Islam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesia

Syarifah Isnaini

Rabu, 15 Juni 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Judul Buku   : Islam yang Saya Amati:     Perkembangan di Maroko dan Indonesia

Penulis          : Clifford Geertz

Penerbit        : Yayasan Ilmu Sosial

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tahun Terbit : 1982

Tebal              : 149 halaman


Buku Islam Observed atau dalam versi terjemahan Islam yang Saya Amati merupakan satu di antara beberapa karya Clifford Geertz yang berkenaan dengan Indonesia. Geertz sendiri merupakan antropolog kelahiran San Fransisco, Amerika Serikat pada tahun 1926. Ia mulai mempelajari keragaman budaya di Indonesia dengan melakukan penelitian pada tahun 1952 di Mojokuto (Pare-Kediri).

Pada tahun 1957, penelitian mengenai Mojokuto tersebut lantas menghantarkan Geertz pada perolehan gelar doktor dari Harvard’s Departement of Social Relations. Apa yang mengilhami Geertz untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam buku Islam Observed diakuinya sebagai praktik berkelanjutan terhadap studinya mengenai konsep dan teori agama. Geertz menyebut beberapa inspiratornya seperti Wilfred Cantwell Smith, Edward Shils, Clyde Kluckohn, Robert Bellah dan Talcott Parsons dan terutama Max Weber.

Pengamatan Islam yang dituangkan Geertz dalam buku ini mengambil latar di Indonesia dan Maroko sebagai dua tempat yang dianggapnya layak untuk diperbandingkan. Pendekatan antropologi digunakan dengan baik di mana sejak awal Geertz berpendapat bahwa agama merupakan produk dan bagian dari budaya.

Geertz menilai kesamaan afiliasi agama yang dimiliki keduanya sangat menarik di mana Indonesia dan Maroko dihuni mayoritas penduduk beragama Islam. Kesamaan agama tidak lantas menyamakan budaya Indonesia dan Maroko, bahkan Geertz menilai perbedaan budaya hampir dapat disamakan dengan jarak kedua negara tersebut yang masing-masing berada di ujung timur dan barat.

Geertz menggambarkan Islam di Indonesia dan Maroko dengan menggunakan istilah kontradiktif ‘sangat mirip tetapi berbeda’. Sejak awal, Geertz merumuskan tujuan penelitiannya untuk menginterpretasikan realitas sosial dan budaya secara empiris tanpa terbuai oleh hipotesis semata. Ia menyadari betul bahwa akan banyak sekali pihak yang meragukan hasil penelitiannya mengingat waktu penelitian terbatas dan mungkin kurang komprehensif.

Baca Juga :  Budaya Ekologis, Konflik, dan Misteri Kebun Cengkih

Respon skeptis tersebut disikapi Geertz dengan menyuguhkan data-data empiris melalui inspirasi teoritis yang dapat dinilai kevalidannya oleh para pembaca.

Untuk memulai ulasannya, hal pertama yang dilakukan Geertz adalah menjelaskan tentang Indonesia dan Maroko yang sama-sama pernah dikunjunginya. Selain menyoroti perbedaan budaya, ia menyoroti kondisi geografis yang dianggap Geertz sebagai cerminan kedua Negara.

Indonesia dengan kondisi iklim tropis dan dipenuhi dengan nuansa masyarakat hangat, ramai cair dalam interaksi dan menunjukkan ideologi Islam sinkretis. Sebaliknya,  keadaan geografis Maroko cenderung kering dengan masyarakat penuh ketegangan di samping mencerminkan budaya agama puritan.

Apa yang melatarbelakangi kondisi budaya Maroko salah satunya adalah kondisi alam yang menyulitkan kehidupan penduduk sehingga dibutuhkan usaha lebih untuk bertahan hidup. Selain itu, persentuhan dengan budaya militer sebagai dampak penaklukan pada abad ke-7 menjadikan kekakuan praktik sosial Maroko.

