada perkembangan teknologi (Sugiarto et al., 2024).
Selain karena kepuasan mahasiswa, hal ini juga selaras dengan teori-teori pendidikan modern yang selalu menyarankan kolaborasi aktif antara metode pembelajaran konvensional dengan media digital (Hidayati, Wahyuningsih, 2021).
Dalam menggabungkan antara teknologi dan pendidikan konvensional, sebuah penelitian mengatakan bahwa pengintegrasian antara teknologi dan pembelajaran dapat menjadi solusi, salah satunya dalam meningkatkan kemampuan menulis. Baik dari segi pencarian ide dan penyusunan garis besar. AI dapat mendukung kompetensi pembelajaran di pendidikan menengah (Magvira, 2025).
Melalui fakta tersebut, AI dapat digunakan dengan porsi yang sudah ditentukan agar tidak keluar dari kemandirian sebagai seorang pelajar. Sebab, ini menegaskan bahwa perlunya Batasan etis dan pengetahuan dalam penggunaan AI.
Situasi ini menjadi tantangan bagi lingkungan akademik agar dapat mengembalikan motivasi belajar siswa atau mahasiswa. Teori konstriktivitas dapat menjadi alternatif tolak ukur dalam keberhasilan pembelajaran. Salah satu paradigma konstruktivisme ialah berpikir kritis dan kreatif, yakni pemikiran individu dalam menganalisis dan menghasilkan gagasan baru dengan interpretasi yang rasional (Jenudin, 2010).
Ketika mahasiswa mengandalkan segalanya kepada teknologi, tentu paradigma ini belum tercapai. Pemikiran kritis dan kreatif perlu ditumbuhkan secara mandiri dengan mengintegrasikan pembelajaran teknologi dan konvensional.
Hal ini sebagai bentuk pencegahan terhadap penggunaan teknologi yang berlebihan sehingga segala bentuk penugasan seperti observasi, analisis data dan lainnya bergantung pada teknologi (Rizkiani, et al., 2024).
*) Penulis merupakan seorang mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia semester 5 UIN Raden Mas Said Surakarta yang aktif di bidang kepenulisan









