Standar TikTok: Bikin Self Love Atau Terjebak Obsesi?

Redaksi Nolesa

Minggu, 25 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Selvani Emylia Rati 

OPINI, NOLESA.COM – Self Love Sebagai Kunci Kebahagiaan

“Jatuh cinta pada diri sendiri adalah rahasia pertama menuju kebahagian” kata-kata dari Robert Morely. Self love itu sering dianggap sebagai kunci kebahagian, tetapi apakah setiap orang benar-benar tahu batas mencintai diri sendiri? atau perlahan nanti berubah menjadi obsesi? Baik obsesi terhadap diri sendiri maupun obsesi menjadi orang lain?.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaan ini sangatlah relevan di tengah kemajuan media sosial yang semakin beragam. Penggunaan media sosial di era sekarang memicu pergolakan emosi bagi penggunanya.

Self love bukan hanya tentang merasa baik tentang diri sendiri, tetapi juga tentang memahami, menerima kelemahan, dan kesalahan, serta ketidaksempurnaan yang dimiliki. Kebahagiaan sejati dimulai dari dalam diri kita, dan self-love adalah langkah pertama menuju pencapaian tersebut.

Standar TikTok yang Berisiko Obsesi

Pengguna TikTok di Indonesia sering terpapar konten yang mempromosikan self love, tetapi hal ini dapat berisiko menjadi obsesi ketika mereka membandingkan diri dengan standar yang ditampilkan di platform tersebut.

Hasil penelitian Muhtar dkk, (2023) mengatakan bahwa objek dalam penelitiannya memiliki dampak negatif ketika bermain TikTok. Pertama, banyak remaja mengikuti gaya konten yang memperlihatkan perbedaan kehidupan sosial dan ekonomi, sehingga dapat menjadikannya merasa insecure atau cemburu terhadap apa yang ditonton. Kedua, mereka menjadi terlalu kreatif demi video yang menarik untuk mendapatkan suka dan komentar sehingga tidak bisa membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak layak untuk dipertontonkan kepada publik.

Baca Juga :  Bupati Sumenep dan Komitmen Mengurangi Pernikahan Dini

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, terlihat bahwa beberapa pengguna TikTok tidak dapat memegang prinsip untuk tidak mudah goyah terhadap perkembangan di media sosial.

Self Love Bergantung Pada Validasi Eksternal

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Aisafitri & Kiayati (2020) menyatakan bahwa objek yang diteliti, yaitu beberapa mahasiswa di kota Depok memposting sesuatu yang ingin dilihat oleh orang lain.

Konten yang diposting menunjukkan sesuatu yang baik-baik saja, mereka tidak ingin menunjukkan kekurangannya, karena bagi mereka penilaian orang lain terhadap dirinya sangat penting. Hal tersebut akan memicu bentuk obsesi dengan diri sendiri yang muncul ketika mereka terlalu terfokus pada penampilan, pencapaian, atau gambaran diri yang dibangun berdasarkan standar yang tidak realistis.

We Are Social (2024) menyebutkan bahwa rata-rata pengguna menghabiskan 38 jam 26 menit per bulan untuk bermain TikTok. Durasi yang cukup lama atau menghabiskan berjam-jam di media sosial dapat digunakan untuk meraih jumlah suka, komentar, atau bahkan pengakuan dari orang lain.

Kejadian tersebut akan menciptakan ilusi bahwa cinta terhadap diri sendiri bergantung pada validasi eksternal, padahal seharusnya self love tumbuh dari dalam diri, dari rasa cukup dan penerimaan tanpa syarat.

Perbandingan Hidup yang Tak Ada Habisnya

Algoritma TikTok cenderung memperkuat konten viral, sehingga menciptakan tekanan untuk menyesuaikan diri dengan tren yang ada. Akibatnya, banyak orang terutama remaja, dapat mengalami penurunan kepercayaan diri, kecemasan, dan bahkan depresi.

Dove dalam Indonesia Beauty Confidence Report telah melakukan riset dan menemukan bahwa 54% wanita di dunia memiliki kepercayaan diri yang rendah. Dari data tersebut, sebesar 38% wanita Indonesia suka membandingkan dirinya dengan orang lain sehingga hal tersebut membuat indeks kepercayaan diri wanita Indonesia masuk kategori cukup rendah (Liputan6.com, 2018).