Tentu hal ini berbeda dengan Indonesia, Islam datang ke Indonesia dengan cara relatif damai serta penerimaan akulturatif terhadap budaya Hindu dan Budha pada saat itu.

Untuk memahamkan beberapa penyebab perbedaan antara Islam Indonesia dengan Maroko, pada bagian selanjutnya Geertz mendedah sebuah gaya yang mungkin tidak terpikirkan oleh pembaca. Ia menjelaskan corak agama Islam dengan menceritakan tokoh yang berbeda di antara kedua negara tersebut.

Adalah Sunan Kalijaga, seorang sosok penting yang mengenalkan Islam pada masyarakat Nusantara saat itu. Terlepas dari kebenaran keberadaan Sunan Kalijaga, Geertz mengungkap pengaruh signifikan dari dakwahnya bagi kemajuan spiritual Islam di Indonesia.


Pada titik balik perkembangan agama di kedua negara, Geertz mengulas tantangan Islam di Indonesia dan Maroko. Bahwa menurut Geertz, cobaan bagi agama Islam akan senantiasa lestari sepanjang peradaban Islam.


Sosok Sunan Kalijaga digambarkan Geertz sebagai pribadi tenang, penyabar dan memiliki ilmu kebatinan yang menjadikannya sosok berwibawa namun tegas sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Apa yang membedakan dengan gaya transmisi agama Islam di Maroko tergambar dalam sosok Abu ‘Ali Al-Hasan bin Mas’ud Al-Yusi atau biasa dikenal dengan Sidi Lalsen Lyusi.

Baca Juga :  Menumbangkan Kediktatoran dengan Iklan Lima Belas Menit

Ia merupakan sosok wali yang meyakini dirinya sebagai keturunan Nabi dan besar dalam suasana Islam Maroko yang terpecah ke dalam beberapa golongan sekte Marabout sebagai warisan dari Dinasti Murabithun.

Tentu sangat susah untuk menyamakan hasil pengenalan Islam dari dua sosok berbeda yakni Sunan Kalijaga dengan corak sinkretisnya dan Lyusi yang penuh semangat aktivisme, obsesif dan bahkan diakui Geertz sebagai sosok radikal.

Pada titik balik perkembangan agama di kedua negara, Geertz mengulas tantangan Islam di Indonesia dan Maroko. Bahwa menurut Geertz, cobaan bagi agama Islam akan senantiasa lestari sepanjang peradaban Islam.

Ia mencontohkan ideologi Marxisme yang hampir berseberangan dengan konsep Islam mulai masuk ke Indonesia dan dengan gamblang diterima oleh Presiden pertama, Soekarno. Fenomena ini menjadi cerminan bahwa agama akan senantiasa bergerak dari masa ke masa.

Pada bagian terakhir dari buku ini, Geertz menyuguhkan sebuah tantangan yang sebenarnya berasal dari umat Islam sendiri baik di Indonesia dan Maroko. Di Indonesia, hal yang mengancam keberagamaan bangsanya bersumber dari hegemoni penguasa yang dibahasakannya sebagai raja dalam masyarakat Jawa. Adapun masyarakat Islam Maroko harus bersiap dengan klaim kebenaran masing-masing suku Marabout.

Apa yang diungkap Geertz dalam buku Islam Observed tampaknya bukan data biasa. Penelitiannya turut mengamini penelitian beberapa kalangan tidak hanya dari orientalis akan tetapi ilmuan Islam sendiri seperti Ibnu Khaldun.

Dalam karyanya, Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan perbedaan sikap dan karakter sebuah bangsa turut dipengaruhi kondisi geografis yang melingkupi setiap masyarakat. Bahwa ada banyak tantangan dalam praktik keberagamaan Islam juga dibenarkan oleh Thomas H. Erikson, seiring dengan laju modernisasi maka akan ada banyak wajah tantangan yang dihadapi Muslim di sebuah negara.

