Oleh | Sujono*
MIMBAR, NOLESA.COM – TERKENAL. Waspadalah dengan popularitas; Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh namun tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya. (Al-Hikam).
Alkisah…
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dahulu, ada seorang yang shalih menangis pilu saat sedang sakit. Teman-temannya yang menjenguk bertanya; “Wahai saudaraku! Mengapa engkau menangis? Padahal engkau adalah orang yang terkenal ahli ibadah, ahli sedekah, berhaji, berdzikir dan mengajarkan ilmu?”
Ia menjawab; “Siapa yang dapat menjamin bahwa itu semua dapat memperberat timbangan ‘amal baikku? Dan siapa yang menjamin bahwa ‘amalku diterima di sisi Tuhanku?”
Bukankah Allah Swt. telah berfirman; “Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya menerima pengorbanan dari orang-orang yang bertakwa.” (QS: Al-Maidah: 27)
Dan bukankah Rasulullah Saw, juga sudah mengingatkan kita bahwa; “Sesungguhnya sedikit RIYA’ saja itu sudah termasuk syirik…”
Kawan…
Fudhail bin Iyadh, ulama’ besar kharismatik yang menjadi rujukan di zamannya berkata; “Bila kamu mampu menjadi orang yang tidak dikenal, maka lakukanlah. Sebab, apa kerugianmu bila tidak dikenal? Apakah kerugianmu bila tidak dipuji? Dan apakah kerugianmu bila kamu menjadi orang yang tercela di hadapan manusia, tetapi dipuji oleh penduduk langit? Sepi penghargaan dunia, tetapi bergemuruh pujian oleh penghuni langit?”.
Sobat…
Jangan salah paham! Pernyataan Fudhail bin Iyadh ini bukan berarti ajakan untuk beramai-ramai mengisolasi diri. Ya, Bukan! Sebab, yang menyampaikan kalimat di atas adalah tokoh besar yang bergaul secara aktif di tengah-tengah masyarakat luas.
Pernyataan ini sebagai bentuk kewaspadaan terhadap syahwat jiwa yang tersembunyi. Inilah bentuk kehati-hatian untuk menghindari dari pintu-pintu yang dilalui setan, melalui jalan ketenaran (popularitas). Sungguh, ketenaran itu merupakan fitnah bagi orang yang imannya lemah. Apalagi tidak beriman! Waspadalah…!
Kisah Lain
Suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, berjalan menuju masjid Rasulullah Saw. Tiba-tiba ia menjumpai Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, yang sedang duduk dan menangis di dekat kuburan Nabi Muhammad Saw.
Umar bertanya; “Wahai Mu’adz, apakah yang menyebabkanmu menangis?
Mu’adz menjawab; “Wahai Amirul Mukminin, aku menangis karena (ingat) sesuatu yang kudengar dari Rasulullah Saw, bahwa; ‘SESUNGGUHNYA RIYA’ (Beramal Karena Mencari Pujian Manusia) YANG SANGAT KECIL SEKALIPUN, TERMASUK SYIRIK.”
Teringatlah saya dengan senandung seorang penyair; Dengan-Mu ada kelezatan, meski hidup terasa getir
Kuharapkan ridha-Mu, sekalipun seluruh manusia marah
Bila cinta-Mu kudapatkan, semua akan terasa ringan
Sebab, semua yang di atas tanah adalah tanah belaka.
Saudaraku…
Marilah kita belajar menjadi seperti akar pohon. Akar itulah yang menjadikan pohon itu tumbuh, tegak dan hidup. Akan tetapi, dia tersembunyi di dalam tanah. Tidak terlihat oleh penduduk bumi.
Mari kita menata kembali niat-niat kita dalam beramal ibadah.Terlebih hari ini, ketika sekeliling kita mengajak untuk lupa. Renungkanlah, untuk apa kita diciptakan?.(*)
*penulis lepas tinggal di Perum Sumekar Kota Sumenep