Baca Juga :  Menyusuri Keping-keping Perbudakan

Penelitian yang dilakukan Saputri (2023) mengatakan bahwa 62% remaja merasa lebih rendah diri setelah menggunakan TikTok, terutama setelah melihat gaya hidup atau pencapaian si pemilik konten. Dampak ini lebih terasa pada perempuan karena standar kecantikan sering menjadi sorotan.

Ketika wanita terus menerus membandingkan diri mereka dengan orang lain, secara tidak langsung itu merupakan obsesi untuk memenuhi standar kecantikan dan mereka cenderung mengabaikan kelebihan yang dimiliki.

Media Sosial Sebagai Gambaran Hidup yang Tak Realistis

Perkembangan zaman media sosial saat ini membuat seseorang akan dihadapkan dengan terjebak dalam perbandingan yang tidak ada habisnya. Kita melihat orang lain yang tampaknya hidup lebih sempurna, lebih sukses atau lebih bahagia.

Tetapi tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dengan mereka. Dr. Sarah Diefenbach, seorang profesor psikologi dari Ludwig-Maximilians, Universitat Munchen, menyatakan bahwa media sosial sering menampilkan gambaran hidup yang tidak realistis dan telah “dipoles”, seperti halnya pada konten TikTok.

Pernyataan professor psikologi tersebut menciptakan tekanan bagi individu untuk hidup sesuai dengan standar yang tidak mungkin dicapai. Hal ini bukan hanya merusak rasa percaya diri, tetapi juga mengalihkan fokus dari pencarian kebahagiaan yang datang dari dalam diri sendiri.

Obsesi ini mengarah pada perasaan tidak puas, karena selalu merasa tidak cukup meskipun telah berusaha keras. Ketika terinspirasi, seseorang akan merasa termotivasi untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri, tetapi ketika terobsesi, seseorang menjadi terjebak dalam perbandingan yang merugikan.

Baca Juga :  Pengalaman Ilmiah vs Pengalaman Spiritual

Obsesi ini sering kali membuat lupa, bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang unik dan kebahagiaan datang dari menghargai perjalanan diri sendiri, bukan mengikuti jejak orang lain.

Bersikap Kritis dalam Penggunaan TikTok

TikTok saat ini sebagai salah satu aplikasi media sosial yang paling popular telah mengubah cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan menilai diri sendiri. Di satu sisi, TikTok menawarkan ruang bagi individu untuk mengekspresikan diri dan merayakan self love.

Namun, di sisi lain, platform ini juga memperkuat standar-standar tentang gaya hidup, penampilan, percintaan, dan pencapaian yang terkadang tidak realistis, sehingga menciptakan tekanan sosial. Oleh karena itu, penting bagi pengguna TikTok untuk bersikap kritis terhadap konten yang mereka konsumsi.

Self love seharusnya tidak bergantung pada standar eksternal, tetapi lebih pada penerimaan dan penghargaan terhadap diri sendiri. Hal tersebut dapat diterapkan dengan memilih untuk mengikuti konten yang positif dan mendukung, serta menghindari perbandingan yang merugikan.

Dengan demikian, pengguna TikTok dapat memanfaatkan platform ini sebagai alat untuk memperkuat cinta diri, bukan terjebak dalam obsesi yang merusak.(*)

* Kelahiran Bantul, 21 Januari 2004, mahasiswi S1 Universitas Negeri Yogyakarta. Saya suka mengeksplor banyak hal meskipun harus menghadapi risiko terburuk, yaitu kegagalan. “Ambil risiko atau kehilangan kesempatan” merupakan motto hidup saya yang masih saya ikuti sampai saat ini. (ig: @selvaniemilia)

Berita Terkait

Puisi-puisi Nihalun Nada
Demi Konten, Etika Dikubur?
Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati
Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab
Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Bohong Akut
Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah
Eksaminasi Parate Eksekusi atas Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Analisis Perlindungan Hukum terhadap Debitur

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 15:24 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Jumat, 24 April 2026 - 08:07 WIB

Demi Konten, Etika Dikubur?

Selasa, 21 April 2026 - 21:04 WIB

Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati

Selasa, 21 April 2026 - 10:59 WIB

Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab

Senin, 13 April 2026 - 09:31 WIB

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Berita Terbaru

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya (Foto: Istimewa)

Nasional

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya

Selasa, 28 Apr 2026 - 21:26 WIB

(for NOLESA.COM)

Puisi

Puisi-puisi Nihalun Nada

Minggu, 26 Apr 2026 - 15:24 WIB