Baca Juga :  Puisi-Puisi Farisi Aris

Geertz terbilang berhasil dalam merumuskan penelitiannya sebagaimana apa yang ia kehendaki sejak awal penelitian. Perihal agama merupakan produk budaya dan akan melahirkan ekspresi keberagamaan yang berbeda sesuai dengan budaya yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat.

Tampaknya, dapat dikatakan bahwa usaha Geertz dalam memperbandingkan sebuah realitas keagamaan hasilnya hampir sama dengan apa yang ditelitinya dalam buku The Religion of Java. Dikotomi kelompok abangan, santri dan priyayi berangkat dari satu agama yang sama akan tetapi melahirkan kelas yang berbeda sesuai dengan konteks sosial yang membentuk ketiga kelompok masyarakat tersebut.


Meskipun berbagai kritik datang dari beberapa kalangan yang menganggap agama sebagai realitas tabu untuk diteliti, Fazlur Rahman berdiri di pihak Geertz dengan mengatakan agama harus terbuka terhadap dunia penelitian.


Kendati mungkin bukan satu-satunya orang pertama yang meneliti agama sebagai bagian dari ilmu sosial, namun setidaknya Geertz telah menepis keengganan orang Eropa untuk meneliti agama sebagaimana diungkap oleh Daniel L. Pals.

Secara pribadi, dapat dikatakan relevansi penelitian Geertz yang dilakukan beberapa tahun silam ini tetap bertahan hingga hari ini. Upaya Geertz menjelaskan latar belakang corak keislaman Indonesia dengan Maroko memberikan data spesifik bahwa sebuah agama tidak serta-merta berdiri di dalam sebuah kekosongan budaya masyarakat.

Meskipun berbagai kritik datang dari beberapa kalangan yang menganggap agama sebagai realitas tabu untuk diteliti, Fazlur Rahman berdiri di pihak Geertz dengan mengatakan agama harus terbuka terhadap dunia penelitian.

 

Referensi:

  1. Ibnu Khaldun, Muqaddimah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1981).
  2. Thomas H. Erikson, Globalization Studies in Anthropology, (London: Pluto Press, 2003).
  3. Clifford Geertz, The Religion of Java, (United Sates: Uversity of Chicago Press, 1960)
  4. Daniel L. Pals (ed), Seven Theories of Religion, (New York: Oxford University Press, 1996).
  5. Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas, terj. Ahsin Muhammad, (Bandung: Pustaka, 1985).

Editor: Ahmad Farisi

Berita Terkait

Selebrasi Merdeka Berkarya
Balas Pati-Puisi Amanda Amalia Putri
HPN 2024 dan Tantangan Pers di Era Digital
Etika dan Politik
Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat
Presiden Makin Liar, Wapres Bungkam
Implementasi Kurikulum Merdeka dan Pendidikan Inklusif di Indonesia
Fatamorgana Elektabilitas Prabowo

Berita Terkait

Rabu, 28 Februari 2024 - 21:23 WIB

Selebrasi Merdeka Berkarya

Minggu, 11 Februari 2024 - 08:00 WIB

Balas Pati-Puisi Amanda Amalia Putri

Jumat, 9 Februari 2024 - 13:27 WIB

HPN 2024 dan Tantangan Pers di Era Digital

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:18 WIB

Etika dan Politik

Selasa, 6 Februari 2024 - 13:34 WIB

Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Senin, 5 Februari 2024 - 19:12 WIB

Presiden Makin Liar, Wapres Bungkam

Senin, 29 Januari 2024 - 15:44 WIB

Implementasi Kurikulum Merdeka dan Pendidikan Inklusif di Indonesia

Senin, 29 Januari 2024 - 14:27 WIB

Fatamorgana Elektabilitas Prabowo

Berita Terbaru

Opini

Selebrasi Merdeka Berkarya

Rabu, 28 Feb 2024 - 21:23 WIB

Daerah

Bupati Sumenep Berupaya Keras Tekan Harga Beras

Kamis, 22 Feb 2024 - 15:22 WIB